3 hari menjelang hajatan terbesar sepakbola Eropa, Euro 2008 yg untuk kali ini akan diadakan di dua negara, Austria dan Swiss. Mengingatkan saya kepada format piala dunia 2002, Jepang dan Korea, bahkan mengekor Asian Cup 2007 tahun lalu yg bertuan rumah 4 negara sekaligus.
Berbicara tentang hajatan akbar sepakbola, pasti berbicara juga tentang jutaan bahkan milyaran penggila sepakbola diseluruh dunia yg akan disibukkan oleh event empat tahunan sekali ini. Para pekerja kantoran pusing mengatur jam tidurnya agar urusan di kantor tetap fit sementara di rumah tidak mau kelewatan satupun pertandingan. Para businessman atau pengusaha harus pintar membagi waktunya agar urusan bisnis tidak tercampur dengan urusan sepakbola.. Para mahasiswa mulai mengatur jadwal agar tidak tertidur ketika diadakan kuliah pagi. Para adik-adik yg duduk di bangku sekolah ada yg senang ada yg merana. Yg sudah melaksanakan ujian bisa menjadikan Euro sebagai hiburan di kala liburan, sementara adik kelasnya, menggerutu karena harus merelakan kehilangan sebagian pertandingan karena harus belajar dan tidur demi ujian kenaikan kelas. Para pengganguran tentunya yg akan berbahagia karena bisa fokus menyaksikan turnamen ini secara utuh dari awal sampai final nanti. Para wanita, ibu-ibu, pacar-pacar, istri-istri yg tidak menyukai sepakbola tentunya harus rela pasangannya selingkuh selama sebulan ini.
Saya sebagai salah satu bagian dari lingkaran penggila sepakbola tentunya juga repot dan pusing setiap menjelang hajatan akbar sepakbola. Jika saya dikelompokkan dalam kelompok diatas pada saat bisa masuk dalam kelompok mana saja kecuali pelajar dan wanita. Pekerjaan kontraktor di perusahaan ayah saya lagi sepi order, pekerjaan di bidang musik masih bisa diatur waktunya, dan pekerjaan utama saya saat ini adalah menyelesaikan Skripsi. Sebenarnya skripsi saya sudah memasuki tahap akhir, tinggal diperlukan sentuhan akhir, revisi sedikit maka saya sudah siap maju sidang, masalahnya ya ini.. Euro 2008. Saya tidak akan nekad memaksakan sidang dikala turnamen akbar ini, karena sudah pasti tentunya saya tidak bisa konsen dan fokus, saya juga mempunyai sedikit sejarah yg kurang baik dalam bidang pendidikan di setiap turnamen akbar sepakbola. Berikut fakta-faktanya :
- Euro 2000 : Tidak terlalu berpengaruh, karena saya pada waktu itu masih SMU, dan seingat saya turnamen itu digelar pada saat saya liburan panjang.
- World Cup 2002 : Turnamen diadakan dikala saya mengikuti bimbingan belajar untuk persiapan SPMB, pada saat itu pertandingan diadakan siang,sore sampai malam hari. Karena itu saya sering bolos bimbingan belajar karena paginya ngantuk, setiap malam tidak pernah belajar untuk persiapan SPMB karena sibuk menonton dan mengikuti perkembangan world cup. Alhasil ketika mengikuti ujian SPMB saya seperti kekurangan amunisi, yg ada diingatan saya hanya dua gol Ronaldo di final, serunya Turki vs Korea Selatan di partai perebutan tempat ketiga dan sensasi Senengal di Korea-Jepang kala itu. Saya gagal masuk UI. Haha.
- Euro 2004 : Piala Eropa kedua saya yg berhasil saya ikuti dari awal sampai habis, dikala itu turnamen diadakan ketika saya mengikuti semester pendek atau padat. Saya mengambil dua mata kuliah. Dikarenakan pertandingan diadakan dini hari, saya jadi sering bolos kuliah pada paginya, untungnya bisa diabsenin jadi gak masalah, tapi tetap saja ujian nge-blank. Alhasil satu matakuliah dapet C (ini hoki karena dosennya dah pasti lulus kalo masuk terus), yg satu lagi gak lulus, dapet E. Hahaha.
- World Cup 2006 : Turnamen diadakan lagi-lagi ketika saya mengikuti Semester Pendek. Walaupun saya tahu saya akan tidak fokus, saya tetap nekad ikut SP, dan gilanya lagi saya mengambil 3 matakuliah yg luar biasanya susah. Dalam hati saya, bisalah saya sesuaikan waktu nonton dan belajar untuk kali ini, gak terlalu excited ini sama WC 2006. Hasilnya ? Dugaan saya SALAH BESAR. Saya mengikuti full turnamen dari awal sampai habis. Dan nasib 3 matakuliah itu ? Hancur lebur. Saya kembali membakar uang orangtua. Nilai D-E-E menghiasi KHS saya, bahkan untuk satu matakuliah saya tidak mengikuti ujian karena ngantuk berat sehabis nonton babak perempatfinal.
- Asian Cup 2007 : Yg ini paling istimewa, karena saya merasakan saya mendapat balasan yg setimpal atas kesetiaan saya mengorbankan apa saja demi sepakbola di tahun-tahun sebelumnya. Saya diterima kerja menjadi volunteer di turnamen ini. WOW ! Bekerja di sebuah turnamen yg sekelas dengan European Cup adalah mimpi yg menjadi kenyataan. Getting paid for watching football. Memang bekerja dalam bidang yg kita senangi adalah hal paling membahagiakan di dunia, saya menikmati setiap menit bekerja dalam event Asian Cup ini. Tapi adakah yg dikorbankan ? Ternyata ada ! Hahaha. Saya harus melewatkan satu ujian akhir yg ujung2nya saya bakal dapet E karena saya karena harus mempersiapkan pertandingan Indonesia vs Bahrain. Apakah saya menyesal ? Tidak sama sekali, karena jikalau saya datang pas ujian, saya toh tidak akan konsen dan sudah pasti blank dalam pengerjaannya, karena selain tidak belajar sama sekali, pikiran saya pasti melayang ke Senayan membayangkan atmosfir disana. Hahaha.
- Euro 2008 : Demi menghindari hal-hal yg tidak diinginkan, tampaknya saya harus menunda sidang saya sampai selesai turnamen ini, agar semuanya berjalan dengan lancar, karena kalo saya nekad mau daftar sidang untuk bulan ini atau bulan Juli awal. Hmmm.. Saya ngeri membayangkannya. Hahaha. Karena pastilah saya tidak bisa fokus (itu udah jadi harga mati ! Haha). Jadi, selama EURO ini diharapkan saya bisa menyelesaikan skripsi saya, kemudian diacc, dan ketika selesai Euro baru saya mendaftar sidang, mudah-mudahan semuanya berjalan lancar. Doakan saya ya teman-teman. Hehehe.
Itulah mengapa saya selalu mengatakan bahwa TURNAMEN SEPAKBOLA ITU RACUN ! Dibilang racun karena kalo saya biarkan terus menerus tanpa kontrol bisa membahayakan karir saya. Karena sepakbola telah mendarah daging dalam kehidupan saya, merupakan salah satu elemen terpenting dalam hidup. Bukan menjadi racun kecuali jika dalam beberapa tahun mendatang saya bisa bekerja dalam bidang persepakbolaan atau istilahnya getting paid for watching football. Tapi jika tidak, maka setiap turnamen pasti saya akan menulis jurnal seperti ini. Jika saya sudah bekerja secara tetap nanti, mudah-mudahan bos saya di World Cup 2010 adalah penggila sepakbola juga, jika tidak ? Repotlah saya. Hahaha.