Titis Sapto's posts with tag: erk
 | Category: | Music | | Genre: | Pop | | Artist: | Efek Rumah Kaca |
Apakah terlalu muluk-muluk jika saya memberi julukan kepada band ini sebagai : BAND PENYELAMAT BANGSA !
Saya kira tidak, karena setelah mendengarkan keseluruhan track dari album debut mereka yg diberi titel nama band mereka sendiri, saya menemukan suatu pengalaman musik yg sudah lama tidak saya rasakan ketika mendengarkan album-album musisi atau band lokal akhir-akhir ini. Pengalaman musik yg WOW ! Mungkin terasa hampir sama sensasi-nya ketika saya mendengarkan album SORE - Centralismo beberapa tahun yg lalu.
Efek Rumah Kaca bukan hanya berhasil membuat suatu musik yg brilian, tetapi lewat lirik-lirik cerdas dalam lagu-lagu di album ini (catat : semua lirik berbahasa Indonesia), mereka berhasil membuka mata kita lebar-lebar bahwa kehidupan di masa sekarang sudah jauh melenceng dari jalur kehidupan bermanusia normal. Semua serba bergantung dan terseret dengan arus teknologi, konsumerisme dan urban culture. Mereka bisa menyebarkan pesan-pesan penuh makna tanpa terkesan menggurui. Mereka dengan bebas mengkritisi hal-hal yg sudah berjalan tidak semestinya dengan sangat brilian melalui lirik-lirik yg sederhana namun mengena.
Dalam album perdana-nya ini, Efek Rumah Kaca mengangkat hampir semua topik di kehidupan lewat lagu-lagunya.
Di lagu Belanja Terus Sampai Mati, mereka dengan gamblang memaparkan bagaimana tingkat konsumerisme masyarakat urban sudah mencapai titik yg sangat meresahkan. ”Atas bujukan setan, hasrat dan terjebak zaman ”Kita belanja terus sampai mati”
Di lagu Cinta Melulu mereka mengkritisi band-band lokal (atas tuntutan pasar) yg makin kesini makin gemar membuat lagu bertemakan cinta dengan melodi dan lirik yg sangat komersil. “Lagu cinta melulu Kita memang benar-benar Melayu Suka mendayu-dayu Lagu cinta melulu Apa memang karena kuping Melayu? Suka yang sendu-sendu”
Di lagu Di Udara, mereka mendedikasikan lagu ini untuk almarhum Munir, seorang pahlawan di dunia perpolitikan Indonesia yg akhirnya harus “dihilangkan” demi kepentingan negara. Aku bisa diracun di udara Aku bisa terbunuh di trotoar jalan Tapi aku tak akan pernah mati Tak akan berhenti Aku bisa dibuat menderita Aku bisa dibuat tak bernyawa Dikursilistrikan ataupun ditikam...”
Album ini ditutup oleh sebuah lagu penenang hati berjudul Desember. Mendengarkan lagu ini seakan kita terbawa terbang ke dunia baru dimana semua terlihat lebih cerah, damai dan membawa kita hanya memikirkan hal yg positif saja. Lagu yg membuat pikiran saya terawang-awang dan diakhiri dengan senyum kecil. “Seperti pelangi setia menunggu hujan reda Aku selalu suka sehabis hujan di bulan Desember Di bulan Desember... Sampai nanti ketika hujan tak lagi Meneteskan duka meretas luka Sampai hujan memulihkan luka...”
Sebuah album yg bisa membuat bulu kuduk saya merinding. Sebuah album yg mampu membuat saya terharu bahwa industri musik Indonesia akan kembali terselamatkan oleh mereka di tengah serbuan band-band yg tidak jelas junjrungannya. Sebuah album yg mampu membius saya untuk menjadikan mereka salah satu lokal favorit saya sepanjang masa. Sebuah album yg memaksa saya untuk bersabar demi menyaksikan aksi panggung mereka secepatnya.
Sebuah album yg fantastis.
Titis Sapto Raharjo 15 Februari 2008 04:55 AM 
| |
|