Titis Sapto's posts with tag: movies

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag movies
ReviewReviewReviewReviewReviewThe Dark Knight (2008)Jul 18, '08 10:17 AM
for everyone
Category:Movies
Genre: Action & Adventure
What term do you usually use when you saw a movie that goes well from the beginning till the end, all cast were superb, special effects magnificent, the storyline near perfect and plus all of that beyond your expectation? The term I usually use is MASTERPIECE!

Tidak puas rasanya untuk film sekaliber TDK ditonton hanya sekali saja, film ini minimal harus ditonton 3x baru saya bisa dengan jelas menjabarkan semua detil yang terdapat dalam waktu 2,5 jam itu. TDK menggambarkan A magical movie experience, walaupun filmnya sangat Dark dan Creepy. Benar-benar kita dibuat tegang dan ketakutan setengah mati oleh jalan ceritanya, bahkan sampai membuat cemilan yang saya bawa lupa saya makan karena saking serunya menyimak ceritanya. Membius dari awal hingga akhir.

Tidak biasanya saya speechless seperti ini terhadap sebuah film dan The Dark Knight mampu membuat saya seperti ini.

Sinopsis :
Bruce Wayne/Batman (Christian Bale) continues to eliminate crime in Gotham City with the help of Lt. Jim Gordon (Gary Oldman) and District Attorney Harvey Dent (Aaron Eckhart). The Dark Knight wants to finally get rid of organized crime for good and be free of their corruption. Batman soon finds that a new psychopathic mastermind known as the Joker (Heath Ledger) has taken over organized crime. After the fall of Carmine Falcone, the remaining crime bosses try to pick up the pieces. However, the Joker is killing them off one by one. The Joker's plan is to terrify the citizens and throw the city into chaos, and then kill Batman. Batman takes the fight with the Joker personal, which makes him confront his own beliefs. The Joker is the most dangerous criminal that Batman has encountered, and he will need all his strength and vigilance to defeat him.



JOKER playing as a JOKER. He's not Heath Ledger.
Heath begitu sempurna memerankan tokoh penjahat nomor satu bagi Batman. Setiap scene yang dipenuhi dengannya begitu mencekam. Melihat kebrutalannya dalam menghabisi setiap korbannya, tertawaan tiada akhir, quote dan cerita yang begitu membekas. Joker is a legend.



Bruce Wayne a.k.a Batman still superb.
Dengan bantuan Lucius dan Alfred, Batman mampu menjalankan tugasnya dengan sempurna, ditambah kemampuan kostumnya yang telah dimodifikasi dan BatPod yang tiba-tiba menjadi penyelamat Batman dikala Batmobile harus turun mesin.



Harvey Dent a.k.a Two Face playing very superb.
Sebagai sebuah jaksa wilayah, Harvey begitu kuat memegang prinsipnya, dengan kekuasaannya pula banyak penjahat yang berhasil diringkus, namun kecelakaan fatal dan kehilangan yang hebat membuatnya kehilangan akal dan menjadikannya salah satu villain di film ini, Two Face. Sosok pergantian Harvey Dent menjadi Two Face benar-benar diperlihatkan sebagai Two Face yang sebenarnya. You'll be amazed.



All thumbs up for Christopher Nolan!
Kemampuan dari sutradara muda ini tidak usah diragukan lagi. Memento, Insomnia, Batman Begins, The Prestige dan sekarang, The Dark Knight. Dia tentunya akan bergabung dengan jajaran sutradara legenda di Hollywood.

Pemeran pembantu seperti Lucius Fox (Morgan Freeman), Rachel Dawes (Maggie Gyllenhaal), Lt. James Gordon (Gary Oldman), Alfred (Michael Caine) benar-benar maksimal. Tidak ada miscast, semuanya bermain sebagaimana porsi-nya masing-masing. Superb!

Last but not least, I'm Thrilled!!!

Titis Sapto Raharjo
18 July 2008
21:16 PM



VideoUpcoming Indonesian Movie - KARMAJul 11, '08 3:48 PM
for everyone
Setelah menonton trailer dari film horror lokal terbaru yang akan dirilis bulan Juli ini, KARMA, rasa optimis membumbung di dalam hati saya, sepertinya film ini akan menjadi suatu horror yang berkelas diantara horror-horror sampah Indonesia lainnya.

Melihat dari deretan pemain, cerita yang disajikan dan tema yang diangkat yaitu dari kebudayaan Cina, tampaknya film ini bisa bersaing dengan horror-horror Thailand, Jepang, bahkan dunia. Kita lihat saja nanti bagaimana hasilnya.

Mudah-mudahan saja ekspetasi saya tidak terlalu tinggi setelah melihat trailer yang bermutu ini.



Credo Pictures mempersembahkan:

KARMA (2008)

Official Homepage : www.credopictures.com/karma

Genre : Horor
Bahasa : Bahasa Indonesia
Produksi : Credo Pictures
Tahun Produksi : 2007
Periode Release : Juli 2008
Durasi : 90 menit
Format : 35mm Film
Target Release Date : 24 Juli 2008

Shooting Day : 20 days
Shooting Format : Panasonic Varicam High-Definition
Post Production : Digital Arts Pro
Recording – Mixing : LightHouse

Sinopsis :

KARMA’ mengisahkan tentang Keluarga Guan yang aneh dan misterius. Istri dari keturunan Thiong Guan (HIM Damsyik) selalu meninggal – setelah melahirkan anak laki-laki satu-satunya, Philip (Henky Solaiman) dan berikutnya setelah melahirkan anak perempuan, dimana kedua istri dan anak perempuannya meninggal. Phillip-pun mengalami nasib yang sama. Istri pertamanya meninggal setelah melahirkan anak laki-laki yang pertama, Martin (Verdi Solaiman) dan istri keduanya meninggal setelah melahirkan Armand (Joe Taslim), anak laki-lakinya yang kedua.

Thiong Guan melarang dan menekan keturunannya agar tidak berhubungan lagi dengan perempuan. Armand menolak percaya kepada tahayul dan kutukan yang menimpa keluarganya dan memutuskan keluar dari rumah Guan dan studi ke Australia, dimana Martin tetap tinggal di Indonesia dan hidup tertekan oleh kakeknya.

Di Australia Armand bertemu Sandra (Dominique). Mereka jatuh cinta. Sandra hamil di luar nikah sehingga ia diusir oleh keluarganya. Armand mengajak Sandra pulang ke Indonesia dan menikah. Mereka harus tinggal sementara di rumah keluarga Guan sampai Armand dapat memulihkan bisnis keluarganya kembali.

Kedatangan Armand dan Sandra yang tengah hamil disambut dengan lemparan gelas oleh calon kakek mertuanya. Berlanjut dengan kejadian -kejadian aneh muncul sejak malam pertama Sandra tinggal di rumah keluarga calon mertuanya itu. Suara gemerincing gelang kaki yang membuat bulu kuduknya berdiri di tengah malam, penampakan-penampakan sosok wanita berpakaian Cina kuno dan suara-suara yang menyuruhnya pergi dari rumah itu terus menerus menterornya.

Dari omongan-omongan pembantu dan orang-orang yang pernah berhubungan dengan keluarga Guan akhirnya menyadarkan Sandra bahwa setiap perempuan yang masuk dalam keluarga Guan pasti celaka. Namun karena cintanya pada Armand dan anak yang dikandungnya, Sandra pun bersikeras untuk tetap tinggal dan mencari cara untuk menghentikan karma yang ada dalam keluarga Guan.



Import.flv (4.4 MB)

ReviewReviewReviewReviewLoVe (2008)Jul 11, '08 2:57 PM
for everyone
Category:Movies
Genre: Romance
Sebenarnya sudah cukup lama pertama kali saya menonton film ini, tepatnya tanggal 1 Februari 2008 lalu. Saya bahkan diberi kehormatan untuk menonton premiere seluruh Indonesia bagi rekan blogger dan wartawan di studio premiere EX, kebetulan saat itu saya diundang oleh Ichwan Persada, seseorang yang bekerja sebagai publicists di film perdana karya Kabir Bathia ini.

Tugas saya ketika selesai menonton premiere film ini adalah mereviewnya, tetapi pada saat first viewing banyak detil-detil yang terlewatkan sehingga agak sulit untuk saya menulisnya dengan padat, ditambah kesibukan yang menggunung sehingga saya semakin melupakan tugas saya itu. Nah kebetulan pada bulan ini, VCD LoVe sudah beredar di pasaran, pucuk dicinta ulam pun tiba. Saya membeli VCD-nya lalu menontonnya kembali malam tadi. Detil-detil yang hilang disaat menonton pertama kali ini tersampaikan dengan baik, ternyata memang butuh dua kali menonton film perdana karya sutradara Kabir Bathia ini untuk saya bisa mereview-nya.

Sesuai dengan judulnya, LoVe bercerita tentang Cinta. Cinta antara dua insan manusia. Namun bukan satu pasangan, melainkan 5 pasangan manusia. LoVe mempunyai format seperti Crash dan Love Actually, dimana kita akan melihat 5 cerita yang berbeda namun kesemuanya mempunyai satu benang merah, dimana dalam masing-masing karakter dalam satu cerita akan bertemu secara tidak langsung maupun langsung dengan masing-masing karakter di cerita yang lainnya, tentunya ada yang saling berkaitan, ada pula yang tidak berkaitan. Satu benang merah dalam 5 cerita itu adalah CINTA.

5 kisah cinta yang mampu membuat kita akan tersenyum, sedih, tertawa, bahagia, menangis, terharu, marah, kesal, simpati, antipati, gregetan, dan semua hal yang biasa kita alami dalam kehidupan sehari-hari.

Kisah cinta pertama mengisahkan Rama (Fauzi Badilla), lelaki sederhana yang mempunyai kebiasaan unik mengumpulkan kartu undangan namun mempunyai kisah pahit tentang cinta, ia dipertemukan oleh Iin (Acha Septiasa), gadis lugu asal Sukabumi yang datang ke Jakarta untuk mencari pacarnya yang telah mengkhianati-nya untuk perempuan lain. Kesamaan nasiblah yang mempersatukan mereka berdua.



Kisah cinta kedua mengisahkan Lestari (Widyawati) yang mempunyai sebuah restoran, dipertemukan dengan pak guru Nugroho (alm. Sophan Sophiaan) disaat usia mereka yang tidak muda lagi. Lestari dengan kesabaran dan kasih sayangnya menerima keadaan Nugroho yang mempunyai penyakit Alzheimer, penyakit yang membuatnya selalu lupa dengan apa yang diperbuatnya di hari kmarin, bahkan Lestari-pun tidak ia kenali ketika ia bertemu lagi. Namun Lestari terus menerus berusaha agar Nugroho bisa mengingatnya di setiap harinya.

Kisah cinta ketiga mengisahkan Gilang (Surya Saputra) dengan Miranda (Wulan Guritno), pasangan muda yang mempunyai anak pengidap autis akut, Icha. Miranda yang ternyata tidak siap dengan kehidupan pernikahan ditambah mempunyai anak yang tidak normal melakukan perselingkuhan dengan teman kantornya. Pernikahan dan kehidupan mereka hancur. Tetapi berkat Icha jugalah, kebencian diantara mereka bisa diganti dengan cinta.

Kisah cinta keempat mengisahkan Restu (Irwansyah), seorang mahasiswa yang menjalani kehidupannya dengan santai dan riang, sampai pada satu ketika ia jatuh cinta pada pandangan pertama kepada Dinda (Laudya Cyntia Bella), wanita yang ia temui di bus Trans Jakarta. Kegigihan Restu mengejar cinta Dinda harus dibayar oleh kenyataan bahwa Dinda mempunyai penyakit serius yang bisa memisahkan cinta mereka selamanya.



Kisah cinta kelima mengisahkan Tere (Luna Maya), seorang penulis muda wanita yang jatuh cinta dengan Awin (Darius Sinartya), seorang karyawan sebuah toko buku yang mempunyai bakat menulis yang terpendam. Tere yang ingin membantu Awin mengembangkan bakat menulisnya sekaligus mencurahkan rasa cintanya dihalangi oleh sikap Awin yang tidak siap menerima perubahan baru dalam hidupnya. Ketika pada akhirnya Awin tersadar kalau sikapnya salah, hanyalah kekuatan cinta yang bisa merubah segalanya.

Menonton LoVe membuka wacana baru dalam perfilman nasional. Jika pada saat-saat ini kita banyak dijejali oleh komedi selangkangan, kisah cinta yang murahan, dan horror yang kehabisan ide, LoVe menjadi sebuah tontonan yang menyegarkan bagi penonton lokal. Walau dalam segi tema maupun cerita tidak bisa dibilang original, tetapi penyampaian cerita dalam film ini sangat mengena bagi siapapun yang menontonnya.



Kisah cinta yang diangkat, soundtrack yang sangat tepat untuk setiap adegan, puisi-puisi yang indah, susasana kota Jakarta dari kalangan bawah, menengah sampai atas terangkum lengkap dalam film berdurasi 120 menit ini. Tema cinta yang diketengahkan LoVe akan selalu menyadarkan kita bahwa cinta memang selalu menyertai kita setiap detik, setiap menit, setiap jam, setiap hari dalam rongga-rongga kehidupan. Love is all around.

Sebuah film yang tepat jika kita masih mempercayai sebuah hal kecil bernama CINTA.

Titis Sapto Raharjo
12 Juli 2008
1:38 AM



ReviewReviewReviewReviewWanted (2008)Jul 11, '08 5:57 AM
for everyone
Category:Movies
Genre: Action & Adventure
Timur Bekmambetov goes to Hollywood, and turns out GREAT! Full pack of action, comedy, twist, stunning visual effects, and last but not least, pure entertainment.

Wanted bercerita tentang Wesley (James McAvoy), seorang pekerja kantoran yang selalu dihinggapi depresi berat baik dalam pekerjaannya maupun kehidupan pribadi-nya. Ditekan terus menerus oleh bosnya, mempunyai sahabat baik yang ternyata berselingkuh dengan pacarnya dan tinggal di apartemen yang penuh kebisingan karena bersebelahan dengan rel kereta api. Dia menggangap dirinya total loser sampai pada akhirnya ada rahasia terkuak bahwa Wesley bukanlah manusia biasa, dia adalah keturunan seorang pembunuh super yang disegani dalam grup The Fraternity. Adalah Fox (Angelina Jolie), seorang pembunuh wanita yang mengajak Wesley bergabung ke dalam The Fraternity pimpinan Sloan (Morgan Freeman), Wesley diberi tugas cukup berat, yaitu membunuh Cross, pembunuh yang mengakibatkan ayah dari Wesley tewas.

Cross diburu oleh The Fraternity karena dianggap judas, keluar dari grup itu dan mulai melakukan aksi pembunuhan terhadap anggota Fratenity satu persatu. Wesley yang tidak terlatih sama sekali menjadi pembunuh mulai digojlok di markas Fraternity. Sampai pada akhirnya Wesley menjadi seorang pembunuh handal dan siap menghadapi duel melawan Cross, ternyata ada satu rahasia besar lagi yang terkuak dan mengejutkan Wesley. Apakah itu? You better watch it for yourself. Suatu twist yang menurut saya agak mengagetkan dan disimpan rapi sampai akhir film.



Menonton Wanted tidak perlu dibawa serius, siapkanlah otak anak-anak anda ketika memasuki bioskop, dijamin sekeluarnya dari bioskop anda akan terpuaskan menonton film penuh aksi ini. Kesampingkanlah anggapan bahwa banyak sekali adegan yang tidak masuk akal dan nalar manusia, tontonlah layaknya film Superhero pada umumnya. Fun, entertaining and mind pleasure.



I WANTED for more!

Titis Sapto Raharjo
11 Juli 2008
16:33 PM



9 hari jelang pemutaran film yang tampaknya akan menjadi salah satu film TERBAIK SEPANJANG MASA, The Dark Knight. I Can't Wait! Banyak kritikus yang sudah menghadiri pemutaran perdana film ini mengatakan bahwa The Dark Knight pantas disejajarkan dengan The Godfather dan Lord of The Rings.

Salah satunya adalah Slahshfilm.com yang sudah membuat jurnal 10 Reasons Why I Loved The Dark Knight.

Bagi yang tidak mau terspoiler sama sekali, silahkan berhenti membaca sampai sini. Tapi kalau anda penasaran, silahkan dilanjutkan, menurut saya jurnal ini semakin membuat kita tidak sabar menonton filmnya, dan tentu saja membuat ekspetasi 100x lebih tinggi dibandingkan ekpestasi awal.

Berikut jurnalnya :


I have been given the go ahead to review The Dark Knight, but this is the type of film that I need to see at least two or three times before attempting such a task. The film is so very expansive, so incredibly epic. I decided that instead of a full review, I will just share my first impressions. But lets first talk expectations. Going into 2008, I was looking forward to only a few films, The Dark Knight being one of them. As you probably already know, WALL-E was at the top of my list, and Pixar’s latest didn’t disappoint. I was very sure that WALL-E would end up being my favorite film of the year, and it is… errr WAS. That is until I saw The Dark Knight. I screened the film on Saturday night in Los Angeles, and now that I’ve had a few days to think about the film, I thought I would share my ten spoiler-free reasons why I believe that The Dark Knight is a masterpiece - an almost flawless comic book movie adaptation.

1. The Movie is Epic - The Dark Knight is not just a superhero movie. It is the first comic book adaptation to transcend the genre. Imagine one of the greatest crime thrillers of all time which just happens to have a guy who dresses in a bat costume and fights crime. Think Godfather 2 or Heat, with a insane terrorist who paints his face like a clown and goes around killing random people. It’s expansive in feel and tone. It’s the type of film which you make a point to refer to as a “film” instead of a “movie”.

2. Bigger, Better, Longer - I’ll admit that I wasn’t completely blown away by Batman Begins. Sure, it was the best Batman film to date, incorporating darker themes and a sense of realism that the franchise had never seen before. But Batman Begins is also not without its problems. I think even hardcore fans would agree that the film suffers from third act problems. The Dark Knight is bigger and better in every single way. The film is 152 minutes (two hours and thirty two minutes) long, and every second is gripping. Does it feel long? Yeah. But at the same time I wouldn’t have removed a thing. Every single second is necessary to tell this story. Nolan even keeps some plot developments off screen which resonate in various scenes throughout the film.

3. Heath Ledger - Some friends have expressed concern that the death of Heath Ledger will taint their Dark Knight viewing experience. It doesn’t, and here is why - Heath is amazing. From the first second he steps on screen you will forget that their is an actor behind the make-up. Heath doesn’t play The Joker, he IS the Joker. You will believe that a psychopath wearing clown makeup is terrorizing a whole city. The performance is Oscar worthy. What Anthony Hopkins did for Hannibal Lector, Ledger does for The Joker.

4. Two-Face - At the core this movie is not about Batman, or even The Joker, but instead about Harvey Dent, and his transformation into Two-face. In a way the story is almost a Shakespearean tragedy of a man who goes bad. The screenwriters play against the established conventions of Two-face’s origin story to give you something new, refreshing, and ultimately more authentic than the story presented in the comic books. You will believe that a hero becomes the villain. And you might also be shocked at how long the two-face character appears on screen. It’s not just a tease - you will get everything! His computer generated make-up is so gruesome and realistic looking, that I’m shocked the film was able to get a PG-13 rating.

5. The Empire Strikes Back - The Dark Knight is The Empire Strikes Back of comic book movies. It is dark, bleak, and realistic. Kids looking for a fun superhero movie need to look elsewhere. This is a multi-layered, authentic crime tale. There is more than one casualty, and it doesn’t exactly end on a high note. Fans will eat the ending up. After sitting in the theater for two and a half hours, it will leave you wanting more.

6. IMAX - If you don’t see this movie in IMAX than you haven’t seen the movie. A few of the action sequences and many of the establishing shots throughout the film were shot using IMAX cameras. The result is breathtaking. There is a sequence where Batman leaps off the top of a building (you’ve probably seen it in the trailers) and the camera pushes in. It’s so vivid and high resolution that it almost felt like it was part of one of those motion controlled theme park rides. Going into the screening, I thought the IMAX thing was probably more gimmick than anything else. Previous IMAX presentations involved up-converting the 35mm film image to fit on the IMAX screen. The footage shot with the IMAX camera is amazing. Even if you’ve seen a traditional IMAX movie in the past, you will be blown away by seeing a Hollywood action film on the big big screen. It makes you wonder why more Hollywood productions haven’t begun incorporating the IMAX camera. I wouldn’t be surprised if the inevitable third Batman movie wasn’t shot completely shot on IMAX cameras.

7. Gotham City - The extensive on location filming in Chicago adds to the authenticity of Gotham City. There is never a moment that you feel like you’re watching a bunch of actors on a Hollywood soundstage.

8. Characters - Every character that appears on screen has a history. Even when Nolan doesn’t show us this backstory - we see it. Even a corrupt cop that has two lines of dialogue has an extensive past, at least I’m convinced they do. The world is so full of rich three dimensional characters, some of which only appear on screen for brief moments. And some of the characters do have backstories which were provided in the extensive viral marketing campaigns. If you participated in the alternative reality game online, than you will get more out of the film as a whole.

9. The Bat-Pod - You will love how the Bat Pod is introduced in the film.

10. Nontraditional - The screenplay is both multi-layered and nontraditional. I was caught completely off guard at the many wonderful choices that Nolan and Goyer made in the script. You will wonder how they got Warner Bros to sign off on the screenplay, and I mean this in a good way. Characters that you expect to die might survive, and characters you expect to live will meet their ultimate demise. Even Two-Face’s origin is not exactly as you expect. That said, I advise you to stay as far away from spoilers as you can, because this is a film you want to experience for yourself in a packed IMAX theater on opening night.

To me, The Dark Knight is an almost flawless cinematic experience. Is The Dark Knight one of the best films of all time? No. Where does it fit in my top 100? I’ll have to digest it a couple more times before my mind finds a suitable placement. Rewatchability is an important factor to me. While I do think this film will hold up to multiple viewings, I’m not sure that the expansive IMAX sequences (which are part of the reason why I loved this film) will translate in a home movie viewing environment.

I do believe that The Dark Knight is the best comic book adaptation to date. For me it takes over the spot held by Spider-Man 2. For others it might replace Superman: The Movie, X-Men 2 or The Incredibles. And who knows, some people might be disappointed. Those expecting a fun movie filled with hope might come out sadly disappointed. I’m also not sure this film will play for younger audiences. And I’m not even going to pretend to know what women might think of it. I can only tell you my thoughts. I can’t wait for you guys to see the film so that we can have a discussion.



ReviewReviewReviewReviewReviewAcross The Universe (2007)Jul 7, '08 1:19 AM
for everyone
Category:Movies
Genre: Other
As a hardcore Beatles fans, I'm very satisfied! From beginning to end the film takes you on a psychedelic beatle ride that grips you by the ears, the heart and the soul and never lets go. Across the Universe is a love story and musical with creative interpretations of Beatles classics. No one can mix theater with film like Julie Taymor. An incredible experience!

List of Beatles songs in this movie :
1. "Girl"
2. "Hold Me Tight"
3. "All My Loving"
4. "I Want To Hold Your Hand"
5. "With A Little Help From My Friends"
6. "It Won't Be Long"
7. "I've Just Seen A Face"
8. "Let It Be"
9. "Come Together"
10. "Why Don't We Do It In The Road?"
11. "If I Fell"
12. "I Want You (She's So Heavy)"
13. "Dear Prudence"
14. "Flying"
15. "Blue Jay Way"
16. "I Am The Walrus"
17. "Being For The Benefit Of Mr. Kite!"
18. "Because"
19. "Something"
20. "Oh! Darling"
21. "Strawberry Fields Forever"
22. "Revolution"
23. "While My Guitar Gently Weeps"
24. "Across the Universe"
25. "Helter Skelter"
26. "And I Love Her"
27. "Happiness Is A Warm Gun"
28. "A Day In The Life"
29. "Blackbird"
30. "Hey Jude"
31. "Don't Let Me Down"
32. "All You Need Is Love"
33. "Lucy In The Sky With Diamonds"

I just cannot write a long review about this movie. Just watch it for yourself. I guarantee, you're gonna sing a lot during the movie. One of the best movie I've ever seen.



If you're a Beatles fans, this movie is a MUST-SEE!
If you're not a fans, then this movie will make you join the club, the Beatles Hardcore fans.

Close your eyes and I'll kiss you,
Tomorrow I'll miss you;
Remember I'll always be true.
And then while I'm away,
I'll write home ev'ry day,
And I'll send all my loving to you.



Titis Sapto Raharjo
7 Juli 2007
12:24 PM



ddd
dThumbnaild
ddd
Mungkin untuk orang yang kerjaannya rajin ke bioskop dan Hollywood minded hanya akrab dengan film-film Pixar seperti Finding Nemo, The Incredibles Monster Inc., Toy Story dan karya terbaru mereka, Wall-E. Jauh sebelum Pixar merajai animasi Hollywood, dahulu kita disuguhkan oleh film animasi buatan Disney Studio. Seperti kita tahu sendiri sekarang Pixar sudah dibeli Disney, dan Pixar-lah yang sekarang membawa nama harum animasi Hollywood. Tapi apakah mereka studio animasi terbaik di dunia? Tidak juga.

Setelah melakukan survey (maksudnya tanya-tanya) kepada banyak orang, kebanyakan orang hanya tahu tentang Pixar dan Disney, tapi sama sekali buta dengan Studio Ghibli, padahal Studio itu sudah sangat terkenal dari tahun 70an, bahkan dari letak geografis, Studio itu dekat dengan negara kita (Jepang) dibandingkan Disney atau Pixar. Walau Ghibli gaungnya tidak seheboh Pixar atau Disney merupakan salah satu studio animasi terbaik di dunia. Hampir semua film-filmnya merupakan Masterpiece, dari segala aspek. Spirited Away, Princess Mononoke, How's Moving Castle, My Neighbor Totoro, Kiki's Delivery Service merupakan karya emas dari Hayao Miyazaki, bapak animasi Jepang yang karyanya sering dibanding-bandingkan dengan Walt Disney, bapak animasi Amerika. Belum lagi jika menyinggung Grave of the Fireflies, sebuah film animasi yang sangat menyentuh hati, itu adalah karya dari studio Jepang ini.

Maka, jika kedua kubu ini diadu, siapakah yang akan memenangkan battle of animation studio? Tentunya semua itu tergantung dari persepektif masing-masing orang.

Jika saya disuruh memilih mana yang paling terbaik, maka saya akan memilih Studio Ghibli, walaupun saya sangat sangat mengagumi film buatan Pixar. Entah kenapa setiap menonton film karya Ghibli, rasanya saya merasa ada didalam film tersebut. Hehe. Sangat menyenangkan menikmati petualangan-petualangan yang tertuang dalam film buatan Studio Ghibli.

Beyond Imagination.

ReviewReviewReviewReviewReviewIn Bruges (2008)Jun 24, '08 5:17 PM
for everyone
Category:Movies
Genre: Foreign
By far, the best movie of 2008! This movie has the entire requirement to become one of best movie in decade. Amazing plot, great acting, brilliant script, smart dialogue, hilarious yet tragic, dark comedy, very good drama, lots of swearing and last but not least, capture beautiful city of Bruges.

In Bruges menceritakan tentang sepak terjang dua pembunuh bayaran (Ken & Ray) yg dikirim oleh bos-nya ke Bruges untuk menjalankan suatu misi. Sebelumnya mereka telah berhasil menjalankan tugasnya yaitu membunuh seorang pendeta. Ray yg tidak terlalu senang dengan kota Bruges terus mengeluh kepada Ken untuk segera cepat pergi dari kota itu. Ken yg usianya lebih tua terus membujuk Ray agar tetap disitu hingga mendapat tugas dari bos-nya, Harry. Bujukan Ken berhasil, apalagi ketika Ray berkenalan dengan seorang wanita penduduk lokal, Chloe dan seorang bintang film asal Amerika yg kerdil, Jimmy. Dengan adanya mereka, Ray menjadi sangat betah di Bruges.

Permasalahan timbul ketika Ray terus dihantui masa lalu-nya pada sepanjang film. Potongan-potongan peristiwa yg membuat Ray bersalah terus muncul di kepala. Masalah mulai bertambah ketika Harry telah menelpon dan memberi suatu misi kepada Ken tanpa Ray boleh ketahui. Konflik batin berkecamuk dalam hati Ken, apakah ia harus menjalankan misi itu atau tidak, karena misi itu secara tidak langsung melibatkan Ray tanpa dia boleh tahu. Konflik itu semakin membesar hingga melibatkan Harry, sang bos, yg tadinya hanya memerintah lewat telpon akhirnya ikut turun tangan ke Bruges. Kelakuan Ray yg semakin tidak bisa dikontrol juga menimbulkan masalah di kota itu. Campur aduk masalah ini menghasilkan duel seru antar Ray-Harry-Ken.



Apa sebenarnya masalah yg terjadi? Siapakah yg salah? Apakah keputusan yg akan diambil Ken? Mengapa Harry harus turun tangan? Bagaimana endingnya? You better watch it for yourself.

Seperti yg sudah saya katakan di awal tadi, In Bruges mempunyai seluruh persyaratan menjadi film BESAR. Film klasik yg akan terus diingat orang sepanjang masa. Keunggulan utama film ini adalah skrip yg brilian! Dialog cerdas ditambah humor segar yg sangat lucu tapi disertakan secara tersirat. Pembicaraan mengenai sejarah, politik, senjata, film, buku, orang-orang kerdil, bir, dan segala hal hadir dalam film ini. Bahkan sampai salah satu website menulis artikel : 100 Things You Learned While Watching “In Bruges”

Akting dari tiga pemeran utama juga patut diacungi jempol. Colin Farrell sebagai Ray memainkan karakter yg brutal tetapi masih mempunyai hati, Brendan Gleeson sebagai Ken memainkan karakter yg tegas, loyal, tetapi sebenarnya tidak tegaan dan lembut. Ralph Fiennes sebagai Harry aktingnya saya rasa paling menonjol dari yg lain, karena dia benar-benar menghayati perannya sebagai bos yg kejam, no mercy, menjunjung tinggi pride and honor, bertanggung jawab dan konsisten dengan perkataan yg dia omongkan.

Supporting actors, Jimmy (Jordan Prentice) dan Chloe (Clemence Poesy) juga memegang bagian yg sangat penting dalam film ini. Karakter yg mereka perankan akan terus diingat orang. Jimmy, seorang kerdil yg penuh ambisi dan pikiran-pikiran gila. Chloe, penduduk lokal yg senantiasa merampok para turis sekaligus penjual narkoba. Belum lagi pemeran pembantu lainnya seperti wanita hamil pemilik hotel, Marie. Bandar senjata, Yuri. Petugas Menara yg Saklek dan si Bodoh Mantan Pacar Chloe. Mereka mempunyai peran yg sangat penting dalam menunjang film ini. Tidak ada peran yg useless dalam In Bruges.



Sebuah debut film yg sempurna bagi sutradara Martin McDonagh yg dulu dikenal sebagai sutradara peraih piala Oscar dalam kategori film pendek terbaik tahun 2006 dengan filmnya Six Shooter.

Satu lagi keunggulan utama dari In Bruges adalah bagaimana kita bisa melihat keindahan kota Bruges baik di pagi, sore maupun malam hari. Kita akan merasakan tur singkat mengelilingi seluruh pelosok kota. Menengok bangunan tua yg dibangun berabad-abad yg lalu, masuk ke gereja tua yg sangat indah, sedikit belajar sejarah untuk mengetahui asal usul dan apa yg terjadi di Bruges, menaiki gondola menyusuri kanal layaknya di Venezia, melihat pemandangan seluruh kota dengan menaiki menara yg masuk dalam daftar a must see jika ke Bruges, menikmati bir asli Bruges, merayakan malam natal di tengah kota Bruges. Waw, sungguh suatu kota yg menawarkan banyak keindahan di dalamnya. Keindahan itulah yg membuat saya memasukkan Bruges sebagai salah satu kota tujuan yg musti saya singgahi sebelum saya mati.

Definitely, In Bruges masuk dalam jajaran film favorit saya sepanjang masa. If you like Fargo, The Matador, Kiss Kiss Bang Bang, Snatch and Lock Stock, and Two Smoking Barrels, then you must love In Bruges.

FYI, di IMDB, ratingnya 8,1. Untuk ukuran film baru dan independent, angka itu adalah peraihan yg sangat WOW. Kritikus ternama Roger Ebert memberi rating 4 bintang, bahkan rekannya Richard Roeper mengatakan bahwa In Bruges adalah film terbaik tahun ini, walaupun masih jauh dari akhir tahun.

So, what are you waiting for? Grab the DVD, watch it or you’re gonna regret for the rest of your life. I tell ya.

Titis Sapto Raharjo
25 Juni 2008
4:02 AM



ReviewReviewReviewReviewDefinitely, Maybe (2008)Jun 20, '08 4:28 AM
for everyone
Category:Movies
Genre: Romantic Comedy
Mungkin semua orang tahu bahwa rumus sederhana dari film komedi romantis ala Hollywood adalah hubungan antara pria-wanita yg kemudian menjadi sepasang kekasih + konflik di pertengahan film = Happy Ending.

Ketika formula itu sudah diketahui oleh banyak orang tinggal bagaimana tugas sutradara, scriptwriter dan produser bisa meramu sebuah film bergenre komedi romantis agar para penonton bisa tetap duduk diam di kursi-nya masing-masing, menyaksikan keseluruhan film dan di akhir, penonton akan terhibur oleh jalannya film. Review yg dihasilkan baik, penonton mendapat suatu tontonan komedi romantis yg cerdas, tidak klise, ada pesan yg tersampaikan dan yg paling penting tidak menggangap film itu corny.

Sungguh menjadi pekerjaan yg lumayan berat dikarenakan selain banyaknya saingan dari genre lain, penonton juga sudah mulai cerdas, mereka mulai melirik pasar diluar Hollywood yg notabene penuh dengan film-film bermutu dengan genre yg sama. Jika saya melirik ke awal tahun 2000, lumayan banyak film bergenre komedi romantis yg bermutu di Hollywood, entah karena mungkin cerita yg masih orisinil atau casting yg bagus. Kalau saya melirik lagi akhir-akhir ini, semakin sedikit film bergenre ini yg mempunyai kualitas diatas rata-rata, kebanyakan selalu gagal karena formula yg ditawarkan terlalu klise dengan jalan cerita mudah ditebak.

Tapi disaat keterpurukan film bergenre seperti ini, Definitely, Maybe menyelamatkan muka Hollywood dengan sebuah sajian yg menurut saya patut disejajarkan dengan film komedi romantis awal tahun 2000 yg bermutu dan everlasting.



Bercerita tentang William Hayes, pria berumur 30an yg bekerja di perusahaan periklanan dan mempunyai satu anak berumur 10 tahun, Maya. Will diambang perceraian dan harus berbagi hari dengan istrinya dalam mengasuh Maya. Pada hari yg sudah ditentukan, Will yg menjemput Maya di sekolah mendapati bahwa di hari itu ada pelajaran pendidikan sex untuk anak. Maya yg rasa ingin tahu-nya besar, terus menanyakan soal sex dan hubungan bapak-ibunya dahulu sampai akhirnya muncul Maya. Ia juga ingin tahu cerita bagaimana Will bisa bertemu dengan ibu-nya dan hubungan percintaan Will dengan wanita-wanita lain. Maka dimulailah Will flashback ke masa lalu bercerita tentang masa mudanya kepada Maya. Untuk menjaga bocornya cerita, Will memakai nama palsu untuk nama wanita-wanita yg diceritakan. Ini dilakukan agar Maya menebak siapakah diantara wanita-wanita yg Will ceritakan itu mengarah kepada sosok ibu yg melahirkannya.

Bagi saya, menonton Definitely, Maybe adalah suatu penyegaran. Komedi romantis yg cerdas, jalan cerita yg bagus dan dibungkus dengan chemistry yg apik oleh Will, Maya dan ketiga wanita yg ada di film. Bagaimana Will menceritakan hubungan masa lalu-nya membuat saya juga kembali flashback mengingat hubungan masa lalu saya. Di pikiran saya terbesit ide bahwa saya akan melakukan hal yg sama dengan Will jika kelak sudah mempunyai anak nanti. Akting dari Abaigail Breslin sebagai Maya patut diberi kredit, peran yg ia jalankan mampu membuat penonton tertawa dan gemas. Bumbu lain seperti politik, musik, buku, sastra yg ada di film ini juga mampu dibaurkan dengan baik. Ending yg dihadirkan cukup mengecoh walaupun tetap pada pakem yg sama, happy ending.



To sum it up, kelas film ini jauh diatas film-film sejenis ala Hollywood yg dirilis berbarengan seperti Made of Honor, 27 Dresses, What Happens in Vegas dan Fool’s God. Saya rasa 4 bintang patut diberikan dalam cakupan genre romantic comedy. Watch it on your spare time.

Titis Sapto Raharjo
20 June 2008
15:10 PM



Blog Entry3 Days to ForeverJun 14, '08 4:15 PM
for everyone

Butuh waktu satu tahun lamanya untuk saya kembali menyaksikan film garapan Riri Riza ini. Film yg berhasil dibawa Riri and the gank ke festival-festival film cukup ternama di seluruh dunia. Walau banyak kritikan dari berbagai kalangan mengenai pointless-nya film ini, saya tetap berpendapat bahwa 3 Hari Untuk Selamanya adalah film Indonesia terbaik yg pernah saya tonton (selain tentu saja Berbagi Suami, namun itu beda point of view).

Film ini saya anggap terbaik karena banyak aspek-aspek yg sangat dekat dengan kehidupan pribadi saya. Karakter Yusuf yg diperankan oleh Nicolas Saputra kurang lebih sama dengan karakter saya dalam kehidupan sehari-hari. Walau ada perbedaan sedikit, namun saya bisa merasakan Yusuf itu gue banget ! Jadi ketika dalam film ini diceritakan perjalanan Ambar dan Yusuf selama 3 hari ke Yogya, dengan segala obrolan-obrolan mereka tentang segala hal, dari yg penting sampai yg tidak penting (walau banyak obrolan mereka ga penting krn dibawah pengaruh ganja), saya seperti merasakan menjadi Yusuf. Mengingat masa dimana saya juga pernah terlibat obrolan-obrolan seperti itu dengan seorang wanita dengan karakter mirip dengan Ambar. Dibilang penting atau ga penting pembicaraan kami tidaklah berpengaruh karena we’re having a great time.


Ya saya tahu banyak orang mem-bash film ini karena cerita yg cenderung datar dan pointless, tapi Riri Riza juga tahu bahwa banyak juga anak muda diluar sana yg berkarakter atau pernah dalam posisi seperti Yusuf dan Ambar. Ditambah keseluruhan film ini saya melihatnya sebagai film yg sangat independent. Film yg dibuat secara natural, apa adanya, tanpa memperdulikan apa nanti pendapat orang ketika selesai menonton film ini, suka syukur, ga suka yaudah gpp. Tidak heran kalau film ini sukses dibawa ke festival-festival film mancanegara. Sebuah film yg sangat jarang ditemui di Indonesia. Once again, well done Riri Riza. Great soundtrack by FLOAT. And last but not least, tolong dirilis dalam format DVD, karena format VCD yg saya beli kmarin kurang nendang untuk film berkualitas seperti ini plus banyak scene yg disensor, apalagi adegan penting di akhir film.

Kapan ya ada film seperti ini lagi di Indonesia ??? Hmm…Time will tell. Mudah-mudahan setelah menggarap Laskar Pelangi, Riri Riza membuat film seperti ini lagi.

Untuk review saya tentang film ini : 3 Hari Untuk Selamanya

ReviewReviewThe Happening (2008)Jun 11, '08 4:18 PM
for everyone
Category:Movies
Genre: Mystery & Suspense
Ada perbedaan besar ketika M. Night Shyamalan kembali ke jalur favoritnya untuk mengubek-ubek rasa penasaran penonton di film terbarunya, The Happening dibanding memperjuangkan idealisme-nya untuk mengangkat cerita dongeng semasa ia kecil dalam Lady In The Water, yg notabene menimbulkan amarah dari para penonton karena memang tidak ada elemen penghibur yg sama sekali bisa ditawarkan,. Penonton murka karena dalam film itu semua dibiarkan mengambang, tidak ada kejutan apalagi mengharapkan akan ada rasa khas Shyamalan yg biasa diselipkan, Twist Ending.

Lalu apa yg akan terjadi ketika Shyamalan sudah kembali ke jalur favoritnya ? Akankah ada rasa khas yg dulu biasa diselipkan ? Saya bahas dahulu sinopsis-nya.

Film dibuka tanpa basa-basi, seluruh orang yg berada di kawasan Central Park terkena wabah virus yg aneh, mereka seperti kehilangan akal sehatnya dan mulai melakukan percobaan bunuh diri, lalu adegan berpindah ke kawasan konstruksi, dimana para pekerja bangunan menjatuhkan dirinya dari atas gedung. Untuk selanjutnya, fokus cerita diarahkan kepada Elliot Moore, seorang guru biologi yg mempunyai sedikit masalah rumah tangga dengan istrinya, Alma. Mereka diceritakan akan mengungsi ke kota lain untuk mengantisipasi terhindar dari wabah ini. Dengan ajakan sahabat Elliot, Julian, mereka berangkat menggunakan kereta api. Tapi perjalanan mereka tidak semulus yg dibayangkan. Wabah mulai menyerang hampir seluruh wilayah, kereta terpaksa diberhentikan. Julian yg membawa serta anaknya, Jess, mulai kehilangan kontak dengan istrinya, dengan terpaksa Julian yg ingin mencari tahu keberadaan istrinya harus berpisah dengan Jess dan menitipkannya kepada Elliot dan Alma. Mereka bertiga memulai perjuangan untuk bertahan hidup dari kejaran wabah yg mematikan ini. Apakah mereka akan bertahan tetap hidup ?



Selesai menonton karya terbaru M. Night Shyamalan ini, saya langsung teringat satu film, THE MIST. Dari segi keseragaman tema cukup serupa, usaha manusia untuk menyelamatkan diri dan bertahan hidup dari sesuatu hal yg mengancam. Dari segi penggarapan sebuah film, saya sangat terhibur. Bagaikan makan gado-gado, kadang saya bisa ketawa ngakak, lalu kaget, nanti dibuat miris melihat kejadian-kejadian yg dialami para korban, dan yang paling akhir, saya sedikit banyak bisa belajar mengenai tumbuh-tumbuhan dan hal lain, walau saya tidak tahu ajaran dalam film ini sesat atau benar.

Tapi bagus atau tidaknya suatu film, tetap akan ditentukan oleh ending. The Mist berhasil membuat para penonton terhenyak, tapi untuk kasus The Happening, maaf tampaknya mayoritas penonton akan memilih untuk mencaci maki M. Night Shymalan daripada mengulik apa yg sebenarnya terjadi. Saya memang kecewa dengan ending yg ditampilkan tetapi dalam kekecewaan saya terdapat rasa penasaran setengah mati ingin mengetahui apa yg sebenarnya terjadi dalam film tersebut. Saya sendiri sebetulnya sudah mempunyai analisa-analisa tentang apa yg terjadi, tapi berhubung kesemua teman saya mengatakan film ini TOTAL CRAP dan tidak peduli lagi apa yg sebenarnya terjadi. Tinggalah saya sendiri bertanya :

What the HELL is HAPPENING ?

Titis Sapto Raharjo
12 Juni 2008
2:35 AM



LinkHeaven for (Real) MoviegoersJun 9, '08 10:57 AM
for everyone
Link: http://www.foriegnmoviesddl.com/

Pedro Almodovar, Alenjandro Gonzales Innaritu, Akira Kurosawa, Wong Kar Wai, Gus van Sant, Brian de Palma, Fernando Meirelles, Guillermo del Toro, Ingmar Bergman, Kim Ki-Duk, Lars von Trier, Roman Polanski, Sidney Lumet, Stanley Kubrick, Martin Scorsese, Wes Anderson, Guy Ritchie, Christopher Nolan, David Fincher, Andrei Tarkovsky, Alfred Hitchcock dan ratusan nama lain.

Mungkin nama-nama diatas sudah tidak asing lagi bagi pecinta film sejati. Mereka adalah orang dibalik keindahan, kegemilangan, kesuksesan dan yg paling penting kekuatan dari sebuah film. Mereka telah membuat industri film menjadi berwarna dengan masing-masing cirikhas dan stereotip dalam setiap filmnya. Mayoritas dari mereka tidak mengandalkan dana yg besar, special effects yg dasyhat nan megah, aktor dan aktris yg mempunyai nama, ataupun promosi yg besar untuk mendongkrak filmnya. Kekuatan terbesar yg dipunyai mereka adalah cerita, akting dan makna yg terkandung dalam filmnya.

Dan kalau boleh disimpulkan, film-film garapan sutradara-sutradara diatas bisa dibilang The Real Cinema, yg di akhir pemutaran film penonton akan merasakan suatu orgasme, lebih dari decak kagum, perdebatan maupun standing ovation. Dan di website inilah saya seperti menemukan sebuah surga untuk menyaksikan seluruh karya-karya mereka. Layaknya surga yg tidak akan pernah habis mengelontorkan kenikmatan-nya.

Bagi yg tidak akrab dengan nama-nama diatas namun mengaku penggila film sejati, rasanya kurang afdol gelar itu disematkan kepada anda, karena apa yg anda lihat dalam film-film Box Office maupun Blockbuster Hollywood belumlah cukup untuk anda menyandang gelar itu, cobalah menikmati sajian dari para sutradara-sutradara diatas, maka saya yakin anda akan menemukan fakta bahwa film bagus bukanlah milik Hollywood semata, melainkan milik dunia. Bahkan kalo bisa dikatakan film-film outside Hollywood lebih bagus dibandingkan film-film garapan Hollywood.

Buka mata, tambah wawasan anda, dan temukan keindahan sejati film dalam website ini !

Ps : Thx to Rieke, yg secara gak langsung membawa saya ke website ini, gara-gara saya mencari link film yg dia cari, Lolita, eh saya mampir ke website yg luar biasa ini.

Note tambahan :
Bagi yg koneksi-nya lemot dan tidak mempunyai account rapidshare premium tidak disarankan mendowload koleksi film dalam website ini, karena bakalan lama dan membuang-buang waktu. Oiya tambahan lagi, mayoritas film disajikan dalam format DivX. Satu file biasanya berkisar 700-800 MB. Subtitle jika tidak disertakan, mohon dicari sendiri di website Open Subtitle. Bagi yg ngebet download tapi koneksi terbatas, silahkan mencari sendiri Jasa Download di forum-forum besar Indonesia.


Blog EntryUpcoming Movie : New York, I Love You (2009)Jun 8, '08 9:45 AM
for everyone
Tadi gak sengaja browsing2 di IMDB (Internet Movie Database), eh nemu informasi tentang film ini. Wahhh.. Ternyata kesuksesan Paris, je t'aime rupanya membuat para filmaker bersemangat untuk membuat sequel-nya atau bisa dibilang kota lanjutan dari Paris. Dan untuk film kedua, dipilih kota New York di Amerika Serikat.

Membayangkan kota New York dan dipadukan oleh kisah cerita cinta yg terjadi di kota itu saya bisa tersenyum sendiri. Jadi mengingat film Serendipity, You've Got Mail dan tentu saja Home Alone 2. Jujur saja, ekspetasi saya tinggi terhadap film ini. Semoga bisa lebih baik dari Paris, je t'aime yg menurut saya gak keren-keren amat karena banyak cerita yg biasa saja.

Melihat nama pemain dan sutradara yg terlibat, seharusnya film ini akan mudah mendapat rating tinggi dari pada kritikus ataupun penikmat film.

IMDB Movie Information : http://www.imdb.com/title/tt0808399/

Director

Fatih Akin, Mira Nair, Brett Ratner, Shekhar Kapur, Natalie Portman, Scarlett Johansson, Yvan Attal, Zach Braff.

Cast :


ReviewReviewReviewReviewRadit dan Jani (2008)Jun 2, '08 4:06 PM
for everyone
Category:Movies
Genre: Drama
“Mungkin suatu hari nanti kita harus ngerampok bank trus kabur ke Mexico buat seneng-seneng. Disana kita mabok.. have sex. Mabok lagi.. Have sex lagi... Kayak gitu aja tiap hari. Ntar sisa duitnya kita pake buat naik haji deh, abis itu kita hidup lurus.. bersih.. Kamu pake jilbab ya, aku pake peci, trus ngurus anak, mati, masuk surga.” – Radit

“Eh gmana mau masuk surga.. Duit naik haji-nya aja hasil rampokan.” – Jani


Penggalan dialog itu memperkenalkan kita kepada pasangan suami-istri yang hidup dengan hanya berlandaskan modal cinta semata, Radit dan Jani. Mereka menjalani kehidupan sehari-harinya dengan cinta yg kuat walau selalu dihinggapi masalah. Ditambah mereka tidak mempunyai penghasilan tetap, dan menjalani gaya kehidupan yg tidak sehat. Pertanyaannya apakah bisa dengan kehidupan seperti itu, mereka akan bertahan ?

Radit adalah seorang total loser, seorang laki-laki yg tidak bisa memperjuangkan tekadnya untuk menghidupi seorang yg sangat ia cintai demi kepentingan pribadinya. Disaat Jani menanti kejutan yg dijanjikan Radit, eh dia malah menghabiskan uangnya untuk nyuntik. Disaat Jani mendapatkan sesuatu untuk menghidupi kesehariannya bersama Radit, gara-gara hal konyol, hilanglah sesuatu itu dalam sekejap. Disaat Jani menyampaikan berita bahwa ia mengandung, Radit dengan kasar memaki-maki Jani karena dianggap sudah melacurkan diri. Dan ketika akhirnya Radit rela merendahkan dirinya untuk melakukan apa saja demi Jani, karma datang untuknya. Kesempatan membahagiakan Jani itu hilang dalam sekejap lenyap.

Jani adalah wanita sejati. Wanita yg menganut prinsip setia sampai mati kepada suami-nya walau sang suami tidak memberikan apa yg ia inginkan, alih alih malah sering mengecewakannya. Jani terus berada disisi Radit dalam keadaan apapun. Jani rela diinjak-injak harga dirinya untuk terus berada disamping Radit. Jani rela melakukan apapun untuk menghidupi mereka berdua. Jani sampai melawan keluarganya demi untuk Radit. Jani bahkan berkata : hanya Radit yg bisa membuatnya bahagia untuk selamanya.



Bahagia mungkin iya. Tapi untuk selamanya ? Simak saja film besutan sutradara spesialis genre anak muda, Upi Avianto. Film ini dengan gamblang menceritakan pahitnya kehidupan pasangan muda dalam membina kehidupan mereka walau dilandaskan dengan cinta yg kuat. Ternyata modal cinta saja tidak cukup. Masih bisalah kalau cinta tetapi realistis, nah ini tidak. Mereka berdua terkenal sangat idealis. Menjalani kehidupan dengan idealisme-nya sendiri. Sudah pasti akan memperparah kehidupan mereka. Maka ketika di akhir cerita, Radit akhirnya memilih untuk realistis, maka sebuah kenyataan hiduplah yg tersaji. Ending yg sempat membuat saya merasakan ada sedikit kaca-kaca di mata saya. Lumayan membuat terenyuh. Menyiratkan sesuatu, bahwa untuk hidup diperlukan pengorbanan. Pengorbanan itu timbul demi cinta, walau pada akhirnya pengorbanan itu jugalah yg akan mengalahkan cinta.

Titis Sapto Raharjo
3 Juni 2008
1:30 AM



LinkBikin Poster Film Yukk !May 25, '08 3:41 PM
for everyone
Link: http://bighugelabs.com/flickr/poster.php

Wahh ada situs keren nih, kita bisa mendesign poster film bikinan sendiri.
Gambar, judul, tagline, cast, release date kita bisa atur2 sendiri.
Ayo semua, tunjukkan kreatifitasmu..
Bisa dibuat award nih, poster bikinan sapa yg paling yahud

Dan ini contoh poster film yg udah gue buat, Siapa tau gara2 ini ada produser beneran yg mau bikin film dokumentasi ttg persepakbolaan dan supoter timnas kita, hehehe.


Blog EntryGundala : The Movie - June 2009May 20, '08 1:57 PM
for everyone
Bumi Langit Pictures bekerja sama dengan Grha Media Visi menghadirkan kembali Gundala, superhero Indonesia kreasi komikus Hasmi ke layar lebar. Sosok Gundala yang telah dikenal selama empat dekade di kalangan pecinta komik negeri, dihidupkan oleh sineas-sineas muda berbakat dengan dukungan sinematografi dan teknologi komputer terkini, dengan dedikasi penuh untuk menghadirkan karya sinema bermutu yang bisa dinikmati kalangan tua muda, serta menjadikannya suatu kebanggaan bagi anak-anak negeri kita.

Wihh.. semoga beneran jadi deh film ini dibuat, semoga juga efeknya gak malu2in dan bisa memuaskan kita sebagai penonton. Jangan sampe kyk Cicak Man. Hehehe. Akhirnya Indonesia mempunyai film Superhero juga.

JENIS FILM
Fantasi Superhero

PRODUSER
Bunian Adhi Agripa

SUTRADARA
Alex J. Simal

PENULIS
Danoe Adi & Dodie Putra

PRODUKSI
Langit Bumi Pictures

PEMAIN
Sandy Mahesa, Amelia Dinati, Dharma Suchdi, Chandra Gahli, Reina Abidin

SINOPSIS
Penemuan artefak cincin kuno yang menyimpan kekuatan dahsyat mengakibatkan perebutan yang membuat banyaknya korban jatuh. Sancaka, seorang arkeolog muda yang idealis, terseret ke dalam pusaran konflik dan nasib yang menjadikannya sebagai pemilik cincin tersebut. Dengan kekuatan tak terbatas ditangannya, Sancaka menjelma menjadi Gundala, ksatria penegak keadilan dalam menghadapi rencana Gazul yang menghendaki cincin tersebut untuk ambisi jahatnya. Mampukah Gundala menghentikan niat Gazul? Nantikan segera aksi Gundala di bioskop-bioskop pada bulan Juni 2009 mendatang.

ReviewReviewReviewReviewReviewRain Man (1988)May 19, '08 8:24 PM
for everyone
Category:Movies
Genre: Drama
“A movie that will make every man cries”

Mungkin agak terlambat bagi saya untuk menyaksikan film yg berlabel Best Picture pada tahun 1988. Tapi untuk sebuah film, apalagi sebuah mahakarya yg diganjar banyak penghargaan dan piala, ditambah review bagus dari para kritikus, saya rasa tidak ada kata terlambat.

Rain Man bercerita tentang Charlie Babbit, self centered pig and egocentric kind of man, mendapat kabar berita bahwa ayah kandungnya telah meninggal dunia. Dikarenakan ia sangat membenci ayahnya dan sudah lama tidak berkomunikasi, ia tidak merasakan kesedihan apapun mendengar berita itu. Setelah menghadiri pemakaman ayahnya, ia lalu segera membereskan urusan mengenai warisan yg ditinggalkan ayahnya itu demi tambahan modal untuk bisnis mobil yg ia jalani. Betapa terkejutnya ia ketika hanya mendapatkan mobil tua dan semak mawar sebagai warisannya, sementara uang 3 juta dollar jatuh kepada sebuah Rumah Sakit Jiwa bernama Walbrook. Tidak terima dengan hal itu (dikarenakan ia merasa hanya dialah anak ayahnya), ia segera mendatangi Walbrook untuk mengetahui mengapa ayahnya menyumbangkan uang sebesar itu kesana. Yang membuat dia semakin terkejut adalah fakta bahwa ia mempunyai seorang kakak yg mengidap penyakit autis akut dan dirawat di rumah sakit tsb. Ternyata warisan jatuh ke tangan kakak kandungnya itu yg bernama Raymond Babbit.

Charlie yg egois dan licik tidak terima dengan hal itu, ia menginginkan setidaknya setengah dari uang Raymond masuk ke rekeningnya. Maka dengan tidak mengindahkan saran dari dokter, ia membawa kabur Raymond guna mengupayakan merebut haknya itu. Rupanya Charlie tidak mengetahui kalau penyakit Raymond adalah penyakit yg serius, Raymond tidak bisa diperlakukan layaknya seperti orang biasa. Dia akan memberontak jika hal yg rutin diperbuatnya tidak dijalankan, seperti senin makan pizza, selasa makan ikan, atau jam 5 harus menonton kuis favoritnya, jam 11 sudah harus tidur, dan hal-hal rutin lainnya. Charlie yg tadinya tidak tahan dengan kelakuan kakaknya itu, akhirnya mengalah demi iming-iming uang yg akan didapatnya. Perjalanan dari Ohio ke Los Angeles yg harusnya ditempuh dalam waktu 3 jam saja menggunakan pesawat terbang, terpaksa menggunakan jalan darat karena Raymond takut terbang. Dalam perjalanan menuju Los Angeles itulah hubungan antara kakak dan adik yg saling tidak mengenal ini terjalin. Charlie mulai paham dan mengerti hal-hal apa saja yg dibutuhkan Raymond, begitu juga sebaliknya, Raymond mulai menurut apa kata adiknya, termasuk mendapatkan uang banyak di kasino Las Vegas dengan kejeniusan menghitung kartu yg dipunyai oleh Raymond.

Di akhir cerita, Charlie berubah menjadi pribadi yg jauh lebih baik dibanding ketika pertama bertemu Raymond, ia tidak lagi mengincar uang warisan ayahnya, ia sudah tidak lagi terpaksa menuruti dan menyediakan kebutuhan Raymond, ia benar-benar menyayangi kakak-nya itu selayaknya saudara kandung adanya, malah ia tidak rela Raymond kembali ke Walbrook, dia ingin menjaga dan merawat Raymond. Sebuah kisah yg sangat menginspirasi sekaligus mengharukan bagi siapapun yg menontonnya.



Setelah menonton film ini, banyak pelajaran yg bisa dipetik oleh kita sebagai manusia yg normal dan diberi fisik maupun mental yg sempurna. Bahwa kita tidak boleh melupakan manusia seperti Raymond di muka bumi ini, mereka ada dan mereka juga harus diperlakukan layaknya manusia normal walaupun mental mereka terganggu. Kita sebagai manusia normal harus sabar jika menghadapi orang seperti Raymond, karena dengan kesabaran itulah mereka bisa mengerti bahwa kita memperlakukan mereka dengan layak. Di film ini perlu waktu seminggu penuh untuk Charlie menyadari bahwa ke-egoisan dia selama ini tidak ada apa-apanya dibandingkan penderitaan yg dialami kakak kandungnya sendiri.

Tidak heran film ini mampu merebut 4 piala Oscar sekaligus pada tahun 1988, Best Screenplay, Best Director, Best Picture dan Best Actor untuk Dustin Hoffman. Akting Hoffman di film ini sungguh meyakinkan semua orang bahwa ia adalah seorang penyandang autis akut, sungguh suatu akting yg sempurna dan mungkin hanya bisa disetarakan oleh Al Pacino dalam film Scent of a Woman yg juga merebut Oscar untuk Best Actor. Kredit juga musti diberikan kepada Tom Cruise yg dengan hebat memerankan seorang egois, mau menang sendiri menjadi seorang yg hatinya bisa luluh juga dan pada akhirnya menjadi manusia yg bisa menerima kekurangan orang lain.

Walau sudah 20 tahun beredar, tampaknya film ini akan terus dikenang menjadi salah satu film terbaik sepanjang masa.

Titis Sapto Raharjo
20 May 2008
07:11 AM



ReviewReviewReviewReviewThe Kite Runner (2007)May 19, '08 5:25 PM
for everyone
Category:Movies
Genre: Drama
Diangkat dari International best-seller novel karya Khaled Hosseini yg berjudul sama, sutradara muda berbakat, Marc Foster yg dikenal dengan karya-nya Monster’s Ball dan Finding Neverland mencoba menjadikan The Kite Runner menjadi sebuah film yg tidak kalah hebatnya dengan versi novel.

Yang menjadi pertanyaan adalah : Apakah dia berhasil meramu film ini dengan baik ? Sejujurnya saya tidak berhak menilai ini dikarenakan saya belum membaca novelnya, tetapi boleh dikatakan Marc Foster hampir berhasil membawa saya sebagai penonton untuk hanyut dalam kisah yg disajikan dalam Kite Runner ini. Hampir ? Ya, karena menurut saya film ini berhasil menyentuh saya sampai 1,5 jam pertama, selebihnya emosi yg disampaikan kurang menonjol sehingga terlihat pada bagian penyelamatan Sohrib terkesan dipaksana dan terburu-buru.

Sebelum saya membahas lebih lanjut, sebaiknya saya paparkan dulu cerita dalam film ini.
The Kite Runner bercerita tentang dua sahabat yg mempunyai kegemaran bermain layangan. Amir, pandai menerbangkan layangan dan handal memutuskan layangan lawan, sementara Hassan, mempunyai keahlian mengejar layangan yg putus. Selain bermain layangan, kedua sahabat ini juga tidak bisa dipisahkan dalam menjalani kehidupan sehari-harinya. Amir dan Hassan tinggal di rumah yg sama dengan status yg berbeda. Amir, adalah anak dari seorang kaya, sementara Hassan adalah anak dari pembantu di rumah tersebut. Konflik terjadi ketika Amir secara tidak sengaja mendengar pembicaraan Baba, ayahnya dengan asisten pribadinya, Rahim. Baba mengatakan bahwa Amir tidak punya keberanian, berbeda dengan Hassan yg tangguh. Diam-diam, Amir mulai iri terhadap Hassan, ditambah ada suatu kejadian dimana Amir melihat Hassan secara brutal dipukuli dan diperkosa oleh gerombolan anak-anak liar, disaat itu Amir tidak melakukan apapun untuk melindungi Hassan. Entah karena motif apa, Amir mulai memusuhi Hassan, puncaknya ketika Amir memfitnah Hassan mencuri arloji-nya. Hassan dan ayahnya memutuskan keluar dari rumah Amir. Tidak berapa lama, Uni Sovyet mulai menduduki wilayah Afghanistan dan memaksa Amir dan ayahnya untuk mengungsi. Singkat cerita mereka tinggal ke Amerika, Baba membuka usaha menjaga pom bensin dan sebuah kios, sementara Amir mulai meneruskan keinginan-nya untuk menulis sebuah novel walaupun Baba tidak terlalu suka dengan pilihan Amir dan berkeinginan agar Amir menjadi seorang dokter. Amir lalu berhasil menerbitkan novel pertama-nya sekaligus menikah dengan putri bekas seorang jendral di Afghanistan yg juga berteman baik dengan Baba. Ketika kehidupan Amir berjalan dengan baik bersama istrinya, tiba-tiba Amir mendapat sebuah telpon dari Rahim, yg mengatakan bahwa ia harus pulang ke Afghanistan untuk suatu keperluan penting. Dari situlah diketahui bahwa ada rahasia besar tersembunyi yg disimpan Baba yg membuat Amir menyesali perbuatannya dahulu. Kepulangan Amir ke kampung halaman juga untuk membayar segala kesalahan yg pernah ia perbuat terhadap Hassan. There’s a way to be good again.



Jujur, menikmati akting Amir kecil dan Hassan kecil adalah momen terbaik dalam film ini, ketika melihat kedua sahabat ini saling mengisi hari demi hari, juga melihat Hasssan yg begitu baiknya berkorban apa saja demi Amir namun pada akhirnya Amir membalasnya dengan semena-mena. Pengorbanan Hassan-lah yg bisa menyentuh saya, penyesalan dan penebusan dosa Amir di akhir film saya kira menjadi kurang setimpal dan sangat terlambat untuk dilakukan. Apalagi ditambah di 30 menit akhir film ini menjadi titik paling lemah, kurang maksimal dalam mengubek-ngubek perasaan saya, dan terkesan dipaksakan (terlihat pada sangat mudahnya Amir menyelamatkan Sohrab). Adegan yg membuat perasaan saya diaduk-aduk adalah ketika dalam perjalanan pengungsian Baba dan Amir, truk mereka dicegat oleh tentara Soviet, dan tentara itu meminta wanita dalam truk itu untuk “dipakai” terlebih dahulu baru truk diperbolehkan melintas perbatasan. Sungguh adegan yg memilukan.

Ada satu quote yg masi terngiang-ngiang di kepala saya sampe saat ini, ketika perbincangan Rahim kepada Baba yg bersikukuh agar Amir mengikuti kemauan-nya, Rahim berkata bahwa seorang anak bukanlah sebuah buku mewarnai yg bisa kita warnai sesuka kita, tetapi anak itulah yg akan mewarnai-nya dengan warna-nya sendiri.

Despite ada sedikit kekurangan, saya tetap tersenyum selesai menonton The Kite Runner, sebuah film yg mengajarkan kita akan pentingnya nilai persahabatan dan kekeluargaan di dalam diri setiap manusia. Ahh saya jadi penasaran membaca buku-nya. Ada yg mau meminjamkan novelnya atau memberi link e-book-nya ?

Titis Sapto Raharjo
20 May 2008
04:12 AM



ReviewReviewReviewReviewAfter the Wedding (Efter Brylluppet) – (2006)May 19, '08 3:01 PM
for everyone
Category:Movies
Genre: Drama
Di dalam sebuah industri film, hanya sedikit sutradara yg mampu mengangkat sebuah cerita soap opera (atau disini biasa disebut sinetron) yg serba klise menjadi sebuah film yg jempolan dan menarik untuk disimak sampai akhir. Salah satu sutradara yg mampu melakukan hal itu adalah Susanne Bier, sineas berbakat asal Denmark.

Bier mampu menghadirkan sebuah film hebat yg menurut saya seandainya diproduksi di Indonesia akan menjadi salah satu sinetron dengan episode yg paling banyak dengan banyaknya konflik yg dihadirkan. Dan tentu saja mendapat rating yg tinggi namun buruk dalam hal penceritaan, maksudnya akan terlihat jelas konflik sangat dibuat-buat dan terkesan mengada-ada. Untungnya, After the Wedding diramu dengan formula yg berbeda sehingga cerita yg tadinya terlihat klise menjadi sebuah kekuatan utama dalam film ini.

After the Wedding dimulai ketika Jacob, sukarelawan yg bekerja untuk sebuah panti asuhan di wilayah kumuh India, Mumbai dihadapkan oleh sebuah masalah dimana ia harus mencari dana agar panti asuhan yg dijalankannya tidak ditutup yg pada akhirnya akan membuat ratusan anak disitu akan kembali ke jalanan liar lagi. Dalam kebingungannya, Jacob menerima berita baik ketika seorang milyuner asal Denmark, Jorgen tertarik untuk menyumbangkan uangnya ke panti asuhan tersebut, namun Jacob harus bertemu langsung dengan Jorgen di Denmark. Jacob yg tadinya sangat idealis tidak mau berangkat untuk menemui Jorgen akhirnya mengalah demi keadaan. Jacob akhirnya menemui Jorgen untuk memberikan proposal dan video tentang keadaan panti asuhan itu. Disaat itu pula, Jacob diundang menghadiri acara pernikahan putri dari Jorgen. Ketika semua tampak berjalan dengan lancar, konflik datang disaat yg tidak terduga. Jacob yg datang seorang diri ke pesta pernikahan itu bertemu seseorang dari masa lalu yg tidak diduga-duga adalah istri dari Jorgen, masalah lebih besar lagi datang ketika dalam pernikahan itu ada sebuah rahasia terkuak yg melibatkan Jacob. Nah ketika itulah konflik mulai akrab terjalin dalam film ini. Ketika satu masalah tampaknya sudah terpecahkan, tiba-tiba timbul masalah baru yg lebih parah, semua serba tersambung yg mengakibatkan penonton akan sadar bahwa betapa klise-nya masalah-masalah itu bisa muncul dalam waktu yg bersamaan, dan berhubungan satu dengan yg lain.



Tetapi ingat apa yg saya bilang di awal tadi, Susanne Bier mampu meramu semua ke-klise-an ala Soap Opera itu menjadi sebuah suguhan drama yg apik dan membuat penasaran penonton apa jalan keluar dari masalah-masalah itu, dan apa pemicu-nya. Semua itu akan terjawab di akhir film dengan sangat memuaskan, tanpa ada suatu hal yg dipaksakan. Disitulah jawaban mengapa After the Wedding menjadi salah satu film drama terbaik tahun 2006, meraih nominasi Oscar untuk Best Foreign Movie dan mendapat banyak penghargaan di berbagai festival film.

Oiya perlu dicatat, pemeran utama dalam film ini, Jacob adalah Mads Mikkelsen yg notabene memerankan Le Chiffre, villain (penjahat) dalam film James Bond terakhir, Casino Royale. Sama seperti perannya di Casino Royale, Mads bermain sangat meyakinkan di film ini. 3 aktor dan aktris utama lain juga bermain layaknya bintang besar. Great acting ! Great roles ! Great storyline, and last but not least, Superb Directing!

Titis Sapto Raharjo
20 May 2008
01 : 43 AM



VideoTokyo Love StoryMay 7, '08 3:44 PM
for everyone
Pas gue lagi browsing di salah satu forum film, eh ada yg ngebahas serial drama legendaris ini. Langsung gue buka Youtube, cari video-nya, eh nemu banyak ! Wuhuu. Ini serial bener-bener membekas banget di otak gue sampe skrg, padahal gue nonton pertama kali pas SD.

Soundtrack-nya itu jadi salah satu lagu favorit gue sepanjang masa, judul lagunya itu Rabusuto Ri Wa Totsuzen dinyanyikan oleh Oda Kazumasa. Masih sering banget gue puter ini lagu di I-Pod atau di komputer gue kalo lagi suntuk sama lagu-lagu baru. Dan cerita dari Tokyo Love Story juga mantep berat. Walau endingnya agak kurang happy sih.

Bagi yg gatau serial ini atau yg gatau soundtracknya yg legendaris itu, wah kmana aja ??? Dan bagi yg pengen nostalgia, nih gue kasih videonya. Dijamin yg inget bakalan kangen sama jaman-jaman dulu. Hehehe.


Import.flv (10.2 MB)

Pages:12
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help