Titis Sapto's posts with tag: erk

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag erk
ReviewReviewReviewReviewEfek Rumah KacaFeb 14, '08 5:01 PM
for everyone
Category:Music
Genre: Pop
Artist:Efek Rumah Kaca
Apakah terlalu muluk-muluk jika saya memberi julukan kepada band ini sebagai : BAND PENYELAMAT BANGSA !

Saya kira tidak, karena setelah mendengarkan keseluruhan track dari album debut mereka yg diberi titel nama band mereka sendiri, saya menemukan suatu pengalaman musik yg sudah lama tidak saya rasakan ketika mendengarkan album-album musisi atau band lokal akhir-akhir ini. Pengalaman musik yg WOW ! Mungkin terasa hampir sama sensasi-nya ketika saya mendengarkan album SORE - Centralismo beberapa tahun yg lalu.

Efek Rumah Kaca bukan hanya berhasil membuat suatu musik yg brilian, tetapi lewat lirik-lirik cerdas dalam lagu-lagu di album ini (catat : semua lirik berbahasa Indonesia), mereka berhasil membuka mata kita lebar-lebar bahwa kehidupan di masa sekarang sudah jauh melenceng dari jalur kehidupan bermanusia normal. Semua serba bergantung dan terseret dengan arus teknologi, konsumerisme dan urban culture. Mereka bisa menyebarkan pesan-pesan penuh makna tanpa terkesan menggurui. Mereka dengan bebas mengkritisi hal-hal yg sudah berjalan tidak semestinya dengan sangat brilian melalui lirik-lirik yg sederhana namun mengena.

Dalam album perdana-nya ini, Efek Rumah Kaca mengangkat hampir semua topik di kehidupan lewat lagu-lagunya.

Di lagu Belanja Terus Sampai Mati, mereka dengan gamblang memaparkan bagaimana tingkat konsumerisme masyarakat urban sudah mencapai titik yg sangat meresahkan.
”Atas bujukan setan, hasrat dan terjebak zaman
”Kita belanja terus sampai mati”


Di lagu Cinta Melulu mereka mengkritisi band-band lokal (atas tuntutan pasar) yg makin kesini makin gemar membuat lagu bertemakan cinta dengan melodi dan lirik yg sangat komersil.
“Lagu cinta melulu
Kita memang benar-benar Melayu
Suka mendayu-dayu
Lagu cinta melulu
Apa memang karena kuping Melayu?
Suka yang sendu-sendu”


Di lagu Di Udara, mereka mendedikasikan lagu ini untuk almarhum Munir, seorang pahlawan di dunia perpolitikan Indonesia yg akhirnya harus “dihilangkan” demi kepentingan negara.
Aku bisa diracun di udara
Aku bisa terbunuh di trotoar jalan
Tapi aku tak akan pernah mati
Tak akan berhenti
Aku bisa dibuat menderita
Aku bisa dibuat tak bernyawa
Dikursilistrikan ataupun ditikam...”


Album ini ditutup oleh sebuah lagu penenang hati berjudul Desember. Mendengarkan lagu ini seakan kita terbawa terbang ke dunia baru dimana semua terlihat lebih cerah, damai dan membawa kita hanya memikirkan hal yg positif saja. Lagu yg membuat pikiran saya terawang-awang dan diakhiri dengan senyum kecil.
“Seperti pelangi setia menunggu hujan reda
Aku selalu suka sehabis hujan di bulan Desember
Di bulan Desember...
Sampai nanti ketika hujan tak lagi
Meneteskan duka meretas luka
Sampai hujan memulihkan luka...”


Sebuah album yg bisa membuat bulu kuduk saya merinding. Sebuah album yg mampu membuat saya terharu bahwa industri musik Indonesia akan kembali terselamatkan oleh mereka di tengah serbuan band-band yg tidak jelas junjrungannya. Sebuah album yg mampu membius saya untuk menjadikan mereka salah satu lokal favorit saya sepanjang masa. Sebuah album yg memaksa saya untuk bersabar demi menyaksikan aksi panggung mereka secepatnya.

Sebuah album yg fantastis.

Titis Sapto Raharjo
15 Februari 2008
04:55 AM


© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help