Titis Sapto's posts with tag: jiffest

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag jiffest
Blog Entry3 Days to ForeverJun 14, '08 4:15 PM
for everyone

Butuh waktu satu tahun lamanya untuk saya kembali menyaksikan film garapan Riri Riza ini. Film yg berhasil dibawa Riri and the gank ke festival-festival film cukup ternama di seluruh dunia. Walau banyak kritikan dari berbagai kalangan mengenai pointless-nya film ini, saya tetap berpendapat bahwa 3 Hari Untuk Selamanya adalah film Indonesia terbaik yg pernah saya tonton (selain tentu saja Berbagi Suami, namun itu beda point of view).

Film ini saya anggap terbaik karena banyak aspek-aspek yg sangat dekat dengan kehidupan pribadi saya. Karakter Yusuf yg diperankan oleh Nicolas Saputra kurang lebih sama dengan karakter saya dalam kehidupan sehari-hari. Walau ada perbedaan sedikit, namun saya bisa merasakan Yusuf itu gue banget ! Jadi ketika dalam film ini diceritakan perjalanan Ambar dan Yusuf selama 3 hari ke Yogya, dengan segala obrolan-obrolan mereka tentang segala hal, dari yg penting sampai yg tidak penting (walau banyak obrolan mereka ga penting krn dibawah pengaruh ganja), saya seperti merasakan menjadi Yusuf. Mengingat masa dimana saya juga pernah terlibat obrolan-obrolan seperti itu dengan seorang wanita dengan karakter mirip dengan Ambar. Dibilang penting atau ga penting pembicaraan kami tidaklah berpengaruh karena we’re having a great time.


Ya saya tahu banyak orang mem-bash film ini karena cerita yg cenderung datar dan pointless, tapi Riri Riza juga tahu bahwa banyak juga anak muda diluar sana yg berkarakter atau pernah dalam posisi seperti Yusuf dan Ambar. Ditambah keseluruhan film ini saya melihatnya sebagai film yg sangat independent. Film yg dibuat secara natural, apa adanya, tanpa memperdulikan apa nanti pendapat orang ketika selesai menonton film ini, suka syukur, ga suka yaudah gpp. Tidak heran kalau film ini sukses dibawa ke festival-festival film mancanegara. Sebuah film yg sangat jarang ditemui di Indonesia. Once again, well done Riri Riza. Great soundtrack by FLOAT. And last but not least, tolong dirilis dalam format DVD, karena format VCD yg saya beli kmarin kurang nendang untuk film berkualitas seperti ini plus banyak scene yg disensor, apalagi adegan penting di akhir film.

Kapan ya ada film seperti ini lagi di Indonesia ??? Hmm…Time will tell. Mudah-mudahan setelah menggarap Laskar Pelangi, Riri Riza membuat film seperti ini lagi.

Untuk review saya tentang film ini : 3 Hari Untuk Selamanya

ReviewReviewReviewReviewReviewNo Country For Old MenDec 21, '07 10:35 AM
for everyone
Category:Movies
Genre: Action & Adventure
Jika pada Jiffest tahun lalu, Little Miss Sunshine berhasil membuat banyak orang berdecak kagum, Jiffest tahun ini menawarkan rasa yg sedikit berbeda. No Country for Old Men berhasil membuat orang sampai membicarakan film ini tiada habisnya dari segala aspek bahkan banyak sekali yg rela menonton ulang sebuah film mahakarya Coen Brothers ini. Film ini sendiri diangkat dari novel yg dibuat oleh pemenang penghargaan Pulitzer, Cormac McCarthy.

Film ini bercerita tentang seorang cowboy (Moss) yg menemukan tas berisi lembaran uang berjumlah 2 juta dollar diantara sekumpulan mayat-mayat bandar narkoba dari Mexico yg tewas secara mengenaskan. Belakangan diketahui, ada seseorang pembunuh psikopat berdarah dingin (Chigurh) yg berkeliaran di kota itu untuk mengincar uang tersebut. Dia tidak segan-segan membunuh korbannya dengan cara yg tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Disaat Moss membawa kabur uang yang ia temukan, ia merasa tidak nyaman dalam kehidupannya dan memilih untuk pergi sejauh mungkin, karena ia tahu sudah tidak aman lagi jika harus berdiam diri. Ternyata dugaan Moss memang tepat, dia dijadikan sasaran utama Chigurh dan para gangster Mexico karena uang yg ia bawa itu. Di saat yg bersamaan, seorang sheriff senior (Bell), juga mengetahui tentang kejadian ini namun penyelidikannya selalu tertinggal satu langkah dibelakang Moss, Chigurh dan para gangster Mexico itu. Pada akhirnya, uang berhasil diamankan, nasib Moss dan Chigurh sama sialnya, dan sheriff itu akan memberi penjelasan yg membuat kita mengerti mengapa film ini diberi nama No Country for Old Men.

Setelah menonton No Country for Old Men saya seperti mendapat suatu pengalaman baru dalam menonton sebuah film. Baru karena film ini menyajikan sesuatu yg berbeda baik dari segi cerita maupun penyampaian setiap karakter.

Kita dengan jelas bisa membagi 3 karakter utama dalam film ini :
- Moss : cowboy, protagonis, manusiawi, berkehidupan layaknya manusia pd umumnya.
- Chigurh : antagonis, pembunuh sadis berdarah dingin, tidak kenal belas kasihan, tidak pandang bulu dan tidak punya rasa kemanusiaan sama sekali.
- Sheriff Bell yg memang sudah sangat senior dan sarat pengalaman dalam pekerjaannya tetapi sudah bukan jamannya lagi mengatasi penjahat seperti Chigurh.

Dan dari segi cerita, film ini benar-benar SUPERB. Kenyataan bahwa shit can happens all the time, tidak pandang siapapun. Kita yg tadinya mungkin sudah menebak jalannya cerita dengan berandai-andai, misalnya Moss akan mati ditangan Chigurh akan menemukan kejutan lain. Sesuatu yg terjadi pada Moss dan Chigurh di akhir film adalah sesuatu yg kita tidak pernah bisa bayangkan akan terjadi kalau mengikuti jalan cerita yg disampaikan film ini. You know, shit just happens.

Satu hal lagi yg bisa dipelajari dari film ini adalah hidup seperti dua sisi mata koin, persis permainan Chigurh dalam beberapa adegan yg menentukan nyawa dari lawan bicara-nya, jadi dalam hidup selalu ada sisi baik dan sisi jahat yang selalu selaras berdampingan.

Hal lain yg bisa dibahas dalam film ini adalah kalau yg namanya uang bisa merusak segala jenis manusia. Semua berjuang sampai mengorbankan nyawa demi satu hal yg bernama uang. Penggambaran bahwa manusia seperti apapun ujung2nya akan kalah dan tunduk kepada uang sangat jelas dipaparkan, ketika inti dari cerita ini adalah pengejaran terhadap uang 2 juta dollar itu, dan ada beberapa scene lain yg bisa diambil contoh, seperti :
- 3 anak muda mata duitan yg dengan tega masih tawar menawar dengan Moss yg sudah sekarat di perbatasan Mexico.
- 2 anak kecil yg tadinya tidak mengharapkan uang apapun dari Chigurh tetapi ketika diberi uang, mereka berdua berebutan minta jatah masing-masing.
- 4 pengamen Mexico, yg mengamen kepada Moss yg sedang tidur + sekarat, ketika diberi uang 100 dollar yg penuh darah mereka tetap menerimanya karena jumlahnya yg besar.

Membahas No Country for Old Men sepertinya tidak cukup dalam beberapa paragraf, masih banyak aspek-aspek lain yg bisa dikembangkan untuk akhirnya diperbincangkan dan didiskusikan. Satu hal yg pasti, film ini komplit. Enough said.

List number one on my top ten movie of 2007.

Titis Sapto Raharjo
21 Desember 2007


Start:     Dec 7, '07
End:     Dec 16, '07
Location:     Blitz Megaplex, Djakarta Theather, Erasmus Huis, Goethe Haus, Kineforum TIM 21
Sudah dimulai festival film terbesar di Indonesia. Dibuka dengan film animasi Persepolis tadi malam, mulai besok sampai tanggal 16 Desember nanti, saya akan menjelajahi tempat-tempat diatas ini untuk menyaksikan puluhan film dari berbagai macam negara dan genre.

Semoga di Jiffest taun ini saya bisa menonton lebih banyak film dibanding tahun lalu.

Selamat Nonton !

© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help