
Perasaan sedih dan kecewa sebagai pendukung setia persepakbolaan nasional
kembali saya rasakan ketika menyaksikan aksi pasukan timnas U-23 Indonesia
dalam laga Pra-Olimpiade Beijing 2008 menghadapi Maldives sore tadi. Belum
habis kekecewaan saya di bulan lalu ketika timnas senior Indonesia dipaksa
angkat koper pada fase penyisihan grup dari turnamen yg biasanya kita berlangganan
ke final selama 3 penyelenggaraan terakhir, AFF Cup atau dulu lebih dikenal
dengan piala Tiger, sekarang saya dipaksa mengurut dada lagi atas performa super buruk dari pasukan muda
Indonesia.
Memang hasil akhir adalah kemenangan bagi Indonesia 1-0, tetapi gol yg
diciptakan pada pertandingan sore tadi terjadi pada menit ke-94 atau menit
terakhir dari waktu injury time yg diberikan wasit. Sebelumnya selama 93 menit
saya menjadi saksi bagaimana anak-anak muda yg dipilih untuk berseragam
merah-putih membela negara ini sangat
tidak pantas memakai seragam itu. Mereka pantasnya bermain di (maaf) level
antar kampung saja.
Salah passing, tidak kuat mengejar bola, passing yg tanggung, penyelesaian
akhir bak seorang yg baru belajar bermain bola, koordinasi yg buruk antar lini,
ragu-ragu dalam bertindak atau mengumpan bola, tekel yg terlambat, penutupan
daerah yg lambat sehingga menyebabkan lawan bebas bergerak di kotak penalti
Indonesia, dan kebodohan - kebodohan lain yg biasa dilakukan negara yg baru
bisa bermain bola seperti terangkum dalam permainan Indonesia sore tadi.
Untung lawan yg dihadapi tidak kalah gobloknya, atau sama gobloknya dengan
timnas kita sehingga gawang kita aman dari kebobolan walaupun banyak sekali
peluang berbahaya yg dimiliki lawan, tapi untungnya penyelesaian yg sangat
amatir membuat Indonesia lepas dari kekalahan yg sangat amat memalukan.
Maldives bermain seperti itu wajar karena mereka adalah negara yg hanya
berpenduduk beberapa ratus ribu jiwa dan memang langganan hujan gol bagi
tim-tim lawan, saya bahkan sempat teringat beberapa tahun yg lalu, Iran kalau
tidak salah membukukan salah satu raihan kemenangan terbesar dalam sejarah persepakbolaan
dunia dengan membantai Maldives lebih dari 20 gol !
Gol Jajang di menit terakhir membuat semua warga Indonesia berlega dari
headline memalukan di media massa atau media elektronik, dan membuat sang
pencetak gol harus mengucapkan syukur kepada Tuhan YME karena dengan gol yg
dibuatnya itu berarti menghindarkan dia dari kecaman semua orang atas kegagalannya
menyelesaikan peluang 99% gol di depan gawang Maldives pada menit 88. Bayangkan
saja, bola yg berada di depan garis
gawang yg harusnya tinggal disentuh pelan saja karena posisi sangat bebas dan
kiper sudah terkecoh, bisa lepas dari kaki Jajang. Sangat menyedihkan untuk
ukuran striker masa depan Indonesia!
Atau bandingkan dengan yg satu ini, peluang Andik yg sudah berdiri bebas
melalui umpan dari Emannuel yg sangat terukur, harus dihentikan kiper Maldives
karena ketidakmampuan Andik mengejar
bola umpan yg sangat baik itu. Seperti-nya Andik sedang melaksanakan ibadah
puasa pada pertandingan itu karena terlihat loyo dan tidak mampu berlari.
Mengenaskan !!
Mengecewakan karena timnas U-23 Indonesia ini sudah dilatih secara keras di
Belanda oleh pelatih timnas U-23 Belanda, yg juga membawa Belanda juara piala
Eropa U-23, Fope de Haan, hasilnya ? Pembantaian di Asian Games, penampilan
super buruk di setiap laga persahabatan yg dijalani timnas U-23 di stadion
Gelora Bung Karno, dan puncaknya sore tadi. Untuk apa membuang uang banyak
untuk berlatih di Belanda jika hasilnya seperti timnas RT/RW yg biasa bermain
tarkam.
Yang saya takutkan hanya satu, dalam beberapa tahun kedepan, apakah saya harus membela timnas senior
Indonesia yg diisi oleh pasukan-pasukan muda yg baru saja saya tonton ini ? Kalo
iya, sungguh menyedihkan sekali, timnas muda kita sangat jauh tertinggal dengan
timnas negara-negara lain, bahkan negara tetangga. Bahkan timnas muda kita ini
sangat jauh kualitasnya dibandingkan timnas senior yg baru berlaga di piala AFF
dan akan berlaga di piala Asia bulan Juni nanti.
Yg diperlukan sebenarnya tidak sulit. Pemain yg berbakat, bisa bermain
secara tim, dengan skill dan teknik yg mumpuni, dan fisik yg oke. Tapi apakah
ada pemain dengan bakat seperti itu di Indonesia ? Banyak ! Hanya PSSI saja yg
selalu salah memilih. Moga-moga PSSI bisa tersadar dengan pertandingan tadi,
atau kembali menutup telinga dan membiarkan timnas kita hancur lebur seperti
ini ? Terserah mereka. Saya hanya bisa mendukung dan mendoakan yg terbaik bagi
timnas junior maupun senior kita.
Maju terus persepakbolaan Indonesia !
Kalo bukan kita, siapa lagi yg mendukung ?
Titis Sapto Raharjo
7 Februari 2007
18 : 33 PM