 | Category: | Movies | | Genre: | Action & Adventure |
What term do you usually use when you saw a movie that goes well from the beginning till the end, all cast were superb, special effects magnificent, the storyline near perfect and plus all of that beyond your expectation? The term I usually use is MASTERPIECE! Tidak puas rasanya untuk film sekaliber TDK ditonton hanya sekali saja, film ini minimal harus ditonton 3x baru saya bisa dengan jelas menjabarkan semua detil yang terdapat dalam waktu 2,5 jam itu. TDK menggambarkan A magical movie experience, walaupun filmnya sangat Dark dan Creepy. Benar-benar kita dibuat tegang dan ketakutan setengah mati oleh jalan ceritanya, bahkan sampai membuat cemilan yang saya bawa lupa saya makan karena saking serunya menyimak ceritanya. Membius dari awal hingga akhir. Tidak biasanya saya speechless seperti ini terhadap sebuah film dan The Dark Knight mampu membuat saya seperti ini. Sinopsis : Bruce Wayne/Batman (Christian Bale) continues to eliminate crime in Gotham City with the help of Lt. Jim Gordon (Gary Oldman) and District Attorney Harvey Dent (Aaron Eckhart). The Dark Knight wants to finally get rid of organized crime for good and be free of their corruption. Batman soon finds that a new psychopathic mastermind known as the Joker (Heath Ledger) has taken over organized crime. After the fall of Carmine Falcone, the remaining crime bosses try to pick up the pieces. However, the Joker is killing them off one by one. The Joker's plan is to terrify the citizens and throw the city into chaos, and then kill Batman. Batman takes the fight with the Joker personal, which makes him confront his own beliefs. The Joker is the most dangerous criminal that Batman has encountered, and he will need all his strength and vigilance to defeat him. 
JOKER playing as a JOKER. He's not Heath Ledger. Heath begitu sempurna memerankan tokoh penjahat nomor satu bagi Batman. Setiap scene yang dipenuhi dengannya begitu mencekam. Melihat kebrutalannya dalam menghabisi setiap korbannya, tertawaan tiada akhir, quote dan cerita yang begitu membekas. Joker is a legend.

Bruce Wayne a.k.a Batman still superb. Dengan bantuan Lucius dan Alfred, Batman mampu menjalankan tugasnya dengan sempurna, ditambah kemampuan kostumnya yang telah dimodifikasi dan BatPod yang tiba-tiba menjadi penyelamat Batman dikala Batmobile harus turun mesin.

Harvey Dent a.k.a Two Face playing very superb. Sebagai sebuah jaksa wilayah, Harvey begitu kuat memegang prinsipnya, dengan kekuasaannya pula banyak penjahat yang berhasil diringkus, namun kecelakaan fatal dan kehilangan yang hebat membuatnya kehilangan akal dan menjadikannya salah satu villain di film ini, Two Face. Sosok pergantian Harvey Dent menjadi Two Face benar-benar diperlihatkan sebagai Two Face yang sebenarnya. You'll be amazed.

All thumbs up for Christopher Nolan! Kemampuan dari sutradara muda ini tidak usah diragukan lagi. Memento, Insomnia, Batman Begins, The Prestige dan sekarang, The Dark Knight. Dia tentunya akan bergabung dengan jajaran sutradara legenda di Hollywood.
Pemeran pembantu seperti Lucius Fox (Morgan Freeman), Rachel Dawes (Maggie Gyllenhaal), Lt. James Gordon (Gary Oldman), Alfred (Michael Caine) benar-benar maksimal. Tidak ada miscast, semuanya bermain sebagaimana porsi-nya masing-masing. Superb!
Last but not least, I'm Thrilled!!!
Titis Sapto Raharjo 18 July 2008 21:16 PM
  | Category: | Movies | | Genre: | Romance |
Sebenarnya sudah cukup lama pertama kali saya menonton film ini, tepatnya tanggal 1 Februari 2008 lalu. Saya bahkan diberi kehormatan untuk menonton premiere seluruh Indonesia bagi rekan blogger dan wartawan di studio premiere EX, kebetulan saat itu saya diundang oleh Ichwan Persada, seseorang yang bekerja sebagai publicists di film perdana karya Kabir Bathia ini. Tugas saya ketika selesai menonton premiere film ini adalah mereviewnya, tetapi pada saat first viewing banyak detil-detil yang terlewatkan sehingga agak sulit untuk saya menulisnya dengan padat, ditambah kesibukan yang menggunung sehingga saya semakin melupakan tugas saya itu. Nah kebetulan pada bulan ini, VCD LoVe sudah beredar di pasaran, pucuk dicinta ulam pun tiba. Saya membeli VCD-nya lalu menontonnya kembali malam tadi. Detil-detil yang hilang disaat menonton pertama kali ini tersampaikan dengan baik, ternyata memang butuh dua kali menonton film perdana karya sutradara Kabir Bathia ini untuk saya bisa mereview-nya. Sesuai dengan judulnya, LoVe bercerita tentang Cinta. Cinta antara dua insan manusia. Namun bukan satu pasangan, melainkan 5 pasangan manusia. LoVe mempunyai format seperti Crash dan Love Actually, dimana kita akan melihat 5 cerita yang berbeda namun kesemuanya mempunyai satu benang merah, dimana dalam masing-masing karakter dalam satu cerita akan bertemu secara tidak langsung maupun langsung dengan masing-masing karakter di cerita yang lainnya, tentunya ada yang saling berkaitan, ada pula yang tidak berkaitan. Satu benang merah dalam 5 cerita itu adalah CINTA. 5 kisah cinta yang mampu membuat kita akan tersenyum, sedih, tertawa, bahagia, menangis, terharu, marah, kesal, simpati, antipati, gregetan, dan semua hal yang biasa kita alami dalam kehidupan sehari-hari. Kisah cinta pertama mengisahkan Rama (Fauzi Badilla), lelaki sederhana yang mempunyai kebiasaan unik mengumpulkan kartu undangan namun mempunyai kisah pahit tentang cinta, ia dipertemukan oleh Iin (Acha Septiasa), gadis lugu asal Sukabumi yang datang ke Jakarta untuk mencari pacarnya yang telah mengkhianati-nya untuk perempuan lain. Kesamaan nasiblah yang mempersatukan mereka berdua. 
Kisah cinta kedua mengisahkan Lestari (Widyawati) yang mempunyai sebuah restoran, dipertemukan dengan pak guru Nugroho (alm. Sophan Sophiaan) disaat usia mereka yang tidak muda lagi. Lestari dengan kesabaran dan kasih sayangnya menerima keadaan Nugroho yang mempunyai penyakit Alzheimer, penyakit yang membuatnya selalu lupa dengan apa yang diperbuatnya di hari kmarin, bahkan Lestari-pun tidak ia kenali ketika ia bertemu lagi. Namun Lestari terus menerus berusaha agar Nugroho bisa mengingatnya di setiap harinya.
Kisah cinta ketiga mengisahkan Gilang (Surya Saputra) dengan Miranda (Wulan Guritno), pasangan muda yang mempunyai anak pengidap autis akut, Icha. Miranda yang ternyata tidak siap dengan kehidupan pernikahan ditambah mempunyai anak yang tidak normal melakukan perselingkuhan dengan teman kantornya. Pernikahan dan kehidupan mereka hancur. Tetapi berkat Icha jugalah, kebencian diantara mereka bisa diganti dengan cinta.
Kisah cinta keempat mengisahkan Restu (Irwansyah), seorang mahasiswa yang menjalani kehidupannya dengan santai dan riang, sampai pada satu ketika ia jatuh cinta pada pandangan pertama kepada Dinda (Laudya Cyntia Bella), wanita yang ia temui di bus Trans Jakarta. Kegigihan Restu mengejar cinta Dinda harus dibayar oleh kenyataan bahwa Dinda mempunyai penyakit serius yang bisa memisahkan cinta mereka selamanya.

Kisah cinta kelima mengisahkan Tere (Luna Maya), seorang penulis muda wanita yang jatuh cinta dengan Awin (Darius Sinartya), seorang karyawan sebuah toko buku yang mempunyai bakat menulis yang terpendam. Tere yang ingin membantu Awin mengembangkan bakat menulisnya sekaligus mencurahkan rasa cintanya dihalangi oleh sikap Awin yang tidak siap menerima perubahan baru dalam hidupnya. Ketika pada akhirnya Awin tersadar kalau sikapnya salah, hanyalah kekuatan cinta yang bisa merubah segalanya.
Menonton LoVe membuka wacana baru dalam perfilman nasional. Jika pada saat-saat ini kita banyak dijejali oleh komedi selangkangan, kisah cinta yang murahan, dan horror yang kehabisan ide, LoVe menjadi sebuah tontonan yang menyegarkan bagi penonton lokal. Walau dalam segi tema maupun cerita tidak bisa dibilang original, tetapi penyampaian cerita dalam film ini sangat mengena bagi siapapun yang menontonnya.

Kisah cinta yang diangkat, soundtrack yang sangat tepat untuk setiap adegan, puisi-puisi yang indah, susasana kota Jakarta dari kalangan bawah, menengah sampai atas terangkum lengkap dalam film berdurasi 120 menit ini. Tema cinta yang diketengahkan LoVe akan selalu menyadarkan kita bahwa cinta memang selalu menyertai kita setiap detik, setiap menit, setiap jam, setiap hari dalam rongga-rongga kehidupan. Love is all around. Sebuah film yang tepat jika kita masih mempercayai sebuah hal kecil bernama CINTA. Titis Sapto Raharjo 12 Juli 2008 1:38 AM   | Category: | Movies | | Genre: | Action & Adventure |
Timur Bekmambetov goes to Hollywood, and turns out GREAT! Full pack of action, comedy, twist, stunning visual effects, and last but not least, pure entertainment. Wanted bercerita tentang Wesley (James McAvoy), seorang pekerja kantoran yang selalu dihinggapi depresi berat baik dalam pekerjaannya maupun kehidupan pribadi-nya. Ditekan terus menerus oleh bosnya, mempunyai sahabat baik yang ternyata berselingkuh dengan pacarnya dan tinggal di apartemen yang penuh kebisingan karena bersebelahan dengan rel kereta api. Dia menggangap dirinya total loser sampai pada akhirnya ada rahasia terkuak bahwa Wesley bukanlah manusia biasa, dia adalah keturunan seorang pembunuh super yang disegani dalam grup The Fraternity. Adalah Fox (Angelina Jolie), seorang pembunuh wanita yang mengajak Wesley bergabung ke dalam The Fraternity pimpinan Sloan (Morgan Freeman), Wesley diberi tugas cukup berat, yaitu membunuh Cross, pembunuh yang mengakibatkan ayah dari Wesley tewas. Cross diburu oleh The Fraternity karena dianggap judas, keluar dari grup itu dan mulai melakukan aksi pembunuhan terhadap anggota Fratenity satu persatu. Wesley yang tidak terlatih sama sekali menjadi pembunuh mulai digojlok di markas Fraternity. Sampai pada akhirnya Wesley menjadi seorang pembunuh handal dan siap menghadapi duel melawan Cross, ternyata ada satu rahasia besar lagi yang terkuak dan mengejutkan Wesley. Apakah itu? You better watch it for yourself. Suatu twist yang menurut saya agak mengagetkan dan disimpan rapi sampai akhir film. 
Menonton Wanted tidak perlu dibawa serius, siapkanlah otak anak-anak anda ketika memasuki bioskop, dijamin sekeluarnya dari bioskop anda akan terpuaskan menonton film penuh aksi ini. Kesampingkanlah anggapan bahwa banyak sekali adegan yang tidak masuk akal dan nalar manusia, tontonlah layaknya film Superhero pada umumnya. Fun, entertaining and mind pleasure.

I WANTED for more!
Titis Sapto Raharjo 11 Juli 2008 16:33 PM
  | Category: | Movies | | Genre: | Other |
As a hardcore Beatles fans, I'm very satisfied! From beginning to end the film takes you on a psychedelic beatle ride that grips you by the ears, the heart and the soul and never lets go. Across the Universe is a love story and musical with creative interpretations of Beatles classics. No one can mix theater with film like Julie Taymor. An incredible experience! List of Beatles songs in this movie : 1. "Girl" 2. "Hold Me Tight" 3. "All My Loving" 4. "I Want To Hold Your Hand" 5. "With A Little Help From My Friends" 6. "It Won't Be Long" 7. "I've Just Seen A Face" 8. "Let It Be" 9. "Come Together" 10. "Why Don't We Do It In The Road?" 11. "If I Fell" 12. "I Want You (She's So Heavy)" 13. "Dear Prudence" 14. "Flying" 15. "Blue Jay Way" 16. "I Am The Walrus" 17. "Being For The Benefit Of Mr. Kite!" 18. "Because" 19. "Something" 20. "Oh! Darling" 21. "Strawberry Fields Forever" 22. "Revolution" 23. "While My Guitar Gently Weeps" 24. "Across the Universe" 25. "Helter Skelter" 26. "And I Love Her" 27. "Happiness Is A Warm Gun" 28. "A Day In The Life" 29. "Blackbird" 30. "Hey Jude" 31. "Don't Let Me Down" 32. "All You Need Is Love" 33. "Lucy In The Sky With Diamonds" I just cannot write a long review about this movie. Just watch it for yourself. I guarantee, you're gonna sing a lot during the movie. One of the best movie I've ever seen. 
If you're a Beatles fans, this movie is a MUST-SEE! If you're not a fans, then this movie will make you join the club, the Beatles Hardcore fans.
Close your eyes and I'll kiss you, Tomorrow I'll miss you; Remember I'll always be true. And then while I'm away, I'll write home ev'ry day, And I'll send all my loving to you.
Titis Sapto Raharjo 7 Juli 2007 12:24 PM
  | Category: | Books | | Genre: | Sports | | Author: | Sindhunata |
Filsuf Albert Camus dari Prancis pernah berkata, “Dalam hal keutamaan dan tanggung jawab akan tugas, saya belajar dan berhutang budi pada sepak bola.” Sepak bola memang sangat kaya dengan pelbagai aspek kehidupan. Tidak heran jika sepak bola juga bisa menjadi sumber refleksi dan permenungan. Kolumnis Thomas Grassberger mengenakan pelbagai refleksi para filsuf pada permainan sepak bola.
Setiap detik hidup adalah final, begitu kata Franz Kafka. Tidakkah bola adalah ekspresi ekstrem bagi pendapat Kafka tersebut? Atau kata Johann Wolfgang Goethe, “Lebih baik lari daripada bermalas diri.” Bukankah dengan sepak bola dinyatakan, bahwa manusia yang malas akan berlari akan kalah dan tertinggal? “Yang satu roboh, yang lain tegak megah. Dengan kepala, dengan kaki, ia meloncat. Ia bertahan, dengan menaruh kepala pada kakinya,” begitulah tulis Dante dalam Infernale Firenze. Tidakkah sepak bola adalah drama bagi kehidupan yang jatuh dan bangun itu
Dikuras bagaimanapun, sepak bola tetap bagaikan mata air yang takkan kering dan akan selalu meninggalkan wilayah yang tidak bakal habis ditimba. Sepak bola akhirnya menyisakan sebuah misteri, yang tidak mungkin dipahami. Mungkin itulah sebabnya, sepak bola mendekati sebentuk religiositas, yang oleh sebagian orang dikritik sebagai menggantikan dan mengkhianato keagamaan. Apa pun halnya, sepakbola akan tinggal sebagai misteri. Dan terhadap misteri ini, orang hanya bisa menyerah dengan perasaan romantis dan tergila-gila. Karena itu demikianlah kata sastrawan Inggris Nick Hornby, “Saya tergila-gila dan jatuh cinta pada sepak bola, seperti saya harus tergila-gila dan jatuh cinta pada wanita.”
Kata pengantar diatas saya kutip dari kata pengantar yang disampaikan Penerbit Buku Kompas di dalam buku Trilogi Catatan Sepak Bola Sindhunata. Dalam menyampaikan kata pengantar tersebut, Penerbit Buku Kompas juga mengambil informasi dan refleksi dari tulisan Romo Sindhu dalam Trilogi buku tersebut.
Bola di Balik Bulan, Air Mata Bola dan Bola-Bola Nasib adalah judul dari 3 buku Trilogi Catatan Sepak Bola yang diterbitkan atas keinginan banyak pembaca Harian Kompas berdasarkan tulisan Catatan Sepak Bola Romo Sindhu yang selalu hadir di halaman pertama harian tersebut. Kelebihan tulisan Catatan Sepak Bola Sindhunata dengan tulisan Catatan Sepak Bola jurnalis atau wartawan lainnya adalah bagaimana Romo Sindhu bisa menghubungkan sepak bola dengan dunia di luarnya. Ia bisa menulis sepak bola dalam hubungannya dengan isu kemanusiaan, sastra, filsafat, sejarah, musik, krisis ekonomi, politik dan segala hal lain di luar dunia sepak bola itu sendiri. Tulisan-tulisannya sungguh menginspirasi, memotivasi, dan sangat filosofis. Kita bisa melihat bahwa sepak bola itu kaya, indah, menarik, mengharukan, penuh tragedi, buram dan mempesona dalam berbagai aspeknya.
Sudah 4 tahun lamanya Trilogi buku ini bercokol di rak buku saya, dan sudah 4 tahun lamanya juga Trilogi buku inilah yang selalu saya ambil pertama kali dari rak tersebut ketika sudah tidak ada lagi buku yang menarik untuk saya baca. Trilogi buku inilah yang mengajarkan saya untuk menulis Catatan Sepak Bola versi saya sendiri secara mendalam dan filosofis. Trilogi buku inilah yang membuat saya jatuh cinta semakin dalam di dunia sepak bola, membukakan mata saya lebar-lebar bahwa di dalam sepak bola tersimpan seluruh rumus dan pelajaran dalam hidup ini.
Trilogi buku inilah yang membuat saya ingin mengatakan : “Romo, saya berhutang banyak kepada Romo atas ilmu-ilmu kehidupan yang telah Romo ajarkan melalui sepak bola walau hanya lewat tulisan-tulisan saja.”
Sepak Bola adalah kehidupan. Seperti yang dikatakan Romo pada salah satu catatan-nya :
”Hidup yang rutin ini tidak pernah memberikan intensitas kepada manusia. Sepak bola dapat memberikan pengalaman akan intensitas itu, bila bola berubah menjadi gol. Dari tadi orang menanti gol, ia tidak tahu kapan gol itu terjadi. Tiba-tiba gol itu terjadi tanpa terduga dan takkan dapat terulang lagi. Di sinilah bola membentur kehidupan yang kosong dan rutin. Dan dalam benturan itulah bola memberikan kebahagiaan.”
Titis Sapto Raharjo 25 Juni 2008 22:09 PM   | Category: | Movies | | Genre: | Foreign |
By far, the best movie of 2008! This movie has the entire requirement to become one of best movie in decade. Amazing plot, great acting, brilliant script, smart dialogue, hilarious yet tragic, dark comedy, very good drama, lots of swearing and last but not least, capture beautiful city of Bruges. In Bruges menceritakan tentang sepak terjang dua pembunuh bayaran (Ken & Ray) yg dikirim oleh bos-nya ke Bruges untuk menjalankan suatu misi. Sebelumnya mereka telah berhasil menjalankan tugasnya yaitu membunuh seorang pendeta. Ray yg tidak terlalu senang dengan kota Bruges terus mengeluh kepada Ken untuk segera cepat pergi dari kota itu. Ken yg usianya lebih tua terus membujuk Ray agar tetap disitu hingga mendapat tugas dari bos-nya, Harry. Bujukan Ken berhasil, apalagi ketika Ray berkenalan dengan seorang wanita penduduk lokal, Chloe dan seorang bintang film asal Amerika yg kerdil, Jimmy. Dengan adanya mereka, Ray menjadi sangat betah di Bruges. Permasalahan timbul ketika Ray terus dihantui masa lalu-nya pada sepanjang film. Potongan-potongan peristiwa yg membuat Ray bersalah terus muncul di kepala. Masalah mulai bertambah ketika Harry telah menelpon dan memberi suatu misi kepada Ken tanpa Ray boleh ketahui. Konflik batin berkecamuk dalam hati Ken, apakah ia harus menjalankan misi itu atau tidak, karena misi itu secara tidak langsung melibatkan Ray tanpa dia boleh tahu. Konflik itu semakin membesar hingga melibatkan Harry, sang bos, yg tadinya hanya memerintah lewat telpon akhirnya ikut turun tangan ke Bruges. Kelakuan Ray yg semakin tidak bisa dikontrol juga menimbulkan masalah di kota itu. Campur aduk masalah ini menghasilkan duel seru antar Ray-Harry-Ken. 
Apa sebenarnya masalah yg terjadi? Siapakah yg salah? Apakah keputusan yg akan diambil Ken? Mengapa Harry harus turun tangan? Bagaimana endingnya? You better watch it for yourself.
Seperti yg sudah saya katakan di awal tadi, In Bruges mempunyai seluruh persyaratan menjadi film BESAR. Film klasik yg akan terus diingat orang sepanjang masa. Keunggulan utama film ini adalah skrip yg brilian! Dialog cerdas ditambah humor segar yg sangat lucu tapi disertakan secara tersirat. Pembicaraan mengenai sejarah, politik, senjata, film, buku, orang-orang kerdil, bir, dan segala hal hadir dalam film ini. Bahkan sampai salah satu website menulis artikel : 100 Things You Learned While Watching “In Bruges”
Akting dari tiga pemeran utama juga patut diacungi jempol. Colin Farrell sebagai Ray memainkan karakter yg brutal tetapi masih mempunyai hati, Brendan Gleeson sebagai Ken memainkan karakter yg tegas, loyal, tetapi sebenarnya tidak tegaan dan lembut. Ralph Fiennes sebagai Harry aktingnya saya rasa paling menonjol dari yg lain, karena dia benar-benar menghayati perannya sebagai bos yg kejam, no mercy, menjunjung tinggi pride and honor, bertanggung jawab dan konsisten dengan perkataan yg dia omongkan.
Supporting actors, Jimmy (Jordan Prentice) dan Chloe (Clemence Poesy) juga memegang bagian yg sangat penting dalam film ini. Karakter yg mereka perankan akan terus diingat orang. Jimmy, seorang kerdil yg penuh ambisi dan pikiran-pikiran gila. Chloe, penduduk lokal yg senantiasa merampok para turis sekaligus penjual narkoba. Belum lagi pemeran pembantu lainnya seperti wanita hamil pemilik hotel, Marie. Bandar senjata, Yuri. Petugas Menara yg Saklek dan si Bodoh Mantan Pacar Chloe. Mereka mempunyai peran yg sangat penting dalam menunjang film ini. Tidak ada peran yg useless dalam In Bruges.

Sebuah debut film yg sempurna bagi sutradara Martin McDonagh yg dulu dikenal sebagai sutradara peraih piala Oscar dalam kategori film pendek terbaik tahun 2006 dengan filmnya Six Shooter.
Satu lagi keunggulan utama dari In Bruges adalah bagaimana kita bisa melihat keindahan kota Bruges baik di pagi, sore maupun malam hari. Kita akan merasakan tur singkat mengelilingi seluruh pelosok kota. Menengok bangunan tua yg dibangun berabad-abad yg lalu, masuk ke gereja tua yg sangat indah, sedikit belajar sejarah untuk mengetahui asal usul dan apa yg terjadi di Bruges, menaiki gondola menyusuri kanal layaknya di Venezia, melihat pemandangan seluruh kota dengan menaiki menara yg masuk dalam daftar a must see jika ke Bruges, menikmati bir asli Bruges, merayakan malam natal di tengah kota Bruges. Waw, sungguh suatu kota yg menawarkan banyak keindahan di dalamnya. Keindahan itulah yg membuat saya memasukkan Bruges sebagai salah satu kota tujuan yg musti saya singgahi sebelum saya mati.
Definitely, In Bruges masuk dalam jajaran film favorit saya sepanjang masa. If you like Fargo, The Matador, Kiss Kiss Bang Bang, Snatch and Lock Stock, and Two Smoking Barrels, then you must love In Bruges.
FYI, di IMDB, ratingnya 8,1. Untuk ukuran film baru dan independent, angka itu adalah peraihan yg sangat WOW. Kritikus ternama Roger Ebert memberi rating 4 bintang, bahkan rekannya Richard Roeper mengatakan bahwa In Bruges adalah film terbaik tahun ini, walaupun masih jauh dari akhir tahun.
So, what are you waiting for? Grab the DVD, watch it or you’re gonna regret for the rest of your life. I tell ya.
Titis Sapto Raharjo 25 Juni 2008 4:02 AM
  | Category: | Movies | | Genre: | Romantic Comedy |
Mungkin semua orang tahu bahwa rumus sederhana dari film komedi romantis ala Hollywood adalah hubungan antara pria-wanita yg kemudian menjadi sepasang kekasih + konflik di pertengahan film = Happy Ending. Ketika formula itu sudah diketahui oleh banyak orang tinggal bagaimana tugas sutradara, scriptwriter dan produser bisa meramu sebuah film bergenre komedi romantis agar para penonton bisa tetap duduk diam di kursi-nya masing-masing, menyaksikan keseluruhan film dan di akhir, penonton akan terhibur oleh jalannya film. Review yg dihasilkan baik, penonton mendapat suatu tontonan komedi romantis yg cerdas, tidak klise, ada pesan yg tersampaikan dan yg paling penting tidak menggangap film itu corny. Sungguh menjadi pekerjaan yg lumayan berat dikarenakan selain banyaknya saingan dari genre lain, penonton juga sudah mulai cerdas, mereka mulai melirik pasar diluar Hollywood yg notabene penuh dengan film-film bermutu dengan genre yg sama. Jika saya melirik ke awal tahun 2000, lumayan banyak film bergenre komedi romantis yg bermutu di Hollywood, entah karena mungkin cerita yg masih orisinil atau casting yg bagus. Kalau saya melirik lagi akhir-akhir ini, semakin sedikit film bergenre ini yg mempunyai kualitas diatas rata-rata, kebanyakan selalu gagal karena formula yg ditawarkan terlalu klise dengan jalan cerita mudah ditebak. Tapi disaat keterpurukan film bergenre seperti ini, Definitely, Maybe menyelamatkan muka Hollywood dengan sebuah sajian yg menurut saya patut disejajarkan dengan film komedi romantis awal tahun 2000 yg bermutu dan everlasting. 
Bercerita tentang William Hayes, pria berumur 30an yg bekerja di perusahaan periklanan dan mempunyai satu anak berumur 10 tahun, Maya. Will diambang perceraian dan harus berbagi hari dengan istrinya dalam mengasuh Maya. Pada hari yg sudah ditentukan, Will yg menjemput Maya di sekolah mendapati bahwa di hari itu ada pelajaran pendidikan sex untuk anak. Maya yg rasa ingin tahu-nya besar, terus menanyakan soal sex dan hubungan bapak-ibunya dahulu sampai akhirnya muncul Maya. Ia juga ingin tahu cerita bagaimana Will bisa bertemu dengan ibu-nya dan hubungan percintaan Will dengan wanita-wanita lain. Maka dimulailah Will flashback ke masa lalu bercerita tentang masa mudanya kepada Maya. Untuk menjaga bocornya cerita, Will memakai nama palsu untuk nama wanita-wanita yg diceritakan. Ini dilakukan agar Maya menebak siapakah diantara wanita-wanita yg Will ceritakan itu mengarah kepada sosok ibu yg melahirkannya.
Bagi saya, menonton Definitely, Maybe adalah suatu penyegaran. Komedi romantis yg cerdas, jalan cerita yg bagus dan dibungkus dengan chemistry yg apik oleh Will, Maya dan ketiga wanita yg ada di film. Bagaimana Will menceritakan hubungan masa lalu-nya membuat saya juga kembali flashback mengingat hubungan masa lalu saya. Di pikiran saya terbesit ide bahwa saya akan melakukan hal yg sama dengan Will jika kelak sudah mempunyai anak nanti. Akting dari Abaigail Breslin sebagai Maya patut diberi kredit, peran yg ia jalankan mampu membuat penonton tertawa dan gemas. Bumbu lain seperti politik, musik, buku, sastra yg ada di film ini juga mampu dibaurkan dengan baik. Ending yg dihadirkan cukup mengecoh walaupun tetap pada pakem yg sama, happy ending.

To sum it up, kelas film ini jauh diatas film-film sejenis ala Hollywood yg dirilis berbarengan seperti Made of Honor, 27 Dresses, What Happens in Vegas dan Fool’s God. Saya rasa 4 bintang patut diberikan dalam cakupan genre romantic comedy. Watch it on your spare time.
Titis Sapto Raharjo 20 June 2008 15:10 PM
  | Category: | Movies | | Genre: | Mystery & Suspense |
Ada perbedaan besar ketika M. Night Shyamalan kembali ke jalur favoritnya untuk mengubek-ubek rasa penasaran penonton di film terbarunya, The Happening dibanding memperjuangkan idealisme-nya untuk mengangkat cerita dongeng semasa ia kecil dalam Lady In The Water, yg notabene menimbulkan amarah dari para penonton karena memang tidak ada elemen penghibur yg sama sekali bisa ditawarkan,. Penonton murka karena dalam film itu semua dibiarkan mengambang, tidak ada kejutan apalagi mengharapkan akan ada rasa khas Shyamalan yg biasa diselipkan, Twist Ending. Lalu apa yg akan terjadi ketika Shyamalan sudah kembali ke jalur favoritnya ? Akankah ada rasa khas yg dulu biasa diselipkan ? Saya bahas dahulu sinopsis-nya. Film dibuka tanpa basa-basi, seluruh orang yg berada di kawasan Central Park terkena wabah virus yg aneh, mereka seperti kehilangan akal sehatnya dan mulai melakukan percobaan bunuh diri, lalu adegan berpindah ke kawasan konstruksi, dimana para pekerja bangunan menjatuhkan dirinya dari atas gedung. Untuk selanjutnya, fokus cerita diarahkan kepada Elliot Moore, seorang guru biologi yg mempunyai sedikit masalah rumah tangga dengan istrinya, Alma. Mereka diceritakan akan mengungsi ke kota lain untuk mengantisipasi terhindar dari wabah ini. Dengan ajakan sahabat Elliot, Julian, mereka berangkat menggunakan kereta api. Tapi perjalanan mereka tidak semulus yg dibayangkan. Wabah mulai menyerang hampir seluruh wilayah, kereta terpaksa diberhentikan. Julian yg membawa serta anaknya, Jess, mulai kehilangan kontak dengan istrinya, dengan terpaksa Julian yg ingin mencari tahu keberadaan istrinya harus berpisah dengan Jess dan menitipkannya kepada Elliot dan Alma. Mereka bertiga memulai perjuangan untuk bertahan hidup dari kejaran wabah yg mematikan ini. Apakah mereka akan bertahan tetap hidup ? 
Selesai menonton karya terbaru M. Night Shyamalan ini, saya langsung teringat satu film, THE MIST. Dari segi keseragaman tema cukup serupa, usaha manusia untuk menyelamatkan diri dan bertahan hidup dari sesuatu hal yg mengancam. Dari segi penggarapan sebuah film, saya sangat terhibur. Bagaikan makan gado-gado, kadang saya bisa ketawa ngakak, lalu kaget, nanti dibuat miris melihat kejadian-kejadian yg dialami para korban, dan yang paling akhir, saya sedikit banyak bisa belajar mengenai tumbuh-tumbuhan dan hal lain, walau saya tidak tahu ajaran dalam film ini sesat atau benar.
Tapi bagus atau tidaknya suatu film, tetap akan ditentukan oleh ending. The Mist berhasil membuat para penonton terhenyak, tapi untuk kasus The Happening, maaf tampaknya mayoritas penonton akan memilih untuk mencaci maki M. Night Shymalan daripada mengulik apa yg sebenarnya terjadi. Saya memang kecewa dengan ending yg ditampilkan tetapi dalam kekecewaan saya terdapat rasa penasaran setengah mati ingin mengetahui apa yg sebenarnya terjadi dalam film tersebut. Saya sendiri sebetulnya sudah mempunyai analisa-analisa tentang apa yg terjadi, tapi berhubung kesemua teman saya mengatakan film ini TOTAL CRAP dan tidak peduli lagi apa yg sebenarnya terjadi. Tinggalah saya sendiri bertanya :
What the HELL is HAPPENING ?
Titis Sapto Raharjo 12 Juni 2008 2:35 AM
  | Category: | Movies | | Genre: | Drama |
“Mungkin suatu hari nanti kita harus ngerampok bank trus kabur ke Mexico buat seneng-seneng. Disana kita mabok.. have sex. Mabok lagi.. Have sex lagi... Kayak gitu aja tiap hari. Ntar sisa duitnya kita pake buat naik haji deh, abis itu kita hidup lurus.. bersih.. Kamu pake jilbab ya, aku pake peci, trus ngurus anak, mati, masuk surga.” – Radit
“Eh gmana mau masuk surga.. Duit naik haji-nya aja hasil rampokan.” – JaniPenggalan dialog itu memperkenalkan kita kepada pasangan suami-istri yang hidup dengan hanya berlandaskan modal cinta semata, Radit dan Jani. Mereka menjalani kehidupan sehari-harinya dengan cinta yg kuat walau selalu dihinggapi masalah. Ditambah mereka tidak mempunyai penghasilan tetap, dan menjalani gaya kehidupan yg tidak sehat. Pertanyaannya apakah bisa dengan kehidupan seperti itu, mereka akan bertahan ? Radit adalah seorang total loser, seorang laki-laki yg tidak bisa memperjuangkan tekadnya untuk menghidupi seorang yg sangat ia cintai demi kepentingan pribadinya. Disaat Jani menanti kejutan yg dijanjikan Radit, eh dia malah menghabiskan uangnya untuk nyuntik. Disaat Jani mendapatkan sesuatu untuk menghidupi kesehariannya bersama Radit, gara-gara hal konyol, hilanglah sesuatu itu dalam sekejap. Disaat Jani menyampaikan berita bahwa ia mengandung, Radit dengan kasar memaki-maki Jani karena dianggap sudah melacurkan diri. Dan ketika akhirnya Radit rela merendahkan dirinya untuk melakukan apa saja demi Jani, karma datang untuknya. Kesempatan membahagiakan Jani itu hilang dalam sekejap lenyap. Jani adalah wanita sejati. Wanita yg menganut prinsip setia sampai mati kepada suami-nya walau sang suami tidak memberikan apa yg ia inginkan, alih alih malah sering mengecewakannya. Jani terus berada disisi Radit dalam keadaan apapun. Jani rela diinjak-injak harga dirinya untuk terus berada disamping Radit. Jani rela melakukan apapun untuk menghidupi mereka berdua. Jani sampai melawan keluarganya demi untuk Radit. Jani bahkan berkata : hanya Radit yg bisa membuatnya bahagia untuk selamanya. 
Bahagia mungkin iya. Tapi untuk selamanya ? Simak saja film besutan sutradara spesialis genre anak muda, Upi Avianto. Film ini dengan gamblang menceritakan pahitnya kehidupan pasangan muda dalam membina kehidupan mereka walau dilandaskan dengan cinta yg kuat. Ternyata modal cinta saja tidak cukup. Masih bisalah kalau cinta tetapi realistis, nah ini tidak. Mereka berdua terkenal sangat idealis. Menjalani kehidupan dengan idealisme-nya sendiri. Sudah pasti akan memperparah kehidupan mereka. Maka ketika di akhir cerita, Radit akhirnya memilih untuk realistis, maka sebuah kenyataan hiduplah yg tersaji. Ending yg sempat membuat saya merasakan ada sedikit kaca-kaca di mata saya. Lumayan membuat terenyuh. Menyiratkan sesuatu, bahwa untuk hidup diperlukan pengorbanan. Pengorbanan itu timbul demi cinta, walau pada akhirnya pengorbanan itu jugalah yg akan mengalahkan cinta.
Titis Sapto Raharjo 3 Juni 2008 1:30 AM
  | Category: | Movies | | Genre: | Drama |
“A movie that will make every man cries”Mungkin agak terlambat bagi saya untuk menyaksikan film yg berlabel Best Picture pada tahun 1988. Tapi untuk sebuah film, apalagi sebuah mahakarya yg diganjar banyak penghargaan dan piala, ditambah review bagus dari para kritikus, saya rasa tidak ada kata terlambat. Rain Man bercerita tentang Charlie Babbit, self centered pig and egocentric kind of man, mendapat kabar berita bahwa ayah kandungnya telah meninggal dunia. Dikarenakan ia sangat membenci ayahnya dan sudah lama tidak berkomunikasi, ia tidak merasakan kesedihan apapun mendengar berita itu. Setelah menghadiri pemakaman ayahnya, ia lalu segera membereskan urusan mengenai warisan yg ditinggalkan ayahnya itu demi tambahan modal untuk bisnis mobil yg ia jalani. Betapa terkejutnya ia ketika hanya mendapatkan mobil tua dan semak mawar sebagai warisannya, sementara uang 3 juta dollar jatuh kepada sebuah Rumah Sakit Jiwa bernama Walbrook. Tidak terima dengan hal itu (dikarenakan ia merasa hanya dialah anak ayahnya), ia segera mendatangi Walbrook untuk mengetahui mengapa ayahnya menyumbangkan uang sebesar itu kesana. Yang membuat dia semakin terkejut adalah fakta bahwa ia mempunyai seorang kakak yg mengidap penyakit autis akut dan dirawat di rumah sakit tsb. Ternyata warisan jatuh ke tangan kakak kandungnya itu yg bernama Raymond Babbit. Charlie yg egois dan licik tidak terima dengan hal itu, ia menginginkan setidaknya setengah dari uang Raymond masuk ke rekeningnya. Maka dengan tidak mengindahkan saran dari dokter, ia membawa kabur Raymond guna mengupayakan merebut haknya itu. Rupanya Charlie tidak mengetahui kalau penyakit Raymond adalah penyakit yg serius, Raymond tidak bisa diperlakukan layaknya seperti orang biasa. Dia akan memberontak jika hal yg rutin diperbuatnya tidak dijalankan, seperti senin makan pizza, selasa makan ikan, atau jam 5 harus menonton kuis favoritnya, jam 11 sudah harus tidur, dan hal-hal rutin lainnya. Charlie yg tadinya tidak tahan dengan kelakuan kakaknya itu, akhirnya mengalah demi iming-iming uang yg akan didapatnya. Perjalanan dari Ohio ke Los Angeles yg harusnya ditempuh dalam waktu 3 jam saja menggunakan pesawat terbang, terpaksa menggunakan jalan darat karena Raymond takut terbang. Dalam perjalanan menuju Los Angeles itulah hubungan antara kakak dan adik yg saling tidak mengenal ini terjalin. Charlie mulai paham dan mengerti hal-hal apa saja yg dibutuhkan Raymond, begitu juga sebaliknya, Raymond mulai menurut apa kata adiknya, termasuk mendapatkan uang banyak di kasino Las Vegas dengan kejeniusan menghitung kartu yg dipunyai oleh Raymond. Di akhir cerita, Charlie berubah menjadi pribadi yg jauh lebih baik dibanding ketika pertama bertemu Raymond, ia tidak lagi mengincar uang warisan ayahnya, ia sudah tidak lagi terpaksa menuruti dan menyediakan kebutuhan Raymond, ia benar-benar menyayangi kakak-nya itu selayaknya saudara kandung adanya, malah ia tidak rela Raymond kembali ke Walbrook, dia ingin menjaga dan merawat Raymond. Sebuah kisah yg sangat menginspirasi sekaligus mengharukan bagi siapapun yg menontonnya. 
Setelah menonton film ini, banyak pelajaran yg bisa dipetik oleh kita sebagai manusia yg normal dan diberi fisik maupun mental yg sempurna. Bahwa kita tidak boleh melupakan manusia seperti Raymond di muka bumi ini, mereka ada dan mereka juga harus diperlakukan layaknya manusia normal walaupun mental mereka terganggu. Kita sebagai manusia normal harus sabar jika menghadapi orang seperti Raymond, karena dengan kesabaran itulah mereka bisa mengerti bahwa kita memperlakukan mereka dengan layak. Di film ini perlu waktu seminggu penuh untuk Charlie menyadari bahwa ke-egoisan dia selama ini tidak ada apa-apanya dibandingkan penderitaan yg dialami kakak kandungnya sendiri.
Tidak heran film ini mampu merebut 4 piala Oscar sekaligus pada tahun 1988, Best Screenplay, Best Director, Best Picture dan Best Actor untuk Dustin Hoffman. Akting Hoffman di film ini sungguh meyakinkan semua orang bahwa ia adalah seorang penyandang autis akut, sungguh suatu akting yg sempurna dan mungkin hanya bisa disetarakan oleh Al Pacino dalam film Scent of a Woman yg juga merebut Oscar untuk Best Actor. Kredit juga musti diberikan kepada Tom Cruise yg dengan hebat memerankan seorang egois, mau menang sendiri menjadi seorang yg hatinya bisa luluh juga dan pada akhirnya menjadi manusia yg bisa menerima kekurangan orang lain.
Walau sudah 20 tahun beredar, tampaknya film ini akan terus dikenang menjadi salah satu film terbaik sepanjang masa.
Titis Sapto Raharjo 20 May 2008 07:11 AM
  | Category: | Movies | | Genre: | Drama |
Diangkat dari International best-seller novel karya Khaled Hosseini yg berjudul sama, sutradara muda berbakat, Marc Foster yg dikenal dengan karya-nya Monster’s Ball dan Finding Neverland mencoba menjadikan The Kite Runner menjadi sebuah film yg tidak kalah hebatnya dengan versi novel. Yang menjadi pertanyaan adalah : Apakah dia berhasil meramu film ini dengan baik ? Sejujurnya saya tidak berhak menilai ini dikarenakan saya belum membaca novelnya, tetapi boleh dikatakan Marc Foster hampir berhasil membawa saya sebagai penonton untuk hanyut dalam kisah yg disajikan dalam Kite Runner ini. Hampir ? Ya, karena menurut saya film ini berhasil menyentuh saya sampai 1,5 jam pertama, selebihnya emosi yg disampaikan kurang menonjol sehingga terlihat pada bagian penyelamatan Sohrib terkesan dipaksana dan terburu-buru. Sebelum saya membahas lebih lanjut, sebaiknya saya paparkan dulu cerita dalam film ini. The Kite Runner bercerita tentang dua sahabat yg mempunyai kegemaran bermain layangan. Amir, pandai menerbangkan layangan dan handal memutuskan layangan lawan, sementara Hassan, mempunyai keahlian mengejar layangan yg putus. Selain bermain layangan, kedua sahabat ini juga tidak bisa dipisahkan dalam menjalani kehidupan sehari-harinya. Amir dan Hassan tinggal di rumah yg sama dengan status yg berbeda. Amir, adalah anak dari seorang kaya, sementara Hassan adalah anak dari pembantu di rumah tersebut. Konflik terjadi ketika Amir secara tidak sengaja mendengar pembicaraan Baba, ayahnya dengan asisten pribadinya, Rahim. Baba mengatakan bahwa Amir tidak punya keberanian, berbeda dengan Hassan yg tangguh. Diam-diam, Amir mulai iri terhadap Hassan, ditambah ada suatu kejadian dimana Amir melihat Hassan secara brutal dipukuli dan diperkosa oleh gerombolan anak-anak liar, disaat itu Amir tidak melakukan apapun untuk melindungi Hassan. Entah karena motif apa, Amir mulai memusuhi Hassan, puncaknya ketika Amir memfitnah Hassan mencuri arloji-nya. Hassan dan ayahnya memutuskan keluar dari rumah Amir. Tidak berapa lama, Uni Sovyet mulai menduduki wilayah Afghanistan dan memaksa Amir dan ayahnya untuk mengungsi. Singkat cerita mereka tinggal ke Amerika, Baba membuka usaha menjaga pom bensin dan sebuah kios, sementara Amir mulai meneruskan keinginan-nya untuk menulis sebuah novel walaupun Baba tidak terlalu suka dengan pilihan Amir dan berkeinginan agar Amir menjadi seorang dokter. Amir lalu berhasil menerbitkan novel pertama-nya sekaligus menikah dengan putri bekas seorang jendral di Afghanistan yg juga berteman baik dengan Baba. Ketika kehidupan Amir berjalan dengan baik bersama istrinya, tiba-tiba Amir mendapat sebuah telpon dari Rahim, yg mengatakan bahwa ia harus pulang ke Afghanistan untuk suatu keperluan penting. Dari situlah diketahui bahwa ada rahasia besar tersembunyi yg disimpan Baba yg membuat Amir menyesali perbuatannya dahulu. Kepulangan Amir ke kampung halaman juga untuk membayar segala kesalahan yg pernah ia perbuat terhadap Hassan. There’s a way to be good again.
Jujur, menikmati akting Amir kecil dan Hassan kecil adalah momen terbaik dalam film ini, ketika melihat kedua sahabat ini saling mengisi hari demi hari, juga melihat Hasssan yg begitu baiknya berkorban apa saja demi Amir namun pada akhirnya Amir membalasnya dengan semena-mena. Pengorbanan Hassan-lah yg bisa menyentuh saya, penyesalan dan penebusan dosa Amir di akhir film saya kira menjadi kurang setimpal dan sangat terlambat untuk dilakukan. Apalagi ditambah di 30 menit akhir film ini menjadi titik paling lemah, kurang maksimal dalam mengubek-ngubek perasaan saya, dan terkesan dipaksakan (terlihat pada sangat mudahnya Amir menyelamatkan Sohrab). Adegan yg membuat perasaan saya diaduk-aduk adalah ketika dalam perjalanan pengungsian Baba dan Amir, truk mereka dicegat oleh tentara Soviet, dan tentara itu meminta wanita dalam truk itu untuk “dipakai” terlebih dahulu baru truk diperbolehkan melintas perbatasan. Sungguh adegan yg memilukan.
Ada satu quote yg masi terngiang-ngiang di kepala saya sampe saat ini, ketika perbincangan Rahim kepada Baba yg bersikukuh agar Amir mengikuti kemauan-nya, Rahim berkata bahwa seorang anak bukanlah sebuah buku mewarnai yg bisa kita warnai sesuka kita, tetapi anak itulah yg akan mewarnai-nya dengan warna-nya sendiri.
Despite ada sedikit kekurangan, saya tetap tersenyum selesai menonton The Kite Runner, sebuah film yg mengajarkan kita akan pentingnya nilai persahabatan dan kekeluargaan di dalam diri setiap manusia. Ahh saya jadi penasaran membaca buku-nya. Ada yg mau meminjamkan novelnya atau memberi link e-book-nya ?
Titis Sapto Raharjo 20 May 2008 04:12 AM
  | Category: | Movies | | Genre: | Drama |
Di dalam sebuah industri film, hanya sedikit sutradara yg mampu mengangkat sebuah cerita soap opera (atau disini biasa disebut sinetron) yg serba klise menjadi sebuah film yg jempolan dan menarik untuk disimak sampai akhir. Salah satu sutradara yg mampu melakukan hal itu adalah Susanne Bier, sineas berbakat asal Denmark. Bier mampu menghadirkan sebuah film hebat yg menurut saya seandainya diproduksi di Indonesia akan menjadi salah satu sinetron dengan episode yg paling banyak dengan banyaknya konflik yg dihadirkan. Dan tentu saja mendapat rating yg tinggi namun buruk dalam hal penceritaan, maksudnya akan terlihat jelas konflik sangat dibuat-buat dan terkesan mengada-ada. Untungnya, After the Wedding diramu dengan formula yg berbeda sehingga cerita yg tadinya terlihat klise menjadi sebuah kekuatan utama dalam film ini. After the Wedding dimulai ketika Jacob, sukarelawan yg bekerja untuk sebuah panti asuhan di wilayah kumuh India, Mumbai dihadapkan oleh sebuah masalah dimana ia harus mencari dana agar panti asuhan yg dijalankannya tidak ditutup yg pada akhirnya akan membuat ratusan anak disitu akan kembali ke jalanan liar lagi. Dalam kebingungannya, Jacob menerima berita baik ketika seorang milyuner asal Denmark, Jorgen tertarik untuk menyumbangkan uangnya ke panti asuhan tersebut, namun Jacob harus bertemu langsung dengan Jorgen di Denmark. Jacob yg tadinya sangat idealis tidak mau berangkat untuk menemui Jorgen akhirnya mengalah demi keadaan. Jacob akhirnya menemui Jorgen untuk memberikan proposal dan video tentang keadaan panti asuhan itu. Disaat itu pula, Jacob diundang menghadiri acara pernikahan putri dari Jorgen. Ketika semua tampak berjalan dengan lancar, konflik datang disaat yg tidak terduga. Jacob yg datang seorang diri ke pesta pernikahan itu bertemu seseorang dari masa lalu yg tidak diduga-duga adalah istri dari Jorgen, masalah lebih besar lagi datang ketika dalam pernikahan itu ada sebuah rahasia terkuak yg melibatkan Jacob. Nah ketika itulah konflik mulai akrab terjalin dalam film ini. Ketika satu masalah tampaknya sudah terpecahkan, tiba-tiba timbul masalah baru yg lebih parah, semua serba tersambung yg mengakibatkan penonton akan sadar bahwa betapa klise-nya masalah-masalah itu bisa muncul dalam waktu yg bersamaan, dan berhubungan satu dengan yg lain. 
Tetapi ingat apa yg saya bilang di awal tadi, Susanne Bier mampu meramu semua ke-klise-an ala Soap Opera itu menjadi sebuah suguhan drama yg apik dan membuat penasaran penonton apa jalan keluar dari masalah-masalah itu, dan apa pemicu-nya. Semua itu akan terjawab di akhir film dengan sangat memuaskan, tanpa ada suatu hal yg dipaksakan. Disitulah jawaban mengapa After the Wedding menjadi salah satu film drama terbaik tahun 2006, meraih nominasi Oscar untuk Best Foreign Movie dan mendapat banyak penghargaan di berbagai festival film.
Oiya perlu dicatat, pemeran utama dalam film ini, Jacob adalah Mads Mikkelsen yg notabene memerankan Le Chiffre, villain (penjahat) dalam film James Bond terakhir, Casino Royale. Sama seperti perannya di Casino Royale, Mads bermain sangat meyakinkan di film ini. 3 aktor dan aktris utama lain juga bermain layaknya bintang besar. Great acting ! Great roles ! Great storyline, and last but not least, Superb Directing!
Titis Sapto Raharjo 20 May 2008 01 : 43 AM
  | Category: | Movies | | Genre: | Science Fiction & Fantasy |
An adventure of a lifetime.Diangkat dari novel laris karya Neil Gaiman, Stardust mengisahkan tentang seorang anak muda bernama Tristan yg rela memasuki gerbang dunia lain yg sebenarnya terlarang untuk dimasuki demi mengejar bintang jatuh yg akan dipersembahkan untuk kekasih hati-nya. Secara tidak ia duga, bintang yg dia cari itu adalah seorang wanita yg nanti-nya akan merubah jalan hidupnya. Seorang wanita yg diperebutkan oleh 2 kubu atas kepentingan yg berbeda-beda. Kubu penyihir memerlukannya agar mendapatkan kehidupan yg abadi, sedangkan kubu pewaris tahta kerajaan memperebutkannya untuk mendapatkan kalung yg dipakainya. Tristan yg tadinya tidak mengerti apa-apa menjadi terlibat dalam petualangan seru dan menemukan sebuah rahasia yg membuatnya harus menjaga dan melindungi Yvaine (wanita bintang). Masih ingatkah dulu ketika kita kecil, sebelum tidur seringkali kita didongengkan suatu cerita atau mungkin mempunyai cerita sendiri dalam kepala yg membuat kita berkhayal setinggi-tingginya ? Dimana kita bebas memikirkan apa saja yg ada di alam khayal kita itu, sesuatu yg tidak irasional akan tampak rasional, berpetualang ke tempat-tempat yg kita khayalkan sendiri, bertemu beragam hal dengan bermacam bentuk yg kita pikirkan sendiri, dan banyak khayalan lainnya. Begitu juga dengan menonton film ini. Stardust memberikan kita waktu untuk kembali ke alam khayal kita, sejenak melupakan dunia nyata untuk berpetualang bersama Tristan mengarungi dunia Stardust. Dengan didukung oleh aktor-aktris papan atas Hollywood, visual efek yg canggih, cerita yg seru, joke-joke yg segar dan dialog-dialog yg menyimpan pesan moral, rasanya berada 2 jam dalam dunia Stardust boleh dikatakan kurang. Ingin rasanya terlibat terus dalam dunia fantasi buatan sutradara Matthew Vaughn. Suatu sensasi yg sudah lama saya tidak rasakan ketika menonton film bergenre fantasi. Terakhir saya merasakan sensasi yg sama dengan Stardust adalah ketika saya menonton karya apik buatan Tim Burton, Big Fish. 
Diluar petualangannya yg mampu membuat kita seakan melupakan sejenak beban hidup di dunia nyata ini, ada satu perkataan dari Yvaine yg membuat saya tersenyum, yaitu ketika ia mengatakan :
You know when I said I knew little about love? That wasn't true. I know a lot about love. I've seen it, centuries and centuries of it, and it was the only thing that made watching your world bearable. All those wars. Pain, lies, hate... It made me want to turn away and never look down again. But when I see the way that mankind loves... You could search to the furthest reaches of the universe and never find anything more beautiful. So yes, I know that love is unconditional. But I also know that it can be unpredictable, unexpected, uncontrollable, unbearable and strangely easy to mistake for loathing, and... What I'm trying to say, Tristan is... I think I love you. Is this love, Tristan? I never imagined I'd know it for myself. My heart... It feels like my chest can barely contain it. Like it's trying to escape because it doesn't belong to me anymore. It belongs to you. And if you wanted it, I'd wish for nothing in exchange - no gifts. No goods. No demonstrations of devotion. Nothing but knowing you loved me too. Just your heart, in exchange for mine..
Yvaine mencoba mengungkapkan bahwa sebenarnya umat manusia sudah melupakan apa arti cinta itu sesungguhnya yaitu ketika kita mencintai seseorang dan seseorang itu mencintai kita balik, tanpa imbalan, tanpa motif tertentu, murni timbul dari hati yg tulus dan tidak bisa dibeli berapapun harganya.
Aktor yg saya kira patut diganjar sebagai pemeran terbaik dalam film ini adalah Robert de Niro, dia bisa memerankan dua sosok sekaligus, satu sosok sebagai captain Shakespeare yg tegas terhadap anak buahnya, dan satu sosok yg tidak anda duga sebelumnya. Lebih baik anda menonton sendiri, saya tidak mau membocorkannya.
So, do you ready having an adventure of a lifetime? Please welcome to the world of Stardust.
Titis Sapto Raharjo 4 May 2008 23 : 30 PM.
     | Iron Man | Apr 29, '08 1:57 PM for everyone |
 | Category: | Movies | | Genre: | Action & Adventure |
What do you expect from a superhero movie ? Lots action, less romance and powerful villain ? Yes, you got it. Iron Man provides it all.
Please welcome, Tony Stark, a mechanical genius, playboy businessman and CEO of a major weapons manufacturer whose family motto is, “Peace means having a bigger stick”. But when a trip to Afghanistan goes explosively wrong, he’s mortally wounded and captured by Talibanish baddies. So he hatches a hi-tech escape plan, which also gives birth to his ironclad, wrong-righting alter ego, IRON MAN !
--- SPOILER ALERT ---
Sepulangnya dari mimpi buruk selama ditawan di Afghanistan, Tony berubah menjadi manusia yg berbeda. Dalam konferensi pers, ia menyatakan ingin menyetop produksi senjata di perusahaannya dan berhenti total dari bisnis senjata. Tangan kanan ayahnya, Obadiah Stane, menentang hal itu dan segera mengambil alih perusahaan kemudian segera mengumumkan kepada pers bahwa semua yg dikatakan Tony kmarin dibawah pengaruh depresi akut yg dideritanya semenjak kepulangannya dari Middle East.
Setelah diumumkan berita itu, Tony mengurung diri dalam basement rumah mewahnya di Malibu untuk mengerjakan proyek yg bisa membebaskan dirinya selama dalam tawanan. Dibantu dengan komputer super canggih, sekretaris pribadi-nya, Pepper Potts dan beberapa asisten robotnya, Tony berhasil menyempurnakan outfit alter ego-nya, IRON MAN.
Kesempurnaan outfit ini diantaranya adalah kemampuan senjata magnetic dalam tangan dan dada-nya untuk menghancurkan apa saja, kemampuan untuk terbang sampai melebihi kecepatan cahaya melalui mesin jet yg terdapat dalam kaki-nya, kemampuan mendeteksi segala sensor, mengenali target dan apa saja yg ada di hadapannya melalui bantuan komputer super canggih yg dihubungkan melalui pelindung kepala-nya, dan kemampuan untuk menyimpan beberapa senjata kecil yg bisa ditembakkan pada waktu terdesak dalam armor-nya.
IRON MAN kemudian “memperkenalkan” dirinya kepada public melalui pertarungan terbuka dengan 2 U.S. Air Force F-22, kemudian ia kembali ke tempat dimana ia ditawan dulu untuk menghancurkan segala persenjataan yg ada disitu, sampai pada akhirnya melawan giant IRON MAN, Obadiah yg ternyata pada akhir film diketahui bahwa ia terlibat dalam bisnis senjata dengan teroris Afghanistan, dimana Tony ditawan dulu. Pertempuran Obadiah dan Tony menjadi klimaks film Iron Man edisi pertama ini. --- END OF SPOILER ALERT ---
Menonton Iron Man, tidak seperti menonton film-film superhero seperti biasanya, mungkin karena Iron Man adalah superhero yg tidak mempunyai kekuatan natural layaknya Spiderman atau Superman, melainkan seorang manusia biasa. Iron Man lebih logis untuk dicerna di otak karena konflik yg ada memang menjadi isu dalam dunia nyata hingga saat ini, Politik dan Perang. 1 Jam pertama film menurut saya malah lebih menonjol ke political thriller dibanding film superhero karena diceritakan bagaimana intrik dalam dunia politik antara USA dan Timur Tengah, selain itu memaparkan bagaimana bisnis persenjataan dalam perusahaan Tony Stark.
Setelah itu kita baru akan dibawa ke petualangan Tony dan alter ego barunya, Iron Man untuk melihat kehidupan sehari-harinya. Banyak adegan yg memancing tawa ketika Tony pertama kali mencoba outfit Iron Man. Ada juga kisah cinta terpendam dalam diri Tony dan sekretaris pribadi-nya, Pepper Potts. Cuma yg membedakan adalah porsi drama dalam film ini sangatlah sedikit jika kita membandingkan romance antara MJ – Peter Parker atau Clark Kent – Louis Lane. Itu yg menurut saya membuat film ini mendapat poin lebih.
Yang membuat iri semua penonton pastilah fasilitas yg dimiliki Tony dalam kehidupan sehari-harinya. Komputer super canggih, tempat tinggal mewah diatas bukit, robot-robot yg siap membantu Tony kapan saja, mobil super canggih, dan gadis-gadis cantik yg otomatis menempel tanpa diundang Tony. Tetapi ada nilai moral yg bisa dipetik dalam film ini bahwa fasilitas-fasilitas wah itu ternyata tidak membuat Tony melupakan bahwa ia sesungguhnya membutuhkan kehadiran seorang manusia untuk membuat hidupnya menjadi komplit sekaligus membantunya dalam keadaan terdesak ketika ia menjadi Iron Man.
Kehadiran sahabat Tony, Jim Rhodes merupakan perkenalan yg baik untuk karakter Rhodes yg nantinya tangan kanan Iron Man dan mempunyai nama War Machine yg mungkin akan ditampilkan pada sequel berikutnya. Oiya perlu dicatat, akting Robert Downey Jr. sangat maksimal dalam memerankan Tony Stark dan Iron Man. Dia betul-betul mendalami karakternya sebagai Tony.
Inti-nya, Iron Man adalah sebuah film superhero yg komplit. 2 jam dalam bioskop tidak membuat saya bosan karena cerita dipaparkan mengalir dengan baik. Sedikit plot hole mengenai political things dan hal-hal yg tidak masuk akal bisa dikesampingkan koq. Just enjoy the movie for fun.
Film ini ditutup dengan sebuah pernyataan Tony yg membuat saya tertawa dan berkata : Baru tau gue ada Superhero yg NARSIS !
Can’t wait for the Sequel !
Titis Sapto Raharjo 29 April 2008 22.30 PM   | Category: | Movies | | Genre: | Drama |
Debut penyutradaraan sutradara muda berbakat asal Mexico, Alenjandro Gonzales Inarittu yang tenar dengan film 21 Grams dan Babel dimulai dengan sebuah film brilian yang kalau diartikan dalam bahasa Inggris adalah Love’s a Bitch.
Film ini dibagi dalam 3 cerita dimana kesemua-nya melibatkan anjing sebagai karakter pendukungnya.
Cerita pertama mengenai Octavio (diperankan sangat apik sekali oleh Gael Garcia Bernal) yang mempunyai obsesi terpendam terhadap Susana, istri dari Ramiro, kakak Octavio yang berkepribadian buruk dan terlibat dengan berbagai macam aksi kriminal. Misi Octavio adalah membawa kabur Susana dengan segala macam cara, sampai pada akhirnya secara tidak sengaja ia menemukan bahwa anjingnya, Cofi, mempunyai bakat dalam perkelahian antar anjing. Maka dengan Cofi, Octavio mengeruk uang banyak dan semakin dekat meraih impiannya untuk pergi dengan Susana. Namun, apa lacur rencana indah Octavio hancur berantakan dengan kenyataan pahit di akhir cerita.
Cerita kedua mengenai seorang produser televisi yg tega meninggalkan istri dan anaknya untuk berselingkuh dengan Valerie, seorang model popular di Mexico. Daniel bahkan menyewakan sebuah apartemen untuk Valerie dengan pemandangan papan billboard besar yang memperlihatkan Valerie di sebuah iklan parfum. Ketika semuanya terasa indah untuk mereka berdua, kejadian buruk terjadi. Valerie mengalami kecelakaan, kaki-nya harus diamputasi dan memaksa untuk mengakhiri karir modelnya. Depresi Valerie semakin berasa ketika sikap dari Daniel yang mulai berubah, diperparah dengan anjing kesayangannya Richie tersesat ke kolong-kolong lantai apartemennya. Mimpi indah Valerie hancur dalam sekejap.
Cerita ketiga mengenai El Chivo, seorang gelandangan yg diam-diam berprofesi sebagai pembunuh bayaran professional. El Chivo hidup di sebuah gudang bersama sekumpulan anjing-anjing jalanan. Setelah ditelusuri, dahulu dia adalah orang terpandang di Mexico, seorang professor. Hidupnya hancur karena terlibat aksi pemberontakan sehingga membuatnya dipenjara. Ia juga mempunyai seorang anak perempuan yg selama ini tidak mengetahui kalau ayah kandungnya adalah El Chivo. Pada akhir cerita, ada 2 kejadian penting yg merubah hidup El Chivo.
Amores Perros mengangkat tema yang sangat dalam di kehidupan manusia sehari-hari, bahwa setiap perbuatan yg kita lakukan, baik ataupun buruk pada akhirnya akan melahirkan suatu ganjaran yg setimpal. Film ini juga mengingatkan kita bahwa sebagai manusia hendaknya selalu memikirkan terlebih dahulu perbuatan yg akan kita lakukan dengan pikiran yg jernih dan otak yg waras. Jangan sampai kita hanya dikendalikan oleh hawa nafsu, uang dan kekuasaan, layaknya binatang yg dalam film ini digambarkan pada tokoh seekor anjing.
Tapi diluar pesan-pesan itu, menurut saya pesan terpenting yg coba disampaikan oleh Inarittu adalah kita sebagai manusia tidak boleh mengabaikan worst case scenario dalam kehidupan ini. Kita boleh punya beribu rencana, tapi kalau Tuhan berkata berbeda, bisa berbuat apa kita selain pasrah dan menghadapi kenyataan yg ada ?
Sebuah film yg mampu membuat kita berpikir dan berbuat lebih bijak dalam menghadapi kehidupan ini. A Masterpiece from Alejandro Gonzales Inarittu !
Titis Sapto Raharjo 23 April 2008 03 : 53 PM   | Category: | Movies | | Genre: | Action & Adventure |
New Experience of Watching Movie !
Hanya kata itu yg bisa saya sematkan sehabis menonton film ini. Yap, setelah era Blair Witch Project yg ramai dibacarakan dan banyak mengundang tanya banyak orang apakah film itu berdasarkan rekaman kejadian nyata atau itu memang hanya film yg dibuat, sekarang hadir suatu film yg dari cara pengambilan gambarnya serupa dengan Blair Witch Project yaitu melalui handycam dan yg menonton “dipaksa” menjadi orang pertama bukan orang ketiga seperti film-film pada umumnya.
Film ini bercerita tentang sekumpulan anak muda yg menggelar pesta perpisahan kejutan untuk salah satu temannya yg akan berangkat ke Jepang, disaat pesta berlangsung, terjadi gempa bumi yg cukup dasyhat mengakibatkan pesta mereka terganggu. Penasaran apa yg terjadi, mereka berhamburan ke atap apartemen untuk mengetahui kondisi dan situasi kota New York. Ternyata gempa bumi itu berbentuk sebuah monster besar yg sedang menyerang NY dan mengakibatkan kekacauan dasyhat. Salah satu dari mereka, Hud, kebetulan ditugaskan untuk merekam seluruh momen dalam pesta itu melalui handycam.
Nah melalui handycam yg dipegang oleh Hud inilah, kita seakan dibawa masuk ke dalam cerita untuk merasakan secara dekat momen-momen yg terjadi selama monster itu menyerang kota. Bagaimana mereka mencoba menyelamatkan diri, merasakan kepedihan yg dalam ketika beberapa diantara mereka terbunuh tragis, melihat perjuangan Robert untuk menyelamatkan wanita yg sebenarnya ia sangat cintai, Beth, juga kita akan menyaksikan bagaimana monster itu merusak dan menghancurkan New York dan banyak kejadian-kejadian seru yg semua-nya terangkum dalam Handycam itu.
Menonton Cloverfield bagi saya adalah pengalaman yg baru dalam menyaksikan sebuah film, di dalam setiap film pasti kita akan menjadi orang ketiga, nah dalam film ini kita diajak untuk menjadi orang pertama sepanjang film, medium-nya adalah sebuah kamera Handycam yg memang tidak stabil pergerakan pengambilan gambarnya. Ketidakstabilan itu mengakibatkan banyak scene yg bergoyang-goyang dan tidak jelas apa yg mau di-shoot. Bagi yg tidak biasa dengan pengambilan gambar seperti ini pasti akan merasakan pusing dan mual karena ya itu tadi, kita biasa disuguhkan sebagai orang ketiga dalam film. Tapi bagi yg biasa bermain game First-Person, pengambilan gambar seperti ini lumrah ada-nya, malah kita bisa seperti merasakan menjadi karakter utama dalam film itu.
Bagi saya, film ini sangat menghibur, or I just say : AWESOME ! Salah satu film terbaik di tahun 2008. Ketegangan yg dialami oleh para pemeran film ini bisa saya rasakan sepenuhnya. Dan perlu saya tambahkan, dalam menonton Cloverfield, usahakan anda berpikir bahwa anda tidak hanya akan menonton sebuah film, tetapi menonton hiburan yg mampu membuat anda masuk ke dalam film tersebut.
Film ini wajib ditonton di bioskop, karena sound effect dan suasana yg terbangun ketika menonton Cloverfield dirancang untuk sasaran theatre audience. Sayangnya, penonton Indonesia belum terbiasa dengan film seperti ini sehingga sungguh mengenaskan melihat banyak 21 memutuskan untuk menyetop pemutaran film ini. Padahal dengan adanya Cloverfield, penonton kita bisa diajak merasakan pengalaman baru dalam menonton sebuah film di bioskop. Mungkin yg kurang hanya kacamata 3-D kali ya, biar lebih kerasa.
Oiya bagi yg anti naek Rollercoaster atau wahana-wahana yg buat pusing di Dufan atau theme park lainnya, TIDAK DISARANKAN menonton film ini ! I'm warning you, guys ! Daripada nanti-nya jelek2in film ini, mendingan gausah nonton.
Titis Sapto Raharjo 29 February 2008 2:58 AM   | Category: | Movies | | Genre: | Drama |
Dua kalimat yg bisa saya berikan setelah menonton film ini adalah : Life’s a BITCH. Reality Bites. Here's the review : Ketika kita melihat perjalanan karir seorang Ben Affleck, maka kita melihat akan seorang aktor yg secara kualitas aktingnya jauh dibawah tingkat kepopuleran dirinya muncul menghiasi majalah gossip di Hollywood. Film yg dibuatnya bersama J-Lo, mantan tunangannya dulu, Gigli, dicaci maki oleh hampir seluruh kritikus film, bahkan film itu termasuk dalam daftar film paling buruk yg pernah dibuat. Ben tampaknya sadar betul bahwa kualitas aktingnya sudah tidak bisa menolongnya lagi bertahan di industri film Hollywood, maka dengan cepat ia banting stir ke posisi dibalik layar alias sutradara. Film pertama yg disutradarai-nya berjudul Gone Baby Gone, sebuah film yg diangkat dari novel karya Denis Lehane (penulis Mystic River). Film ini mengambil setting di sebuah kota kumuh di kawasan Boston, sebuah kawasan yg keras dimana narkoba, kriminal, dan kekerasan sudah menjadi bagian hidup di kota itu. Fokus cerita diarahkan kepada sebuah keluarga yg baru saja kehilangan seorang anak perempuan yg berumur 4 tahun, Amanda.. Diduga Amanda sebagai korban penculikan. Ketika polisi sudah menangani kasus-nya, pihak keluarga tampak tidak puas dan menyewa satu pasangan muda yg bekerja sebagai private detektif, Patrick Kenzie dan Angie Genaro (dimainkan oleh Cassey Affleck dan Michelle Monaghan). Pasangan itu bekerjasama dengan dua polisi bagian detektif, Nick dan Remy Bressant untuk mencari dan mengungkap penculikan Amanda. Dan ketika kasus penculikan ini terkuak dan sudah tertangani, Patrick dan Angie menemukan sebuah fakta baru yg membuat mereka tersentak dan memulai penyelidikan baru yg penuh twist, dilemma, kenyataan hidup dan pertentangan batin dibalik kasus penculikan Amanda tersebut. 
Menonton Gone Baby Gone adalah suatu pengalaman baru dalam menonton sebuah film, saya sendiri sudah lupa kapan terakhir saya menonton film seperti ini, dimana film itu baru dimulai ketika inti masalah itu sudah terpecahkan.
Untuk jajaran cast, Cassey Affleck, Michelle Monaghan, Morgan Freeman, Ed Harris dan Amy Ryan bermain secara maksimal. Kualitas acting mereka sudah tidak perlu diragukan lagi, walau peran yg dilakoni Ed Harris lebih menonjol dibandingkan Morgan. Cassey Affleck mencuri perhatian dengan keberanian dan logat Boston-nya. Amy Ryan patut diberi kredit lebih di film ini karena mampu menunjukkan akting yg luar biasa menjadi ibu yg tidak patut dijadikan panutan.
Dan lebih hebatnya lagi, Ben Affleck sebagai sutradara mampu membuat film ini menjadi sangat berbobot dan penuh twist yg tak terduga sebelumnya. Saya sendiri tidak menduga endingnya akan mengejutkan. Ben, please make more movie. You're very good being a director, not as an actor.
Pesan moral yg disampaikan juga sangat dalam. Film ini mengajarkan kepada kita bahwa apa yg selama ini kita anggap benar belum tentu berujung kepada kebaikan, dan apa yg selama ini kita anggap salah belum tentu berujung kepada keburukan.
This is a film which will leave you pondering in a cross junction, as you question your beliefs on what is right, what is wrong, what is goodness and what isn't. By its end, you may realize there will never be any easy answers.
Titis Sapto Raharjo 27 February 2008 04 : 48 AM
  | Category: | Music | | Genre: | Pop | | Artist: | Efek Rumah Kaca |
Apakah terlalu muluk-muluk jika saya memberi julukan kepada band ini sebagai : BAND PENYELAMAT BANGSA !
Saya kira tidak, karena setelah mendengarkan keseluruhan track dari album debut mereka yg diberi titel nama band mereka sendiri, saya menemukan suatu pengalaman musik yg sudah lama tidak saya rasakan ketika mendengarkan album-album musisi atau band lokal akhir-akhir ini. Pengalaman musik yg WOW ! Mungkin terasa hampir sama sensasi-nya ketika saya mendengarkan album SORE - Centralismo beberapa tahun yg lalu.
Efek Rumah Kaca bukan hanya berhasil membuat suatu musik yg brilian, tetapi lewat lirik-lirik cerdas dalam lagu-lagu di album ini (catat : semua lirik berbahasa Indonesia), mereka berhasil membuka mata kita lebar-lebar bahwa kehidupan di masa sekarang sudah jauh melenceng dari jalur kehidupan bermanusia normal. Semua serba bergantung dan terseret dengan arus teknologi, konsumerisme dan urban culture. Mereka bisa menyebarkan pesan-pesan penuh makna tanpa terkesan menggurui. Mereka dengan bebas mengkritisi hal-hal yg sudah berjalan tidak semestinya dengan sangat brilian melalui lirik-lirik yg sederhana namun mengena.
Dalam album perdana-nya ini, Efek Rumah Kaca mengangkat hampir semua topik di kehidupan lewat lagu-lagunya.
Di lagu Belanja Terus Sampai Mati, mereka dengan gamblang memaparkan bagaimana tingkat konsumerisme masyarakat urban sudah mencapai titik yg sangat meresahkan. ”Atas bujukan setan, hasrat dan terjebak zaman ”Kita belanja terus sampai mati”
Di lagu Cinta Melulu mereka mengkritisi band-band lokal (atas tuntutan pasar) yg makin kesini makin gemar membuat lagu bertemakan cinta dengan melodi dan lirik yg sangat komersil. “Lagu cinta melulu Kita memang benar-benar Melayu Suka mendayu-dayu Lagu cinta melulu Apa memang karena kuping Melayu? Suka yang sendu-sendu”
Di lagu Di Udara, mereka mendedikasikan lagu ini untuk almarhum Munir, seorang pahlawan di dunia perpolitikan Indonesia yg akhirnya harus “dihilangkan” demi kepentingan negara. Aku bisa diracun di udara Aku bisa terbunuh di trotoar jalan Tapi aku tak akan pernah mati Tak akan berhenti Aku bisa dibuat menderita Aku bisa dibuat tak bernyawa Dikursilistrikan ataupun ditikam...”
Album ini ditutup oleh sebuah lagu penenang hati berjudul Desember. Mendengarkan lagu ini seakan kita terbawa terbang ke dunia baru dimana semua terlihat lebih cerah, damai dan membawa kita hanya memikirkan hal yg positif saja. Lagu yg membuat pikiran saya terawang-awang dan diakhiri dengan senyum kecil. “Seperti pelangi setia menunggu hujan reda Aku selalu suka sehabis hujan di bulan Desember Di bulan Desember... Sampai nanti ketika hujan tak lagi Meneteskan duka meretas luka Sampai hujan memulihkan luka...”
Sebuah album yg bisa membuat bulu kuduk saya merinding. Sebuah album yg mampu membuat saya terharu bahwa industri musik Indonesia akan kembali terselamatkan oleh mereka di tengah serbuan band-band yg tidak jelas junjrungannya. Sebuah album yg mampu membius saya untuk menjadikan mereka salah satu lokal favorit saya sepanjang masa. Sebuah album yg memaksa saya untuk bersabar demi menyaksikan aksi panggung mereka secepatnya.
Sebuah album yg fantastis.
Titis Sapto Raharjo 15 Februari 2008 04:55 AM   | Category: | Movies | | Genre: | Romance |
Sebelum gue tadi nonton, banyak review yg bilang kalo film remake ini jelek banget dan ga seharusnya dibuat remake-nya menyusul film asli-nya yg kata orang-orang sih keren banget pada jaman dulu. Bahkan soundtrack dari film asli-nya menjadi album nomor 1 dalam jajaran list 150 album Indonesia terbaik versi majalah Rolling Stone Indonesia.
Setelah nonton film ini gue jadi penasaran sama versi asli film ini. Ya masuk akal sih kalo bagus, jalan cerita-nya mantep. Diangkat dari novel Marga T, Badai Pasti Berlalu berkisah tentang Siska (Rahainuun) yang baru saja patah hati setelah dikhianati kekasihnya. Lalu, datanglah Leo (Vino G.Bastian) yang mendekati Siska hanya demi taruhan dengan teman-temannya. Siska yang akhirnya tahu, merasa dikhianati sekali lagi dan akhirnya memilih menikah dengan Helmy (Winky) yang ternyata menikahi Siska demi motif uang dan menjatuhkan keluarga Siska. Setelah tahu kelakuan Helmi dan dipicu oleh kematian anaknya, akhirnya Siska kembali lagi ke Leo.
Gue musti setengah setuju sama review2 buruk itu, menurut gue filmnya lumayan bagus. Cacatnya mungkin di beberapa scene lompat-lompat ga jelas, jadi buat bingung yg nonton ini film koq kepotong-potongnya ga jelas gini. Bagusnya sih udah jelas, dari segi cerita dan dialog2 yg lumayan bisa diinget sampe skrg, walaupun ga sedikit juga dialog jaman skrg yg cheesy. Vino kyknya yg dapet jatah banyak dialog2 garing. Winky aktingnya mantep dan natural padahal dia dapet peran antagonis. Raihaanun standar aja, ga bisa dibilang the next Dian Sastro juga nih cewe.
Oiya untuk cewe yg lagi patah hati, disaranakan untuk tidak menonton film ini, krn bisa fatal akibatnya. Kalo iya bisa survive kyk Siska, kalo ngga ? Bisa gawat.
Ya berhubung saya penggemar film-film drama romantis tidak klise dan lumayan berbobot macem gini, jadi agak semangat juga buat review-nya, karena jarang-jarang aja Indonesia punya film dengan tema begini, ada sih cuma pasti sangat sangat klise, ceritanya dangkal dan ke-ABG-ABG-an.
Satu hal yg gue bisa simpulkan setelah nonton film ini adalah quote jadul jaman dulu : Kalo emang jodoh, ga bakal lari kemana. Hehehe.   | Category: | Movies | | Genre: | Action & Adventure |
Jika pada Jiffest tahun lalu, Little Miss Sunshine berhasil membuat banyak orang berdecak kagum, Jiffest tahun ini menawarkan rasa yg sedikit berbeda. No Country for Old Men berhasil membuat orang sampai membicarakan film ini tiada habisnya dari segala aspek bahkan banyak sekali yg rela menonton ulang sebuah film mahakarya Coen Brothers ini. Film ini sendiri diangkat dari novel yg dibuat oleh pemenang penghargaan Pulitzer, Cormac McCarthy.
Film ini bercerita tentang seorang cowboy (Moss) yg menemukan tas berisi lembaran uang berjumlah 2 juta dollar diantara sekumpulan mayat-mayat bandar narkoba dari Mexico yg tewas secara mengenaskan. Belakangan diketahui, ada seseorang pembunuh psikopat berdarah dingin (Chigurh) yg berkeliaran di kota itu untuk mengincar uang tersebut. Dia tidak segan-segan membunuh korbannya dengan cara yg tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Disaat Moss membawa kabur uang yang ia temukan, ia merasa tidak nyaman dalam kehidupannya dan memilih untuk pergi sejauh mungkin, karena ia tahu sudah tidak aman lagi jika harus berdiam diri. Ternyata dugaan Moss memang tepat, dia dijadikan sasaran utama Chigurh dan para gangster Mexico karena uang yg ia bawa itu. Di saat yg bersamaan, seorang sheriff senior (Bell), juga mengetahui tentang kejadian ini namun penyelidikannya selalu tertinggal satu langkah dibelakang Moss, Chigurh dan para gangster Mexico itu. Pada akhirnya, uang berhasil diamankan, nasib Moss dan Chigurh sama sialnya, dan sheriff itu akan memberi penjelasan yg membuat kita mengerti mengapa film ini diberi nama No Country for Old Men.
Setelah menonton No Country for Old Men saya seperti mendapat suatu pengalaman baru dalam menonton sebuah film. Baru karena film ini menyajikan sesuatu yg berbeda baik dari segi cerita maupun penyampaian setiap karakter.
Kita dengan jelas bisa membagi 3 karakter utama dalam film ini : - Moss : cowboy, protagonis, manusiawi, berkehidupan layaknya manusia pd umumnya. - Chigurh : antagonis, pembunuh sadis berdarah dingin, tidak kenal belas kasihan, tidak pandang bulu dan tidak punya rasa kemanusiaan sama sekali. - Sheriff Bell yg memang sudah sangat senior dan sarat pengalaman dalam pekerjaannya tetapi sudah bukan jamannya lagi mengatasi penjahat seperti Chigurh.
Dan dari segi cerita, film ini benar-benar SUPERB. Kenyataan bahwa shit can happens all the time, tidak pandang siapapun. Kita yg tadinya mungkin sudah menebak jalannya cerita dengan berandai-andai, misalnya Moss akan mati ditangan Chigurh akan menemukan kejutan lain. Sesuatu yg terjadi pada Moss dan Chigurh di akhir film adalah sesuatu yg kita tidak pernah bisa bayangkan akan terjadi kalau mengikuti jalan cerita yg disampaikan film ini. You know, shit just happens.
Satu hal lagi yg bisa dipelajari dari film ini adalah hidup seperti dua sisi mata koin, persis permainan Chigurh dalam beberapa adegan yg menentukan nyawa dari lawan bicara-nya, jadi dalam hidup selalu ada sisi baik dan sisi jahat yang selalu selaras berdampingan.
Hal lain yg bisa dibahas dalam film ini adalah kalau yg namanya uang bisa merusak segala jenis manusia. Semua berjuang sampai mengorbankan nyawa demi satu hal yg bernama uang. Penggambaran bahwa manusia seperti apapun ujung2nya akan kalah dan tunduk kepada uang sangat jelas dipaparkan, ketika inti dari cerita ini adalah pengejaran terhadap uang 2 juta dollar itu, dan ada beberapa scene lain yg bisa diambil contoh, seperti : - 3 anak muda mata duitan yg dengan tega masih tawar menawar dengan Moss yg sudah sekarat di perbatasan Mexico. - 2 anak kecil yg tadinya tidak mengharapkan uang apapun dari Chigurh tetapi ketika diberi uang, mereka berdua berebutan minta jatah masing-masing. - 4 pengamen Mexico, yg mengamen kepada Moss yg sedang tidur + sekarat, ketika diberi uang 100 dollar yg penuh darah mereka tetap menerimanya karena jumlahnya yg besar.
Membahas No Country for Old Men sepertinya tidak cukup dalam beberapa paragraf, masih banyak aspek-aspek lain yg bisa dikembangkan untuk akhirnya diperbincangkan dan didiskusikan. Satu hal yg pasti, film ini komplit. Enough said.
List number one on my top ten movie of 2007.
Titis Sapto Raharjo 21 Desember 2007 
| |