Titis Sapto's posts with tag: football
 Yahhh.. Gak bakal lolos deh! Hehe.. Tapi gpp, yg penting bisa nonton tim Australia maen di Senayan dan berharap ada keajaiban untuk tim nasional tercinta kita! Dari Pssi-football.com : Indonesia tergabung di grup maut dalam kualifikasi Piala Asia 2011 Qatar. Kepastian itu diperoleh dari hasil drawing yang berlangsung Kamis (3/7) malam tadi di Aspire Dome, Doha, Qatar. Ikut hadir dalam acara tersebut, pelatih timnas Indonesia Benny Dollo. Tiga kompetitor Indonesia di grup B kualifikasi Piala Asia 2008 adalah Australia, Oman dan Kuwait. Grup ini bisa dikatakan sebagai yang terberat dibandingkan grup lainnya karena dihuni oleh tim-tim kelas satu Asia. Dalam catatan terakhir pertemuan dengan ketiga negara tersebut, Indonesia tidak pernah memenangkan pertandingan. Indonesia terakhir kali bertemu dengan Australia di Melbourne pada tanggal 29 Maret 2005 dengan skor 3-0 untuk kemenangan tuan rumah. Saat itu Indonesia dilatih oleh Peter Withe, sementara Australia diperkuat pemain bintangnya seperti Kalac, Emerton, Vidmar, Aloisi dll. Tahun lalu, atau tepatnya pada tanggal 24 Juni 2007, Markus Harison dkk juga takluk 0-1 di Stadion Utama Gelora Bung Karno. Pertandingan itu merupakan uji coba jelang berlangsungnya Piala Asia 2007. Oman saat itu diperkuat oleh kipper Bolton Wanderers Al Habsy yang berhasil mementahkan tendangan penalti Bambang Pamungkas. Lawan terakhir yakni Kuwait, selalu bermain imbang dengan Indonesia dalam dua pertemuan terakhir di Piala Asia 1996 dan 2000. Pada tahun 1996, Indonesia yang dilatih oleh Danurwindo bermain imbang 2-2 dengan Kuwait, setelah unggul 2-0 lebih dulu lewat gol spektakuler Widodo C Putro dan Ronny Wabia. Sementara pada Piala Asia 2000, kedua tim bermain imbang 0-0. Indonesia saat itu dilatih oleh Nandar Iskandar. Sementara itu, dalam kualifikasi Piala Asia 2011 ini terdiri dari lima grup. Rangkaian pertandingan kualifikasi akan berlangsung di tahun 2009. Grup A Jepang Bahrain Hong Kong Yaman Grup B Australia Indonesia Oman Kuwait Grup C Uzbekistan UAE Malaysia India Grup D Vietnam China Syria Lebanon Grup E Iran Thailand Yordania Singapura
|  | A NO ES UN SUEÑO, SOMOS CAMPEONES DE EUROPA 44 AÑOS DESPUÉS... VIVA ESPAÑA!
Los jugadores se vuelven locos, los suplentes entran en el campo, se abrazan, lloran de alegría, se levantan por los aires... Qué momento más grande, no tengo palabras para describirlo... Qué grandes somos, Viva España.
Los jugadores mantean a un Luis Aragonés eufórico, que se va como el seleccionador con más victorias de la historia de España y con el segundo título que tenemos en nuestgras vitrinas. GRACIAS, LUIS.
Los alemanes y los españoles intercambian saludos de forma deportiva. Somos campeones de Europa, somos los mejores del Viejo Continente, somos la.
Los Reyes han recibido la efusiva felicitación de todos sus compañeros de palco... Vaya día para España, no me puedo ni imaginar cómo deben estar las calles de todos los pueblos y ciudades de España.
Ojo, España va a subir a por el trofeo de un momento a otro. Palop, en un gesto que le honra, lleva puesta la camiseta con la que Luis Miguel Arconada jugó la final del 84.
Los alemanes comienzan a subir al palco para recibir las medallas de subcampeones de Europa.
Note : Kata-kata diatas diambil dari www.marca.com, saya sendiri jg gatau apa artinya. Hahaha. Viva Espana! Congratz!!! |
Mungkin hanya sedikit manusia di dunia ini yang menganggap angka 13 adalah angka pembawa keberuntungan. Mayoritas orang mempunyai keyakinan bahwa angka keramat itu sebagai angka mati, angka pembawa sial, dan angka malapetaka. Tapi tidak untuk Michael Ballack, dia menggangap angka itu membawa keberuntungan. Walau pada akhirnya keberuntungan itu berakibat pada malapetaka. Siapa penggila sepakbola yang tidak mengenal Michael Ballack? Dia adalah pesepakbola yang saat ini paling disayang dan dipuja publik Jerman, kapten tim nasional Jerman, bahkan dia mempunyai nickname Little Kaisar, suatu sebutan yang patut dibanggakan, mengingat sebutan Kaisar disematkan pada pemain legendaris Franz Beckenbauer. Sebagai pesepakbola, Ballack adalah sosok yang sempurna. Posturnya tegap, tinggi, sundulannya keras, tendangannya membuat takut banyak kiper, kemampuan bertahan dan menyerang sama baiknya, kepemimpinan-nya di lapangan juga tidak tergantikan. Di klub, Ballack adalah pemain yang selalu mendapat tempat di tim utama, perannya sangat vital. Bayer Leverkusen, Bayern Muenchen, dan Chelsea bisa berprestasi dengan baik sedikit banyak berkat kehadiran Ballack. Bahkan hampir setiap tahun gelar German Footballer of the Year senantiasa diberikan untuknya.
Sampai-sampai pujian setinggi langit diberikan Arsene Wenger, manajer Arsenal. "Saya suka pada kesederhanaan serta efisiensinya dalam bermain. Ia juga selalu bekerja keras bagi timnya. Dia mampu memberikan umpan matang sekaligus melakukan tembakan langsung. Jika dibutuhkan ia juga mampu naik ke depan dan membantu seranga. Bahkan, jika Anda menginginkannya mencetak gol melalui sundulan, ia pun mampu melakukannya," puji The Profesor. Lalu prestasi apa lagi yang belum dicapai oleh seorang Michael Ballack? Sungguh menyesakkan hati bilamana hampir semua hal di dunia ini sudah berhasil diraih, namun hal yang paling penting malah tidak pernah diraih. Ballack tidak pernah memenangkan gelar bergengsi dalam cakupan internasional, baik dalam tingkat klub maupun tim nasional. Ironisnya, sudah 4 kali Michael Ballack berada dalam atmosfir sebuah partai final tingkat internasional, namun sudah 4 kali pula Ballack berada dalam pihak yang kalah. Sebenarnya hanya 3 kali Ballack berada dalam atmosfir final, di final Piala Dunia 2002 Ballack absen karena akumulasi kartu, namun tetap saja, Ballack pulang tanpa trophy.  Kutukan final itu dimulai Ballack ketika tahun 2002, ia berhasil membawa Leverkusen ke partai final Liga Champions. Namun apa mau dikata Ballack harus mengakui kehebatan Zinedine Zidane yang melesakkan gol penentu kemenangan sekaligus gol terbaik sepanjang turnamen untuk membawa Real Madrid juara. Di tahun yang sama juga Ballack harus menerima kenyataan pahit, dia absen bermain di final Piala Dunia 2002 karena akumulasi kartu, dan harus melihat pesta kemenangan Brazil untuk kelima kalinya merebut juara dunia. Kutukan berlanjut 6 tahun kemudian, kali ini Ballack berhasil membawa Chelsea maju ke final Liga Champions, namun kemenangan yang sudah di depan mata harus buyar akibat kegagalan John Terry yang dilanjutkan oleh gagalnya Nicolas Anelka mengeksekusi penalti penentuan ke gawang Edwin van der Sar, Manchester United keluar sebagai juara.
Momen pahit Ballack akhirnya kembali terulang malam tadi, kesempatan Ballack memimpin rekan-rekannya untuk merebut kembali lambang supremasi Eropa untuk keempat kalinya bagi Jerman pupus sudah. Spanyol yang bermain diatas rata-rata pemain Jerman berhasil merebut gelar Eropa-nya untuk kedua kali dalam sejarah, sebaliknya Jerman menunjukkan performa yang jauh dari kata baik, bahkan Ballack sendiri bermain off-form. Alhasil, Ballack kembali tergabung dalam pihak yang kalah untuk keempat kalinya dalam partai final turnamen besar. Tampaknya kutukan 13 terus berlanjut, sehebat-hebatnya prestasi seseorang, ada saja malapetaka besar yang selalu menghantui hidupnya. Jadi pantas kiranya kalo gelar Mr. Runner-up disematkan kepada Michael Ballack. Kalau mau juara, ganti dahulu nomor baju-mu, Ballack! Titis Sapto Raharjo 30 Juni 2008 7:03 AM
Dalam waktu kurang lebih 9 jam lagi, seluruh masyarakat di dunia akan disuguhkan duel maha dasyhat antara tim Panser melawan tim Matador. Jerman vs Spanyol. Duel yang disebut-sebut sebagai duel ideal untuk menutup sebuah turnamen akbar yang telah mengjibur banyak masyarakat di dunia terutama Eropa dalam waktu sebulan ini. Siapapun juaranya, akan dipastikan tidak akan ada kata mudah untuk kedua tim dalam proses meraihnya. Jerman maupun Spanyol telah menunjukkan kepada 14 tim yg sudah tersingkir sebelumnya, bahwa perjuangan mereka masuk ke babak akhir turnamen ini adalah suatu pencapaian yang tidak kebetulan. Mereka telah berhasil memperlihatkan kinerja tim yang solid sehingga babak final adalah ganjaran yang setimpal untuk hasil kinerja mereka. Kinerja tim, kata itulah yang terkadang suka dilupakan oleh banyak tim dalam mengarungi sebuah pertandingan. 4 tim yang maju ke babak semifinal Euro 2008 kalau kita lihat secara seksama mereka mempunyai benang merah yang sama, yaitu tim yang solid. Turki dengan semangat juang pantang menyerah walau harus mengandalkan tim lapis kedua bisa menyulitkan Jerman. Turki membuktikan kepada dunia bahwa sepakbola tidak harus melulu pemain bintang. Tim lapis kedua-nya itu hampir membuat Jerman melakukan babak perpanjangan waktu sebelum gol emas Phillip Lahm di masa injury time. Rusia yang sudah membukakan mata dunia bahwa tim dengan materi biasa-biasa saja mampu menghantam favorit kuat, Belanda dengan permainan tim yang sangat padu dan menawan. Andrei Arshavin dkk. mampu mengontrol pertandingan selama 120 menit. Suatu permainan yang mengejutkan dikarenakan Belanda dikenal sebagai tim tersolid sepanjang turnamen. Dan tentu saja kedua tim yang berlaga di final ini, mereka mempunyai kunci yang serupa, kinerja tim yang solid. Spanyol dengan lini tengahnya yang bisa dibilang adalah lini tengah hampir sempurna di dunia, ditambah dengan duo striker yang maut dan Jerman yang dhuni pemain-pemain yang mempunyai spirit tinggi, perpaduan emas antara generasi muda dan tua, bahkan semua pemain bisa dikatakan berbahaya, karena mempunyai ketajaman yang tinggi dalam mengetarkan gawang lawan. Jika syarat-syarat menjadi juara sudah dipunyai oleh Spanyol dan Jerman, hanya taktik dari pelatih manakah yang paling berhasil diterapkan di lapangan. Dan kalau taktik juga berimbang, tampaknya hanya nasib baik disertai keberuntungan yang akan membawa salah satu negara ini mengangkat trophy kejuaraan Eropa tahun 2008 ini. Selamat menonton partai final Euro 2008! Siapapun juaranya, semoga kita mendapat tontonan yang mampu membuat semua orang membicarakannya sepanjang hari. Titis Sapto Raharjo 29 Juni 2008 4:37 PM
Usai sudah perjalanan fenomenal Rusia di perhelatan Euro 2008. Andrei Arshavin dkk. harus mengakui kembali keunggulan tim yg pernah mempermalukan mereka di babak penyisihan grup, Spanyol. Tiga gol tanpa balas, kalah di segala lini, minimnya koordinasi antar pemain, dan sering membuang-buang peluang adalah rangkuman permainan Rusia malam tadi. Lengkap sudah penderitaan mereka. Dengan permainan seperti itu, sangat layak bagi mereka untuk tersingkir dari turnamen akbar ini. Sebelum Rusia tampil di babak semifinal malam tadi, ada sedikit kekhawatiran mencuat. Jika kita berbicara statistik, tim Rusia harus bermain sebaik mungkin agar bisa menghentikan rekor buruk allenatore mereka, Guus Hiddink, yang terkenal dengan sebutan mister semifinal. Dua kali sudah Guus membawa tim yang dilatihnya maju ke babak sebelum final tersebut, dan dua kali juga ia gagal. Pertama pada tahun 1998, Guus membawa pasukan Oranje menampil memikat sepanjang turnamen sebelum akhirnya dipecundangi Brazil dalam drama adu penalti. Kedua, tahun 2002 Guus menangani tim tuan rumah Korea Selatan. Secara ajaib, sentuhan midas Guus berhasil mengejutkan dunia dengan mambawa tim Ginseng itu ke sebuah level yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya. Walau pada akhirnya Korsel harus mengakui keunggulan tim Panser, Jerman. Malam tadi adalah momen ketiga Hiddink dalam semifinal sebuah turnamen besar. Momen yang tepat untuk menghapus rekor buruknya. Sebelum pertandingan ia berujar, “Saya tidak memperdulikan hal itu, yang terpenting malam nanti kami berusaha meningkatkan permainan kami agar lebih baik, jika kami bertanding seperti waktu itu, lebih baik kami tak usah tampil atau kami serahkan saja dompet kami kepada Spanyol.”  Ternyata ucapan Hiddink kembali terbukti. Rusia menampilkan permainan yang sama dengan pertandingan pertama mereka, bahkan bisa dikatakan lebih buruk. Penampilan terburuk mereka sepanjang turnamen. Kutukan Semifinal terus berlanjut untuk Hiddink. Skor 0-3 menggambarkan bahwa mereka tidak belajar dari kekalahan pertama di babak penyisihan grup. Tetapi diluar kekalahan dan penampilan antiklimaks mereka, dengan pencapaian ini, sudah cukup membuktikan bahwa sepakbola Rusia mempunyai bakat-bakat emas yang akan berjaya di masa mendatang. Dan untuk Guus Hiddink, walau sentuhan midasnya berhasil membuat banyak orang berdecak kagum dan angkat topi kepadanya, tetap tidak mengecilkan fakta bahwa hanya dialah pelatih yang bisa jatuh ke lubang yang sama berkali-kali. Menjadi bulan-bulanan Luis Aragones untuk kedua kalinya dalam event yang sama, dan diperparah oleh fakta bahwa ia selalu gagal di 3 semifinal turnamen besar. Kenyataan yang pahit, namun harus bisa diterima dengan lapang dada.
Better luck next time, Guus! Titis Sapto Raharjo 27 Juni 2008 6:50 AM
 | Category: | Books | | Genre: | Sports | | Author: | Sindhunata |
Filsuf Albert Camus dari Prancis pernah berkata, “Dalam hal keutamaan dan tanggung jawab akan tugas, saya belajar dan berhutang budi pada sepak bola.” Sepak bola memang sangat kaya dengan pelbagai aspek kehidupan. Tidak heran jika sepak bola juga bisa menjadi sumber refleksi dan permenungan. Kolumnis Thomas Grassberger mengenakan pelbagai refleksi para filsuf pada permainan sepak bola.
Setiap detik hidup adalah final, begitu kata Franz Kafka. Tidakkah bola adalah ekspresi ekstrem bagi pendapat Kafka tersebut? Atau kata Johann Wolfgang Goethe, “Lebih baik lari daripada bermalas diri.” Bukankah dengan sepak bola dinyatakan, bahwa manusia yang malas akan berlari akan kalah dan tertinggal? “Yang satu roboh, yang lain tegak megah. Dengan kepala, dengan kaki, ia meloncat. Ia bertahan, dengan menaruh kepala pada kakinya,” begitulah tulis Dante dalam Infernale Firenze. Tidakkah sepak bola adalah drama bagi kehidupan yang jatuh dan bangun itu
Dikuras bagaimanapun, sepak bola tetap bagaikan mata air yang takkan kering dan akan selalu meninggalkan wilayah yang tidak bakal habis ditimba. Sepak bola akhirnya menyisakan sebuah misteri, yang tidak mungkin dipahami. Mungkin itulah sebabnya, sepak bola mendekati sebentuk religiositas, yang oleh sebagian orang dikritik sebagai menggantikan dan mengkhianato keagamaan. Apa pun halnya, sepakbola akan tinggal sebagai misteri. Dan terhadap misteri ini, orang hanya bisa menyerah dengan perasaan romantis dan tergila-gila. Karena itu demikianlah kata sastrawan Inggris Nick Hornby, “Saya tergila-gila dan jatuh cinta pada sepak bola, seperti saya harus tergila-gila dan jatuh cinta pada wanita.”
Kata pengantar diatas saya kutip dari kata pengantar yang disampaikan Penerbit Buku Kompas di dalam buku Trilogi Catatan Sepak Bola Sindhunata. Dalam menyampaikan kata pengantar tersebut, Penerbit Buku Kompas juga mengambil informasi dan refleksi dari tulisan Romo Sindhu dalam Trilogi buku tersebut.
Bola di Balik Bulan, Air Mata Bola dan Bola-Bola Nasib adalah judul dari 3 buku Trilogi Catatan Sepak Bola yang diterbitkan atas keinginan banyak pembaca Harian Kompas berdasarkan tulisan Catatan Sepak Bola Romo Sindhu yang selalu hadir di halaman pertama harian tersebut. Kelebihan tulisan Catatan Sepak Bola Sindhunata dengan tulisan Catatan Sepak Bola jurnalis atau wartawan lainnya adalah bagaimana Romo Sindhu bisa menghubungkan sepak bola dengan dunia di luarnya. Ia bisa menulis sepak bola dalam hubungannya dengan isu kemanusiaan, sastra, filsafat, sejarah, musik, krisis ekonomi, politik dan segala hal lain di luar dunia sepak bola itu sendiri. Tulisan-tulisannya sungguh menginspirasi, memotivasi, dan sangat filosofis. Kita bisa melihat bahwa sepak bola itu kaya, indah, menarik, mengharukan, penuh tragedi, buram dan mempesona dalam berbagai aspeknya.
Sudah 4 tahun lamanya Trilogi buku ini bercokol di rak buku saya, dan sudah 4 tahun lamanya juga Trilogi buku inilah yang selalu saya ambil pertama kali dari rak tersebut ketika sudah tidak ada lagi buku yang menarik untuk saya baca. Trilogi buku inilah yang mengajarkan saya untuk menulis Catatan Sepak Bola versi saya sendiri secara mendalam dan filosofis. Trilogi buku inilah yang membuat saya jatuh cinta semakin dalam di dunia sepak bola, membukakan mata saya lebar-lebar bahwa di dalam sepak bola tersimpan seluruh rumus dan pelajaran dalam hidup ini.
Trilogi buku inilah yang membuat saya ingin mengatakan : “Romo, saya berhutang banyak kepada Romo atas ilmu-ilmu kehidupan yang telah Romo ajarkan melalui sepak bola walau hanya lewat tulisan-tulisan saja.”
Sepak Bola adalah kehidupan. Seperti yang dikatakan Romo pada salah satu catatan-nya :
”Hidup yang rutin ini tidak pernah memberikan intensitas kepada manusia. Sepak bola dapat memberikan pengalaman akan intensitas itu, bila bola berubah menjadi gol. Dari tadi orang menanti gol, ia tidak tahu kapan gol itu terjadi. Tiba-tiba gol itu terjadi tanpa terduga dan takkan dapat terulang lagi. Di sinilah bola membentur kehidupan yang kosong dan rutin. Dan dalam benturan itulah bola memberikan kebahagiaan.”
Titis Sapto Raharjo 25 Juni 2008 22:09 PM 
Sejarah itu tidak terulang. Rekor buruk itu tidak kembali. Kota Wina menjadi saksi bagaimana para pasukan muda Aragones membuat sejarah baru, melaju ke semifinal setelah 24 tahun selalu tersingkir di babak perempatfinal. Tidak ada lagi kutukan untuk El Matador. Tidak ada lagi tangisan sedih, yg ada hanya tangisan bahagia. Sejarah baru telah diukir. Manolo tidak harus lagi membeli tiket pulang ke Valencia. Manuel Cáceres Artesero, adalah nama lengkap dari Manolo. Manolo el Del bombo, begitu ia biasa dipanggil oleh para pendukung Spanyol. Dia adalah seorang SUPER FANS. Fans sejati yg tidak pernah melewatkan satupun pertandingan internasional tim nasional Spanyol sejak tahun 1982. Dimanapun Spanyol bertanding, disitulah Manolo berada. Cita-citanya adalah mendatangi 12 Piala Dunia dimana ketika itu usianya akan berumur 77 tahun. Ciri khas Manolo adalah ia selalu memakai kostum timnas Spanyol nomor 12, topi Basque, dan membawa sebuah drum, yg dinamai El bombo de España. Ia juga ingin melihat timnas Spanyol berjaya di pentas internasional.  Dan semalam, mimpi Manolo hampir terwujud. Spanyol berhasil melaju ke semifinal, dan hanya 2 langkah lagi Spanyol akan meraih kembali lambing supremasi benua Eropa untuk kedua kalinya sejak tahun 1964, dimana mereka meraihnya untuk pertama kali. Penalti yg dilesakkan Cesc Fabregas ke gawang Gianluigi Buffon telah membuat kota Madrid, Barcelona, Seville, Valencia, Malaga, hingga seluruh penjuru Spanyol tumpah dalam pesta semalam suntuk. Mereka memang belum juara, namun ketika rekor buruk yg selalu menghantui seluruh penduduk Spanyol berhasil ditaklukkan, pantas rasanya menggelar pesta kecil. Prajurit Beruang Merah Rusia yg akan dihadapi di Semifinal tampaknya harus mewaspadai benar pasukan Banteng Spanyol. Layaknya Banteng, jika sudah berhasil melewati satu halangan, maka Banteng itu akan terus menyeruduk tanpa bisa ditahan lagi. Apalagi mereka pernah merasakan serudukan banteng Spanyol.
Sehari sebelum pertandingan melawan Italia, Xabi Alonso sempat berujar, “Inilah saat datangnya kebenaran,“ sebuah ucapan yg pantas mewakilkan seluruh armada Luis Aragones dalam menghadapi babak semifinal nanti. Mungkin memang benar kebenaran itu telah datang, dan kebenaran itulah yg akan mengantarkan mereka kembali ke tingkat tertinggi kasta sepakbola Eropa. Viva Espana! 
Titis Sapto Raharjo 23 June 2008 05:33 AM
Jujur, saya masih speechless hingga saat ini melihat bagaimana hanya dalam waktu SATU MENIT, nasib sebuah tim bisa berubah 180 derajat. Pertandingan tersisa hanya satu menit, ketika gol Ivan Klasnic tampaknya akan memastikan langkah semifinal pertama Kroasia di Piala Eropa, di lain pihak sisa waktu itulah yg tampaknya akan mengakhiri mimpi Turki di Euro 2008 kali ini. Tapi dalam waktu satu menit jugalah semua skenario indah Kroasia sirna.
Ketika wasit akan meniup peluit akhir, tendangan bebas terakhir yg diambil Rustu Recber berhasil mampir di kaki Semih Sentruk, beberapa detik tersisa tendangan Sentruk ke arah gawang secara tidak terduga berhasil membobol gawang Pletikosa. Keajaiban ketiga untuk Turki di turnamen ini. Saya tidak berhenti berdecak kagum dan seakan masih tidak percaya bagaimana Sentruk berhasil membuat gol paling dramatis kedua sepanjang sejarah saya menonton sepakbola (gol pertama masih dipegang Ole Solskjaer pada final Liga Champions tahun 1999).  Pertandingan berakhir imbang 1-1 dan dilanjutkan ke drama adu tendangan penalti. Seperti yg sudah diduga, tim yg membuat keajaiban di akhir pertandingan yg akhirnya memenangkan duel mental dalam adu tendangan penalty. 3 penendang Kroasia gagal, 1 penyelamatan gemilang Rustu dan mulusnya 3 penendang Turki membuat mereka mencatatkan sejarah untuk pertama kalinya maju ke semifinal Piala Eropa. Turki telah bangkit. Tahun 2002 adalah tahun terakhir dimana Turki berhasil melaju ke Semifinal turnamen besar, kala itu Piala Dunia sebelum dikalahkan Brazil. Akankah mereka mengalahkan Jerman di semifinal nanti dan membuat kejaiban keempat? Kita lihat saja nanti, untuk sekarang saya ingin mengucapkan selamat kepada tim Turki yg sudah membuat suatu tontonan paling dramatis dalam sejarah persepakbolaan. Not only once, but three times they manage to made a dramatic finale. Salut! Untuk Kroasia, sebenarnya saya menjagokan Kroasia selain Belanda di trunamen ini. Faktor utama saya kagum dengan Kroasia adalah sosok pelatih yg sangat eksentrik, Slaven Bilic. Saya kagum dengan Bilic, dia adalah seorang sosok pelatih yg ideal. Selalu semangat selama pertandingan berlangsung (bahkan sering bermain-main dengan bola jika ada kesempatan bola menghampiri-nya), sportif, taktik2nya brilian, bergaya sangat necis, dan yg paling penting dia bisa membangun banyak karakter pemain dalam tim Kroasia ini menjadi tim atau satu kesatuan, bukan sekedar individu2 yang dikumpulkan dalam satu tim.  Saya yakin masa depan Kroasia akan sangat cerah di tangan Bilic. Piala Dunia 2010 minimal mereka bisa masuk perempatfinal, itulah prediksi saya. Bukan tidak mungkin tim muda Kroasia ini akan mengulangi sejarah tim senior jaman Slaven Bilic dan Davor Suker pada tahun 1998. Who knows?
 Juara dunia itu akhirnya melaju ke perempatfinal secara dramatis. Campur tangan Tuhan berperan besar menolong pasukan Azzuri menghadapi Spanyol di perempatfinal hari Jumat esok. Kalau saja Penalti Adrian Mutu masuk, kalau saja Rumania bisa mengalahkan Belanda, dan kalau saja Frank Ribery tidak cedera, lalu Eric Abidal tidak diusir wasit, akan lain cerita yg tersaji pada perhelatan Euro 2008 kali ini. L'Italia s'è desta. Italia telah bangkit! Mereka berhasil menjawab kritikan pedas yg dilontarkan ketika dibantai Belanda pada pertandingan pertama. Selain jasa besar Gigi Buffon dan timnas Belanda, Italia harus berterimakasih kepada lini tengah mereka yg bermain sangat apik. De Rossi - Pirlo - Gattuso - Perrota - Cassano layaknya pasukan Romawi yg berjuang tanpa kenal rasa lelah. Sayangnya Luca Toni tidak berada dalam form terbaiknya, karena jika Toni tajam malam tadi, bisa dipastikan akan banyak gol yg akan digelontorkan ke gawang Gregory Coupet. Keberhasilan Italia melaju ke perempatfinal memakan korban, dua centrocampista handal dari AC Milan, Andrea Pirlo dan Gennaro Gattuso harus absen karena terkena akumulasi kartu. Maka dipastikan lini tengah Italia akan sedikit pincang menghadapi solidnya lini tengah pasukan Luis Aragones nanti. Xavi Hernandes, Andres Iniesta, Marco Senna dan David Silva siap memenangkan lini tengah yg ditinggalkan Pirlo dan Gattuso. Apapun yg terjadi, dipastikan akan terjadi duel klasik antara Italia dan Spanyol di Wina nanti.  Malang benar bagi Les Blues, biang keladi kegagalan Prancis pada perhelatan akbar Euro 2008 kali ini adalah tidak lain tidak bukan adalah sang pelatih, Raymond Domenech. Dialah yg harus bertanggung jawab atas buruknya performa Les Blues di ajang ini. Tidak imbangnya pemain yg dipanggil antara senior dan junior membuat timpang permainan di lapangan. Kesalahan terbesar Dome adalah percaya klenik dan hal-hal diluar akal manusia. Seperti dia tidak akan memanggil pemain yg berbintang Scorpio atau pemain yg lahir pada bulan Oktober. Dia juga tidak mau memanggil pemain yg bermain di Liga Italia. Kecerobohan terbesar federasi sepakbola Prancis adalah mempercayakan arsitek tim dipegang oleh seorang yg begitu "gila". Masuknya Prancis ke final piala dunia lalu lebih banyak disebabkan oleh faktor Zizou, bukan Dome. Ketika Zizou pensiun dari timnas, lalu Vieira cedera parah, lini tengah Prancis kehilangan arah. Jeremy Toulalan dan Claude Makalele adalah perpaduan yg buruk. Frank Ribery bermain sendiri tanpa ada bantuan yg memadai. Lini depan yg dihuni Henry - Benzema - Govou tumpul. Tampaknya sudah saatnya FFF memecat Dome dan menarik Arsene Wenger ke timnas Prancis. Au Revior Les Blues.
 3-0 against the world champions. 4-1 against former world and european champions. Top of the group C or as all we know, the group of death. What's next ?? Champions of European Cup !!  A Dutch of Class.. Total Football at the highest level. Marco van Basten magical touch. Robben, Van Persie, RVN, Kuyt, Van Der Vaart, Sneijder all superb at offense. Orlando Engelaar, De Jong, Bouhlarouz, Gio, Ooijer, Mathijsen, VDS solid rock at defense. Together they make a team. Wonder team. Playing like a team that comes from outside of this planet.  Hail for the Dutch. Hail DE ORANJE !! Play beauty for Glory !!
3 hari menjelang hajatan terbesar sepakbola Eropa, Euro 2008 yg untuk kali ini akan diadakan di dua negara, Austria dan Swiss. Mengingatkan saya kepada format piala dunia 2002, Jepang dan Korea, bahkan mengekor Asian Cup 2007 tahun lalu yg bertuan rumah 4 negara sekaligus. Berbicara tentang hajatan akbar sepakbola, pasti berbicara juga tentang jutaan bahkan milyaran penggila sepakbola diseluruh dunia yg akan disibukkan oleh event empat tahunan sekali ini. Para pekerja kantoran pusing mengatur jam tidurnya agar urusan di kantor tetap fit sementara di rumah tidak mau kelewatan satupun pertandingan. Para businessman atau pengusaha harus pintar membagi waktunya agar urusan bisnis tidak tercampur dengan urusan sepakbola.. Para mahasiswa mulai mengatur jadwal agar tidak tertidur ketika diadakan kuliah pagi. Para adik-adik yg duduk di bangku sekolah ada yg senang ada yg merana. Yg sudah melaksanakan ujian bisa menjadikan Euro sebagai hiburan di kala liburan, sementara adik kelasnya, menggerutu karena harus merelakan kehilangan sebagian pertandingan karena harus belajar dan tidur demi ujian kenaikan kelas. Para pengganguran tentunya yg akan berbahagia karena bisa fokus menyaksikan turnamen ini secara utuh dari awal sampai final nanti. Para wanita, ibu-ibu, pacar-pacar, istri-istri yg tidak menyukai sepakbola tentunya harus rela pasangannya selingkuh selama sebulan ini. Saya sebagai salah satu bagian dari lingkaran penggila sepakbola tentunya juga repot dan pusing setiap menjelang hajatan akbar sepakbola. Jika saya dikelompokkan dalam kelompok diatas pada saat bisa masuk dalam kelompok mana saja kecuali pelajar dan wanita. Pekerjaan kontraktor di perusahaan ayah saya lagi sepi order, pekerjaan di bidang musik masih bisa diatur waktunya, dan pekerjaan utama saya saat ini adalah menyelesaikan Skripsi. Sebenarnya skripsi saya sudah memasuki tahap akhir, tinggal diperlukan sentuhan akhir, revisi sedikit maka saya sudah siap maju sidang, masalahnya ya ini.. Euro 2008. Saya tidak akan nekad memaksakan sidang dikala turnamen akbar ini, karena sudah pasti tentunya saya tidak bisa konsen dan fokus, saya juga mempunyai sedikit sejarah yg kurang baik dalam bidang pendidikan di setiap turnamen akbar sepakbola. Berikut fakta-faktanya : - Euro 2000 : Tidak terlalu berpengaruh, karena saya pada waktu itu masih SMU, dan seingat saya turnamen itu digelar pada saat saya liburan panjang. - World Cup 2002 : Turnamen diadakan dikala saya mengikuti bimbingan belajar untuk persiapan SPMB, pada saat itu pertandingan diadakan siang,sore sampai malam hari. Karena itu saya sering bolos bimbingan belajar karena paginya ngantuk, setiap malam tidak pernah belajar untuk persiapan SPMB karena sibuk menonton dan mengikuti perkembangan world cup. Alhasil ketika mengikuti ujian SPMB saya seperti kekurangan amunisi, yg ada diingatan saya hanya dua gol Ronaldo di final, serunya Turki vs Korea Selatan di partai perebutan tempat ketiga dan sensasi Senengal di Korea-Jepang kala itu. Saya gagal masuk UI. Haha. - Euro 2004 : Piala Eropa kedua saya yg berhasil saya ikuti dari awal sampai habis, dikala itu turnamen diadakan ketika saya mengikuti semester pendek atau padat. Saya mengambil dua mata kuliah. Dikarenakan pertandingan diadakan dini hari, saya jadi sering bolos kuliah pada paginya, untungnya bisa diabsenin jadi gak masalah, tapi tetap saja ujian nge-blank. Alhasil satu matakuliah dapet C (ini hoki karena dosennya dah pasti lulus kalo masuk terus), yg satu lagi gak lulus, dapet E. Hahaha. - World Cup 2006 : Turnamen diadakan lagi-lagi ketika saya mengikuti Semester Pendek. Walaupun saya tahu saya akan tidak fokus, saya tetap nekad ikut SP, dan gilanya lagi saya mengambil 3 matakuliah yg luar biasanya susah. Dalam hati saya, bisalah saya sesuaikan waktu nonton dan belajar untuk kali ini, gak terlalu excited ini sama WC 2006. Hasilnya ? Dugaan saya SALAH BESAR. Saya mengikuti full turnamen dari awal sampai habis. Dan nasib 3 matakuliah itu ? Hancur lebur. Saya kembali membakar uang orangtua. Nilai D-E-E menghiasi KHS saya, bahkan untuk satu matakuliah saya tidak mengikuti ujian karena ngantuk berat sehabis nonton babak perempatfinal. - Asian Cup 2007 : Yg ini paling istimewa, karena saya merasakan saya mendapat balasan yg setimpal atas kesetiaan saya mengorbankan apa saja demi sepakbola di tahun-tahun sebelumnya. Saya diterima kerja menjadi volunteer di turnamen ini. WOW ! Bekerja di sebuah turnamen yg sekelas dengan European Cup adalah mimpi yg menjadi kenyataan. Getting paid for watching football. Memang bekerja dalam bidang yg kita senangi adalah hal paling membahagiakan di dunia, saya menikmati setiap menit bekerja dalam event Asian Cup ini. Tapi adakah yg dikorbankan ? Ternyata ada ! Hahaha. Saya harus melewatkan satu ujian akhir yg ujung2nya saya bakal dapet E karena saya karena harus mempersiapkan pertandingan Indonesia vs Bahrain. Apakah saya menyesal ? Tidak sama sekali, karena jikalau saya datang pas ujian, saya toh tidak akan konsen dan sudah pasti blank dalam pengerjaannya, karena selain tidak belajar sama sekali, pikiran saya pasti melayang ke Senayan membayangkan atmosfir disana. Hahaha. - Euro 2008 : Demi menghindari hal-hal yg tidak diinginkan, tampaknya saya harus menunda sidang saya sampai selesai turnamen ini, agar semuanya berjalan dengan lancar, karena kalo saya nekad mau daftar sidang untuk bulan ini atau bulan Juli awal. Hmmm.. Saya ngeri membayangkannya. Hahaha. Karena pastilah saya tidak bisa fokus (itu udah jadi harga mati ! Haha). Jadi, selama EURO ini diharapkan saya bisa menyelesaikan skripsi saya, kemudian diacc, dan ketika selesai Euro baru saya mendaftar sidang, mudah-mudahan semuanya berjalan lancar. Doakan saya ya teman-teman. Hehehe. Itulah mengapa saya selalu mengatakan bahwa TURNAMEN SEPAKBOLA ITU RACUN ! Dibilang racun karena kalo saya biarkan terus menerus tanpa kontrol bisa membahayakan karir saya. Karena sepakbola telah mendarah daging dalam kehidupan saya, merupakan salah satu elemen terpenting dalam hidup. Bukan menjadi racun kecuali jika dalam beberapa tahun mendatang saya bisa bekerja dalam bidang persepakbolaan atau istilahnya getting paid for watching football. Tapi jika tidak, maka setiap turnamen pasti saya akan menulis jurnal seperti ini. Jika saya sudah bekerja secara tetap nanti, mudah-mudahan bos saya di World Cup 2010 adalah penggila sepakbola juga, jika tidak ? Repotlah saya. Hahaha.
 Wuuuuuuuhhhhhhhhhhuuuuuuuuuuuuuu !!!!!!! Words cannot describe how i feel today. Just sing and sing with our lads. Big smile upon my face. 17th Premiership title.10th for the gaffer, Sir Alex Ferguson. 10th for our legend, Giggsy. 2nd for two wonderkids, Rooney and Ronaldo. 1st for the new boys : Anderson, Nani, Tevez and Hargreaves. Surely, i will give perfect 10 for the score of Manchester United performance this season. Bring on Champions League Final. Full Speed Ahead to Moscow. Destroy Chelsea. Champions in Europe again ! Hopefully. GLORY GLORY MANUTD !  There' s Only One United There' s Only One United There' s Only One United There' s Only One United Champione, Champione Oh Wey, Oh Wey, Oh Wey Champione, Champione Oh Wey, Oh Wey, Oh Wey We Retained The Premier League Last Year On Merseyside Last Year On Merseyside Last Year On Merseyside We Retained The Premier League Last Year In Merseyside Last Year In Merseyside Ryan Giggs, Ryan Giggs Running Down The Wing Ryan Giggs, Ryan Giggs Running Down The Wing Feared By The Blues, Loved By The Reds Ryan Giggs, Ryan Giggs, Ryan Giggs Glory, Glory Man united Glory, Glory Man united Glory, Glory Man united And The Reds Go Marching On! On! On! Sing Up For The Champions Sing Up For The Champions Sing Up For The Champions Sing Up For The Champions
 Follow Follow Follow ! Cause Man.United are going to Moscow !! Finally, after 9 years !!! We're back to European Champions League Final !!! Speechless gue pas wasit niup peluit akhir.. Gilak !! Mau nangis rasanya, badan merinding, udah berasa kyk juara aja. 5 Menit akhir adalah momen-momen dimana gue merasakan ketegangan luar biasa selama jadi pendukung MU. Loncat-loncat mulu pas Barca dapet peluang, ngeri bola-nya masuk gawang euy.. Perut mules, ga bisa diem kyk cacing kepanasan. Teriak-teriak.. Wasitttttttttt.. Abiss donk... Lama bener.. Meja dan kursi disebelah gue jadi korban gue tendang-tendang, dan gue pukul-pukul. Kasian juga jantung gue, deg2an parah bener. Pas peluit akhir.. Wahh legaa !! Paul Scholes magnificent goal. Rio Ferdinand - Wes Brown - Owen Hargreaves - Patrice Evra solid defending. Edwin Vander Sar great goalkeeping. Park Ji Sung -- > Man of The Match !! Michael Carrick - Darren Fletcher - Ryan Giggs - Nani - Cristiano Ronaldo - Carlos Tevez thank you !! Great job, lads ! Sebelum ke Moscow, mari tuntaskan dulu perjalanan selama semusim di EPL. Bantai Westham dan Wigan, amankan gelar dan kita menuju Moscow dengan keyakinan penuh akan juara lagi !! Let's sing together, mate ! Follow Follow Follow ! Cause Man.United are going to Moscow !! Follow Follow Follow ! Cause Man.United are going to Moscow !! Follow Follow Follow ! Cause Man.United are going to Moscow !! See u at Moscow !
 Kocak ? Kasar ? atau malah Kreatif ? Nah itulah tulisan yg gue liat kmaren di bagian belakang kaos salah satu tukang parkir pas gue mampir ke Warung Lela di Bandung. Di depan baju-nya ada tulisan : VIKING - gede banget ! Di belakangnya ada tulisan itu dgn gaya tulisan seperti gini : KetikPERSIJASpasi ANJINGKirim ke NERAKAGue spontan ngakak di dalem mobil pas ngeliat tulisan itu. Pas turun gue cuma bisa mesem-mesem aja, pengen banget gue foto, tapi agak males euy, nanti dikirain itu tukang parkir gue pasti orang Jakarta, pendukung Persija lagi, hehehehe.. Gue cuma bayangin kalo tukang parkir itu ke Jakarta pake baju itu bakal diapain ya sama orang-orang The Jak ? trus gue juga bayangin, kalo ada orang The Jak yg kebetulan ke Bandung trus liat baju itu, kira2 mereka bakal ngapain ya ? Memang Persija sama Persib kagak ada mati-nya deh kalo soal musuh2an. Jadi gak sabar musim depan pas kedua tim bertemu. Anyway, karena topiknya masih hangat soal sepakbola nasional, gue mau mengucapkan selamat kepada laskar Wong Kito, SRIWIJAYA FC yg berhasil meraih double winner di kompetisi Liga Indonesia dan Copa Indonesia. Kredit terbesar harus diberikan kepada coach Rahmad Darmawan. Semoga dia bisa jadi pelatih timnas, kalo ternyata Bendoel ga bisa memberikan yg terbaik buat timnas nantinya. Oiya ngomongin final tadi, kedua kiper emang pantes banget jadi kiper utama timnas. Baik Feri Rotinsulu dan Markus Horison bermain sangat gemilang. Cuma ketololan sedikit dari Markus di menit 24 babak perpanjangan waktu kedua membuat PSMS harus takluk. Markus emang jago, cuma kalo udah sekalinya tolol, jadi ngaruh ke penampilan tim. Jadi inget pas dia kebobolan lawan Syria lewat kolong. Parah banget, cuy !
2007/08 UEFA Champions League First knockout round Team named first at home in first leg
| | Celtic FC (SCO) v FC Barcelona (ESP) | | Olympique Lyonnais (FRA) v Manchester United FC (ENG) | | FC Schalke 04 (GER) v FC Porto (POR) | | Liverpool FC (ENG) v FC Internazionale Milano (ITA) | | AS Roma (ITA) v Real Madrid CF (ESP) | | Arsenal FC (ENG) v AC Milan (ITA) | | Olympiacos CFP (GRE) v Chelsea FC (ENG) | | Fenerbahçe SK (TUR) v Sevilla FC (ESP) | wah seru banget !!!!!!! Milan ketemu Arsenal en Liverpool ketemu Inter, bener2 mereka jarang banget ketemu di Liga Champions, jadi ada sesuatu yg baru nih. Partai yg pantes ditonton adalah Roma vs Madrid dan Lyon vs MU. Yg laennya ya begitulah.. Chelsea enak banget lagi dapet cuma Olympiakos, sama juga kyk Sevilla, lebih parah dari Schalke vs Porto, emangnya ini piala UEFA ? hehehehe. Enjoy the top 16, guys !
Sudahlah.. ga bisa dibanggain dan dibelain emang. Udah bagus gue masi belain abis dibantai Syria 0-7 kmaren, eh masi aja maennya begitu. Kalo kayak gini gue bisa ga nasionalis, padahal gue sangat antusias terhadap perkembangan sepakbola nasional dan berharap Indonesia bisa terus berkembang, ternyata emang cuma bisa segini aja.
Hati gue hancur banget ngeliat permainan timnas kyk tadi. Apa hasil dari Argentina ???? Apa ??? Untuk dibantai dan tersingkir di babak awal SEA GAMES ?
Timnas Ancur. PSSI Korup. Rehat dulu dah gue belain timnas Indonesia untuk sementara.

Group A Swiss Ceko Portugal Turki Group B Austria Croatia Jerman Polandia Group C Belanda Italy Rumania Prancis Group D Yunani Swedia Spanyol Russia Grup C sakit banget ! Hahaha.. Parah parah ! Bisa ketemu gitu 3 tim kuat di satu grup, kalo grup laen kyknya biasa-biasa banget. Ohya, where's England ? Ouw ga lolos ya ? hahahaha.. Yg ngundi tangannya bau nih, masak Belanda-Rumania, Itali-Prancis, Swedia-Spanyol yg udah saling ketemu di zona kualifikasi, skrg bisa satu grup lagi. Duh payah deh, jadi agak mengurangi dikit esensi Euro, cuma biarpun gmana, Juni besok siap2 begadang !
Chelsea Gagal Lagi ! Mimpi Buruk Mourinho Terulang Kembali di Anfield !
Tulisan seperti itulah yg saya kira bakal terpampang pada headline
mayoritas media cetak maupun elektronik di sekitaran London esok pagi. Dari
malam ini (waktu London) sampai esok, kota itu akan penuh warna. Tersingkirnya
Chelsea bisa berarti dua hal : banyak yg menyambutnya sebagai sebuah berita
bahagia, terutama pendukung Arsenal, dan tidak sedikit juga yg menyambutnya
sebagai berita duka. Yang tersisa disana hanyalah dua fakta yg mencolok : Arsenal masih lebih baik dari Chelsea untuk
mewakili London di ajang Liga Champions dan kegagalan London bersaing dengan Liverpool. Bagi masyarakat
Inggris, sepakbola adalah bagian dari hidup, gengsi kedaerahan masih sangat
mencolok disini. Alih-alih bangga dengan menempatkan ketiga klub-nya di
semifinal Liga Champions tahun ini, mereka sebenarnya saling bersaing demi gengsi
kota mereka masing-masing. London, Liverpool dan Manchester.
Kedominanan Chelsea di liga domestik 2 musim terakhir seakan tidak berarti
jika mereka tidak bisa meraih Piala Champions, jangankan meraih, untuk masuk
final saja mereka tidak mampu, bahkan pelatih sekaliber Jose Mourinho yg sudah
merasakan gelar tertinggi di daratan Eropa itu bersama FC Porto tidak bisa
berbuat banyak. Dinihari tadi, Mourinho kembali gagal di semifinal kedua-nya
sebagai pelatih Chelsea di Liga Champions. Tragisnya Chelsea gagal di tangan
tim dan pelatih yg sama, Liverpool dengan Rafa Benitez-nya. Jika pada musim
kompetisi 2004/2005, Mourinho menyalahkan gol kontroversial Luis Garcia yg
menyebabkan tim-nya tersingkir, musim ini Mourinho harus menerima kenyataan bahwa
mental para pemain-nya memang belum teruji benar di kompetisi itu. Mereka
seakan belum ditakdirkan untuk menjadi tim besar layaknya Liverpool dan
Manchester United.
Setelah hampir kehilangan gelar di kompetisi domestik minggu lalu, kali ini
Chelsea harus kembali merelakan lagi satu gelar hilang. Kegagalan demi
kegagalan seperti menyeruak di kubu Chelsea tahun ini. Yang paling fatal adalah
ketika Jose Mourinho kalah taktik dengan Rafa Benitez dinihari tadi. Benitez
berhasil menerapkan permainan yg mematikan kreasi anak-anak Mourinho sepanjang
120 menit. Gol tunggal Daniel Agger cukup untuk membuat kubu Chelsea tidak bisa
keluar dari tekanan. Armada penalti Liverpool yg disiapkan Benitez juga lebih
teruji dibandingkan armada penalti Chelsea. Petr Cech yg begitu superior
sepanjang pertandingan juga dipaksa mengakui keunggulan Jose Reina sebagai
penjaga gawang yg tangguh. Hasil ini seakan menunjukkan bahwa sederetan pemain
glamour tidak menjamin kesuksesan klub. Kerja keras dan mental yg kuat-lah yg
menjamin semua itu, dengan sedikit hoki juga tentu-nya.
Better luck next time, Jose .. upss..
Chelsea !!
Tanpa mengecilkan Liverpool yg dengan hebat menyuguhkan salah satu permainan terbaiknya musim ini, jurnal ini khusus dibuat untuk menyoroti
kegagalan Chelsea di ajang Liga Champions.
| |